Editorial The Coconut Revolution: Melawan Embargo Hingga Kemenangan Ismael Toroama

The Coconut Revolution: Melawan Embargo Hingga Kemenangan Ismael Toroama

-

Kita baru saja menyaksasikan terpilihnya Ismael Toroama seorang kombatan militer Angkatan Darat Bougenville menjadi Presiden Bougenville pertama pada September 2020. Referendum pergelaran untuk menentukan nasib sendiri secara politik juga baru dilakukan tahun lalu, 2019. Itu artinya status Pemerintahan Otonomi Bogenville sesuai kesepakatan antara Tentara Revolusi Bougenville (BRA) dan pemerintah Papua Nugini sejak 2000 telah berakhir dengan sangat indah.

Yang paling menarik dari berdirinya negara merdeka, dikawasan Pasifik tersebut adalah terbentuknya BRA hingga mampu mengusir perusahan-perusahaan tambang dan mampu bertahan dari serangan Militer PNG atau militer bayaran selama kurun waktu 10 tahun. BRA dideklarasikan berdiri 1988 dan aktif berperang sejak 1989. Untuk diketahui Bersama bahwa kehadiran BRA dan cita-cita kemerdekaan Bougenville sebagai negara merdeka lebih dahulu diserukan pada 1975. Alasan utama semangat pemisahan Bougenville menjadi sebuah negara yang ada dua faktor, pertama yang berasal dari budaya dan geografis yang condong ke Kepulauan Salomon. Berikut adalah dampak buruk dari kehadiran berbagai perusahaan pertambangan milik Australia bernama Conzinc Rio Tinto. Kehadiran perusahaan tersebut tidak hanya merusak lingkungan,

The Coconut Revolution oleh BRA

Setelah mendeklarasikan diri pada 1988 BRA mulia aktif melakukan penyerangan-penyerangan terhadap basis-basis perusahaan tambang disana. Upaya itu dilakukan bahkan tidak dengan persenjataan modern tetapi tradisonal, seperti busur dan anak panah. Aksi tersebut berhasil menimbulkan gangguan berarti terhambatanya operasi pertambangan. Perdana Mentri PNG saat itu Sir Rabbie Namaliu memerintahkan Angkatan bersenjata PNG (PNGDF) yang bertanggung jawab dalam keamanan disana tidak tinggal diam, melakukan penyerangan dan operasi secara brutal. Dalam catatan 10 tahun revolusi bahkan Ribuan orang telah meninggal dunia dari keduabela pihak, terbesar adalah rakyat sipil Bougenville.

Sebagai satu kawasan utama ekonomi di PNG Bougenville jawaban sebagai masalah nasional serius. Pemerintah PNG bahkan melakukan blokade total pulau Bougenville dengan beberapa kapal angkataan laut. Berharap aktivitas blokade ini menjadi peringatan dan juga mematihkan aktifitas sipil dan militer oleh BRA. Tidak ada aktivitas impor dan eksport di Boungenville. Itu artinya tidak ada sekolah, tidak ada rumah sakit, tidak listrik. Pemerintah PNG berharap aktivitas ini dapat membuat jerah gerakan pemberontakan oleh BRA, juga mengatur perundingan-perindungan damai. Namun terbukti beberapa kali perundingan damai gagal.

Keputusan PNG yang diambil sebagai embargo ekonomi sosial politik membuat rakyat menjadi kreatif dalam memanfaatkan sumber daya manusia dan alam yang dimiliki. Mulai dari aktivitas yang memberdayakan, membangun rumah sakit, sekolah-sekolah, mengalirkan listrik untuk pemukiman dengan sumber daya yang mereka temukan sendiri.

Sebuah video dokumenter yang disutradarai oleh Dom Rothreroe yang dipublikasi pada 2001 dengan judul “The Coconut Revolution” memberikan gambaran tentang bagaimana gerakan revolusi bertahan menghadapi blokade oleh PNG. Video berdurasi 52 menit itu menjelaskan bagaimana BRA menjadi rakyat ujung tombak perlawann Bougeniville. Ditengah kepungan militer PNG baik lautan, darat bahkan udara sekalipun, eksistensi BRA jauh dari dugaan yang diharapkan PNG. Yaitu sebuah kondisi memprihatinkan karena putusnya semua akses di wilayah itu. BRA berhasil memanfaatkan kekayaan alamnya untuk menjadi bahan utama yang diperlukan selama masa blokade disana yaitu buah kelapa.

Pengeloaan buah kelapa menjadi minyak dijadikan sebagai bahan baku utama revolusi. Selain sebagai minyak untuk memasak, sabun mandi dan mencuci penduduk, pelumas bagi senjata, hingga bahan yang paling maju adalah minyak kelapa yang digunakan sebagai bahan bakar untuk menjalankan berbagai kendaraan, menghidupkan genset, generator, untuk mengaliri listrik, dipemukiman utama. Seperti markas militer, rumah sakit dan gereja. Selam 10 tahun ini BRA mengkonsolidasikan seluruh rakyat untuk memanfaatkan alamnya, menjadikan sumber utama makan rakyat, dengan membuka lahan secara luas-lahan perkebunan, menanami semua kebutuhan seperti sayur mayur, umbi-umbian, bawang, dan sebagainya.

Era Menuju Kebebasan

Gencatanan senjata pertama antara BRA dan Pemerintah PNG pada 1991 mengalami kegagalan. Pemerintah PNG bahkan meminta-minta secara resmi angkatan bersenjata, pemasok tentara bayaran untuk ikut terlibat dalam penumpasan BRA, namun tetap gagal. Berikut perundingan pada 1997 yang dimediasi oleh Selandia Baru darisana secara bertahap hingga pada 2000 sebuah resolusi penting dari pertikaian “antara saudara” tersebut. Yaitu Bougenville menjadi satu pemerintahan Otonomi sendiri, dimana pemerintahan ini sebagai sebuah perjalanan menuju sebuah negara independen. Pada 2005 pemilihan presiden otonomi pertama di Bougenville dan merencanakan proses referendum baru pada 2019 mendatang. Hingga akhirnya proses referendum berhasil dilakukan pada 2019 dengan rakyat Bougenville menginginkan berdaulatan secara politik.

Setahun kemudian tepatnya September 2020 ini kita menyaksikan lahirnya seorang pemimpin dari negara baru dikawasan Melanesia pasifik yaitu Ismael Toroama seorang pemimpin revolusioner penting dari Melanesia abad 21 ini. Sekedar diketahui bahwa kemenagan Islamael dalam proses ini adalah sebuah percaya diri dari kegagalan sebelumnya, dimana Ismail diketahui mengalami kegagalan dalam Proses pemilihan Presiden Pemerintahan Otonomi Bougenville sebelumnya.

Setelah kemenangan ini tentu saja tanggungjawab Ismael adalah melanjutkan cita-cita mulia perjuangan itu, yaitu masyarakat yang sejahtera, adil tanpa penindasan.

Referensi:

https://www.dailymotion.com/video/x2x5eul

https://suarapapua.com/2020/09/26/toroama-akhirnya-dilantik-sebagai-presiden-bougainville /

Redaksi Lao-Lao
Teori pilihan dan editorial redaksi Lao-Lao

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Proklamasi 14 Desember 1988: Aktualisasi Visi Zending I.S.Kijne Untuk Kemerdekaan Orang Papua

Tulisan ini tidak bertujuan mendegradasikan peristiwa politik 1 Desember...

Memaknai Kembali Peristiwa 1 Desember: Berjalan Bersama Rakyat

Saat ini kita sedang merayakan kembali kemenangan rakyat Papua yang tertunda pada 1 Desember 2021. Pertanyaannya, bagaimana seharusnya kita...

Refleksi untuk Perempuan Papua di Hari Anti Kekerasan Perempuan

Oleh Vo Nguyen Giap Mambor Catatan Saya di Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan: Bahan Reflektif untuk Perempuan-Perempuan Tanah (Papua) “... merupakan...

Mengenal Asal-Usul dan Kebudayaan Masyarakat Suku Arfak

Kebudayaan merupakan seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya...

Kritik Bendera Bukan Romantisme dan Fanatisme: Tanggapan Atas Tulisan Musell Muller

Ketika saya menulis artikel Bintang Satu VS Bintang 14: Sebuah Kritik Terhadap Gerakan saya sudah sangat yakin bahwa tulisan...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan