Analisa Harian Bangun Kepemimpinan Revolusioner di Papua

Bangun Kepemimpinan Revolusioner di Papua

-

Kepemimpinan adalah kunci dalam gerakan untuk revolusi. Pada momen penentuan revolusi kemenangan atau kekalahan bisa di tentukan hanya oleh sekelompok kecil orang kecil relatif dengan jumlah massa luas yang ada di depan. Seperti yang telah terjadi pada tahun 1990 oleh Partai Rakyat Demokratik (PRD), bukanlah partai massa. Ia adalah sebuah partai kecil, tetapi kekecilannya di kompensasi oleh satu fakta bahwa dalam barisannya terkumpul elemen-elemen mudah dan buruh terbaik yang paling berani dan paling maju kesadaran kelasnya. Kepemimpinan revolusioner memainkan peran yang jelas jauh lebih besar dari pada ukuran organisasi rillnya dan mengusung gagasan yang paling maju untuk mencapai target tertentu.

Kenapa penting membangun kepemimpinan revolusioner di Papua? Kita bisa lihat bagaimana gerakan kiri di Indonesia pada momentum 1998. Ketika massa luas mulai bergerak, PRD tersapu dan akhirnya hancur berkeping-keping dalam satu proses kematian yang panjang. Apa yang perlu kita menjadikan sebuah referensi untuk West Papua dari sini? Sekali lagi saya tegaskan disini yang terutama dan mendesak kita harus membangun partai revolusioner jauh hari sebelum revolusi tiba. Ia harus di bangun pula di atas fondasi gagasan, program, metode, dan tradisi yang tepat, yakni sosialisme ilmiah yang telah di perkaya dengan pengalaman perjuangan atau tradisi kebudayan masyarakat adat Papua.

Tidak ada jalan pintas untuk membangun kepemimpinan revolusioner ini, tetapi ia harus di bangun mulai sekarang. Mengancam segala bentuk kebijakan tidak cukup dengan melawan, tetapi harus di tumbangkan dengan praktek yang revolusioner: yang melawan kapitalisme, kolonialisme, militerisme dan membangun sosialisme di Papua.

Sistem ekonomi yang berdasarkan kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi oleh segelintir orang dan pasar bebas ini harus di ganti dengan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi yang di jalankan secara demokratik oleh rakyat pekerja dengan ekonomi terencana inilah tugas historis kita. Untuk membangun jalan real  yaitu, kepemimpinan revolusioner untuk mengarahkan massa menuju bergerak melakukan perlawanan terhadap segala bentuk penghisapan.

Tugas kita juga mengorganisir kelas tertindas di Papua. Seluruh rakyat pekerja dalam memenuhi tugas revolusioner ini adalah kelas petani, nelayan, kaum miskin kota, dan kaum buruh tradisional, sebagai kelas yang sesungguhnya memegang basis ekonomi.

Massa Siap Berjuang

Kita harus terlebih dahulu menarik satu kesimpulan paling penting dari gerakan reformasi 1998 dan pengalaman dalam 5 bulan terakhir, yakni kapasitas massa untuk berjuang menuju revolusi. Berulang kali rakyat telah menunjukkan keberanian mereka. Kitong tidak hanya bicara gerakan massa dalam 5 bulan terakhir di Papua saja, tetapi jauh sebelumnya dari perjuangan massa yang muncul di tahun 1961-1971  hingga detik ini rakyat Papua berdarah-darah menolak segala bentuk penjajahan di tanah Papua.

Ketika rakyat bergerak tidak ada satupun benteng kokoh yang bisa merintangi mereka.Tetapi lagi dan lagi, kapasitas revolusioner ini menguap dan gerakan revolusioner terhenti di tengah jalan hanya mampu meraih kemenangan parsial, menyurut, dan bahkan harus mengambil langka mundur. Ini bukan karena massa tidak siap berjuang, tetapi karena kurangnya kepemimpinan yang dapat mangajukan slogan dan program aksi yang tepat agar gerakan mencapai tujuan akhirnya. Namun tidak jarang kita temui organisasi gerakan di Papua terutama gerakan kiri justru menyalahkan rakyat akan kegagalan gerakan seperti ‘rakyat kesadaran kelasnya rendah, mereka tidak paham revolusi …” dan berbagai alasan lainnya.

Rakyat Papua tidak bisa bergerak setiap saat. Setelah memasuki arena perjuangan dalam skala massa dan mencoba mengubah nasip mereka lewat perjuangan kolektif, energi mereka akan terkuras habis kalau tujuan mereka tidak tercapai. Semangat perjuangan rakyat Papua bukanlah sebuah sumur dalam tanpa dasar, yang bisa di timba kapan pun kita inginkan. Namun ketika rakyat mengambil langka mundur, mereka tidak mundur begitu saja. Mereka merenungkan apa saja yang baru terjadi, menarik sejumlah pelajaran dari pengalaman mereka akan lebih berhati-hati ketika memasuki arena perjuangan lagi di hari depan.

Disini tugas kepepimpinan revolusioner menjadi sangat penting. Alih-alih menjadi pesimis dan terserat arus demoralisasi, tugas kepepimpinan revolusioner adalah mengambil pelajaran-pelajaran yang di perlukan, menarik mundur pasukannya dengan teratur, menyelamatkan elemen-elemen terbaik dari demoralisasi, bahkan kalau perlu dengan meluncurkan perjuangan ideologis tajam guna memotong elemen-elemen buruk yang menjadi beban mati gerakan. Yang belakangan ini sangat penting karena terlalu sering aktivis-aktivis lama yang sudah demoralisasi karena kegagalan gerakan sebelumnya menjadi halangan terbesar bagi bangkitnya kembali gerakan. Perjuangan pembebasan nasional  Papua Barat musti menyatukan dalam kerangka membangun satu bentuk real kepepimpinan revolusioner untuk menyatukan elemen-elemen muda termaju yang paling radikal dan militan. Yang terpenting dan menjadi ukurun gerakan adalah percaya diri dalam melancarkan serangan-serangan terhadap berbagai bentuk penindasan.

Kepemimpinan Revolusioner Harus Bangun di Papua

Kita tidak bisa mengharapkan perjuangan pembebasan nasional melalui jalur diplomasi melalui PBB. Dalam sejarah, kemenangan kaum terjajah, terorganisir, dan revolusioner tidak pernah lewat PBB tetapi  perjuangan rakyat tertindas itu sendiri dari aksi massa sampai perjuangan bersenjata. Orang- orang lama yang menggunakan pola-pola lama berharap melalui jalur PBB untuk pembebasan bangsa Papua merupakan tipu muslihat. Perjuangan pembebasan nasional Papua adalah ancaman bagi kepentingan modal asing, maka kita juga perlu kritis terhadap pendekatan yang bersandarkan pada dukungan dari apa yang kerap di disebut ‘Komunitas Internasional‘. Kalau yang di maksud adalah menggalang dukungan rakyat pekerja di negeri-negeri lain maka ini adalah metode yang efektif. Solidaritas rakyat pekerja yang tertindas adalah senjata yang kuat dalam melawan penjajahan di muka bumi.

Hukum Internasional tidak menjamin pembebasan suatu wilayah hanya dengan perlawanan rakyat dan solidaritas rakyat pekerja yang dapat memaksa dan memastikan hukum-hukum internasional untuk diterapkan. Bangsa yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran HAM tidak akan terjawab di dalam negara kolonial. Gerakan pembebasan tidak bisa mengharapkan kemenangan dalam hukum kolonial, hukum cuma berlaku sesuai keinginan kolonial, mesin-mesin rezim penjajah dibangun secara sistematis lewat pendidikan, sistem birokrasi yang diperketat dengan sistem militer, situasi ini harus di sadari oleh para pejuang HAM dan gerakan pembebasan nasional Papua Barat, agar mempersiapkan kepemipinan revolusioner serta strategi dan model perjuangan yang baru. Model perjuangan yang menempatkan rakyat sebagai posisi strategis untuk diorganisir, dididik, dilatih, dan di berikan ruang sebesar-besarnya untuk membangkitkan semangat perlawanan yang lebih strategis di bawah kepempinanan revolusioner. Dibawah kepemimpinan revolusioner kemenangan dalam rezim kolonial dapat diukur dari berapa banyak membangun basis perlawanan, seberapa banyak mengorganisir rakyat, seberapa banyak melakukan aksi -aksi perlawanan. Bukan seberapa banyak membuat laporan kajian dan investigasi yang penuh dengan debat dan debu.

Sadar, kita ada dalam sistem kolonial sistem yang tidak akan memberikan kemenangan pada gerakan pembebasan nasional. Sistem itu harus diruntuhkan dengan gerakan perlawanan rakyat yang terpimpin dan terkonsolidasi di dalam satu alat kepempinan revolusioner dengan semangat menciptakan tatanan masyarakat yang berdaulat sesuai dengan ideologi perlawanan kita untuk pembebasan nasional kita.

Ekskalasi perlawanan rakyat terus bergerak di mana-mana hampir di seluruh tanah Papua maupun Indonesia untuk menentang kebijakan rezim Jokowi, namun perlawanan rakyat selama ini terkesan ‘jalan tanpa arah’. Gerakan perlawanan tidak mampu mengarahkan massa ke ranah yang telah di rancang  oleh gerakan yaitu, kepepimpinan revolusioner dan alat perlawanan sehingga kadang mendapatkan titik lemah. Bahkan gerakan bisa saja di pukul mundur oleh musuh dan ini kitong punya pengalaman tersendiri bagaimana dari pasca rasisme 2019, gerakan di pukul mundur, segala paket kebijakan berjalan mulus mulai dari PON, pengiriman militer, Peparnas, dan beberapa kegiatan ini sukses di tanah Papua dan terakhir menjadi bahan kampanye Indonesia di dunia Internasional bahwa Papua sedang aman dan damai.

Suksesnya segala kebijakan di Papua karena gerakan pembebasan masih dalam perdebatan ide dan gagasan tanpa menemukan metode baru sesuai kondisi objektif untuk mengarahkan rakyat ke satu satu wadah. Selama ini gerakan pembebasan nasional Papua barat mengarahkan massa turun jalan dan berjuang, ibaratkan mobil jalan tanpa bensin.

“Persatuan itu relatif maka perjuangan itu  mutlak.” ungkapan pimpinan revolusi  Bolshevik, Lenin. Tugas mendesak gerakan hari ini adalah mendorong kepempinan revolusioner dalam kerangka membangun konsolidasi persatuan yang dapat mengakomodir persoalan subjektif maupun objektif gerakan agar dalam kerja-kerja perjuangan selalu menjadi arah gerak yang terukur. Perjuangan pembebasan nasional Papua Barat tidak bisa meletakan ke dalam aktivisme sesat yang tidak mempunyai kesadaran sehingga membangun wacana-wacana teoritik yang hampa. Untuk menentukan metode baru dengan satu bentuk staratak yang tepat serta organisasi maupun individual yang terlibat dalam front taktik menempatkan perjuangan sebagai kebutuhan yang utama dan terutama, lahir ketika kerja-kerja organisasi secara rutin dalam satu payung kepemipinan revolusioner.

Kita bersepakat dan merindukan untuk membentuk satu lingkaran merah sebagai tahapan awal untuk menuju ke tahapan yang lebih besar tetapi ketika kepimpinan revolusioner dan alat belum di siapkan oleh gerakan pelopor maka massa rakyat dan perjuangan kita berjalan masing-masing di dua perahu tanpa arah. Mungkin masih dalam ingatan bagaimana kemudian sejak kejatuhan Orde Baru jelas banyak hal telah berubah. Namun pada saat yang sama banyak hal pula masih  tetap sama. Sang jagal Soeharto telah di tumbangkan, tetapi keseluruhan sistem ekonomi dan politik yang menjadi fondasi dari rezimnya yang berdarah-darah masih utuh dan oleh karenanya niscaya melanjutkan sistem penindasan yang sama pula. Oleh sebab itu selain melakukan konsolidasi dan mengorganisir kaum tani, kaum miskin kota, kaum nelayan, mahasiswa, akademis, NGO, dan solidaritas luas. Kepimpinan revolusioner dan alat persatuan kita harus di bangun dari sekarang untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas. Ini merupakan sebuah alternatif, tetapi juga tugas bersama yang harus di pikirkan oleh seluruh komponen yang merindukan untuk bebas dari ancaman imperialisme, kapitalisme, kolonialisme, dan militerisme. Perjuangan pembebasan nasional Papua Barat musti terorganisir dengan kepemimpinan yang revolusioner.

***

Kristian Kobak
Penulis adalah Aktivis dari Forum Independen Mahasiswa-West Papua (FIM-WP) di Kota Jayapura

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Narasi Ketimpangan di Pasar Papua

Pertengahan November 2021, saya menginjakkan kaki di Pasar Ransiki,...

Bagaimana Eksistensi Masyarakat Adat Saat Ini?

Sejarah manusia dimulai sejak tiga juta tahun lalu. Melalui proses evolusi dari primata menjadi manusia (homo sapiens). Dari kehidupan...

Pendidikan Anak Kampung Papua

Pendidikan anak-anak kampung Papua menjadi permasalahan serius dalam pembentukan generasi muda Papua ke depan. Tantangannya tentu saja menjadikan pendidikan...

24 Tahun AMP, Tugas Mendesak: Propaganda, Persatuan, dan Aksi Terpimpin

Ditulis oleh Komite Pusat Aliansi Mahasiswa Papua Tahun 1998 mahasiswa Papua yang berada di luar pulau Papua: Manado, Bali, hingga...

Penindasan Terhadap Perempuan Papua dan Sosialisme

Ditulis oleh Zetkin V’lle dan Sharon Muller Seksisme, kapitalisme, dan kolonialisme menjerat perempuan Papua ke dalam belenggu penindasan berlapis yang...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan