Tentang

Ruang-ruang perdebatan dan kajian ilmiah untuk pergerakan di Papua sangat minim. Sejak Papua diintegrasi ke dalam Indonesia, ruang demokrasi ditutup. Kebebasan untuk menyampaikan pikiran, pendapat, dan semua persoalan-persoalannya ditutup dan dijadikan proyek politik dan ekonomi oleh kolonial dan kapital.

Papua melewati enam presiden dari orde lama sampai reformasi. Di masa orde baru, Papua dibuat daerah operasi militer besar-besaran, dimasa Otsus dari tahun 2001 sampai saat ini, wilayah Papua hanya dikasih gula-gula Otsus sebagai jawaban oleh Indonesia untuk menutup aspirasi tuntuan untuk bebas dari Indonesia.

Dana Otsus dikucurkan, sembari kolonial Indonesia gemar legitimasi kekerasan melalui rasisme, pelanggaran HAM oleh aparat keamanan, dan eksploitasi sumber-sumber daya alam.

Politik kolonial dan sistem kapitalisme berupaya menghambat ruang-ruang rakyat Papua untuk menalar, membangun budaya perlawanan oleh pergerakan rakyat Papua.

Dan masih banyak soal. Ini membuat kami memulai dengan membangun lingkar diskusi di awal tahun 2019. Dari sini kami melihat bahwa ada banyak soal yang harus diangkat, didiskusikan, dan dikritik. Melalui itu, kami memulai dengan membentuk media alternatif Lao-Lao.

Lao-Lao memberikan ruang ilmiah untuk agenda pergerakan dan perjuangan, untuk mendorong gerakan untuk membuka ruang pendapat, gagasan, dan kritik atas sejarah, penindasan, dan pembebasan nasional.

Harapannya Lao-Lao membangun budaya kritis dan revolusioner untuk kemajuan gerakan dan perjuangan di Papua.

Secara umum Lao-Lao memiliki platfom:

  1. Anti kapitalisme
  2. Anti kolonialisme
  3. Anti militerisme
  4. Anti imperialisme
  5. Pro kesetaraan jender dan seksual
  6. Bersama mendorong perjuangan pembebasan nasional.