Pilihan Redaksi Kekalahan Kaum Perempuan (2)

Kekalahan Kaum Perempuan (2)

-

Diterjemahkan dari buku yang ditulis oleh Pat Brewer, The Dispossession of Women, Resistance Books, 2000

Penerjemah Danial Indrakusuma

Femisnisme Radikal

Karakter ideologis teori-teori perbedaan alamiah diungkapkan dalam gelombang kedua gerakan pembebasan kaum perempuan, gerakan yang bertujuan untuk merubah posisi ekonomi dan sosial kaum perempuan. Namun, kekuatan dan isian budaya yang dilandaskan pada teori-teori biologis–yang digunakan untuk mengabsyahkan ketidaksetaraan kaum perempuan dan masyarakat berkelas (terutama dalam masyarakat kapitalisme)–menggiring mereka memasuki wilayah teori feminis.

Jadi, kaum feminis radikal menganggap bahwa perbedaan jender sebagai hal yang mendasar. Kelebihan kaum perempuan menghasilkan dan memelihara anak dipertentangkan dengan hakikat kaum lelaki yang jahat, suka menyiksa, suka kekerasan, dan suka berperang. Dalam teori patriarki, ditekankan bahwa dominasi kaum lelaki akarnya adalah hakikat kaum lelaki yang suka kekerasan dan suka melakukan pemaksaan seksualitas. Karena kaum feminis radikal tak sanggup menyediakan satu pun penjelasan sosial tentang seksualitas tersebut, maka teori mereka berhenti pada penegasan bahwa perbedaan esensial tersebut hanya bisa dijelaskan oleh teori-teori yang landasannya biologis.

Beberapa pendahulu teoritikus feminis radikal terang-terangan menegaskan sebab-musabab biologis. Susan Brownmiller menganjurkan teori biologi struktural untuk menjelaskan perbedaan seksual. Shulamith Firestone menyuguhkan teori biologis reproduksi fungsional. Kate Millet mengedepankan teori kekuasaan kaum lelaki tanpa bisa dengan jernih menjelaskan landasan sosialnya.

Beberapa feminis radikal mengaku bahwa mereka menolak determinisme biologis, tapi mereka gagal memberikan penjelasan alternatif tentang penindasan terhadap kaum perempuan. Dalam prakteknya, mereka lebih suka memprioritaskan aktivitas-aktivitas yang mengacu pada seksualitas, teknologi reproduksi, perkosaan dan kekerasan seksual. Saat kaum feminis radikal mengunggulkan teori mereka yang, katanya, dilandaskan pada kepentingan kaum perempuan, yang tak ternoda oleh pikiran-pikiran kaum lelaki (teori-teori dan budaya kaum lelaki), mereka sebenarnya sedang mempertontonkan ketidakpedulian mereka terhadap bahaya-bahaya dari kesimpulan “bahwa perbedaan jender adalah alamiah adanya” yang, bila tak ada penjelasan lainnya, maka mereka akan kembali berkutat pada teori-teori yang landasannya biologis.

Kesimpulan teori eko-feminis ditarik dari landasan yang sama. Mereka berpendapat bahwa terdapat paralelisasi antara eksploitasi terhadap alam dengan eksploitasi terhadap kaum perempuan yang dilakukan oleh masyarakat yang didominasi kaum lelaki, dan kaum perempuan lebih terikat pada alam saat mereka merawat anak dan bersosialisasi. Karenanya, bila alam “diperkosa” dan dieksploatasi kaum lelaki maka hal demikian juga menimpa kaum perempuan.

Kiasan “Ibu pertiwi/bumi”, secara harfiah, dimaknai oleh teori eko-feminis untuk menggambarkan kemampuan kaum perempuan dalam hal melahirkan anak, sama halnya denga bumi, rahim kehidupan. Kedekatan kaum perempuan dengan alam, atau hakikat alamiah kaum perempuan, katanya, memberikan nilai moral yang lebih tinggi bagi kaum perempuan, yang memiliki intuisi dan hubungan mistis dengan alam karena mengalami “pengalaman” eksploitasi yang sama. Dengan demikian, kaum perempuan akan memiliki “suara” yang lebih lantang dalam memelihara bumi, melawan eksploitasi dan ilmu pengetahuan kaum lelaki.

Pentingnya Teori Darwin

Seluruh teori perbedaan alamiah bermuara pada tipe-tipe penjelasan yang mengacu pada ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial abad ke-19. 

Pada abad ke-19, karakter ideologis penjelasannya berbeda dengan saat ini. Penjelasan tentang perkembangan sosial lebih mengacu pada kerangka agama, ketimbang pada kerangka ilmu pengetahuan. Penjelasan Sang Pencipta lah yang mendominasi: berdasarkan penjelasan sejarah tertulis (4.000 tahun S.M), Tuhan lah yang menciptakan masyarakat manusia. Dengan demikian, masyarakat manusia dimulai pada masa-masa awal masyarakat Mesir, atau lima kitab nabi Musa dijadikan sebagai landasan acuannya. 

Eropasentrisme, yang mengunggulkan masyarakat kapitalis Eropa sebagai puncak peradaban, menyebabkan cara pandang yang berkesimpulan bahwa masyarakat apa pun yang berbeda dengannya, apakah itu masyarakat pemburu-pengumpul makanan atau masyarakat feodal, merupakan suatu kemunduran, suatu indikasi kemerosotan menuju status masyarakat binatang. Salah satu varian dari posisi tersebut berpendapat bahwa masyarakat yang mengambil jarak terhadap pusat kebudayaan (Eropa) bisa disimpulkan derajat kemundurannya. Pandangan semacam itu memberikan pengabsyahan ideologis bagi perbudakan rasial dan kolonialisme.  

Dengan adanya kemajuan dalam ilmu pengetahuan maka penjelasan lama–penjelasan yang percaya pada keharusan takdir, yang memang cocok dengan dunia aristokrat agraris (sebelum terbentuknya masyarakat kapitalisme industrial)–digantikan oleh tipe penjelasan yang lebih sesuai dengan lingkungan industri perkotaan, yang lebih kompetitif. Penjelasan baru tersebut berkisar di sekitar perdebatan tentang tempat manusia dalam alam. 

Pengaruh teori Charles Darwin–evolusi spesies melalui seleksi alam dan variasi–begitu besarnya dan sangat kontroversial. Teorinya, secara relatif, sangat sederhana: organisme itu akan berubah-ubah, menjadi beragam, dan variasinya diwariskan (paling tidak sebagian) melalui keturunan. Organisme menghasilkan lebih banyak keturunannya ketimbang yang berhasil hidup dan, biasanya, keturunan yang lebih kuat lah (karena didukung oleh lingkungannya) yang akan berhasil hidup dan menyebar.

Teori Darwin didasarkan pada observasinya atas perkawinan domestik (ternak/tanaman sejenis) dan atas pengalaman perjalanannya ke Kepulauan Galapagos. Ia tak bisa menjelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi selain memaparkannya secara material, tanpa mengacu pada intervensi takdir apa pun. Namun demikian, ungkapannya (tentang seleksi alam dan siapa kuat dia menang) bisa dan memang diterjemahkan seperti ini: sepertinya ada suatu entitas yang bisa menentukan siapa yang kuat dan siapa yang terpilih. 

Penerjemahan tersebut menjadi lebih kuat karena Darwin percaya pada teori populasi seorang pastor Inggris, Thomas Malthus yang, pada tahun 1798, berpendapat bahwa kemiskinan dan ketimpangan sosial pasti bergerak menurut derajat/tingkat hitungan geometris, padahal produksi/persediaan makanan bergerak menurut derajat/hitungan aritmatika. Menurut Malthus, reformasi sosial untuk mengatasi ketimpangan sosial akan gagal dan ia, secara khusus, menentang tindakan untuk meringankan penderitaan orang-orang miskin, manula, atau orang-orang sakit karena hal tersebut akan memberikan semangat hidup dan akan meningkatkan tingkat kelahiran. Walaupun perkembangan/perbaikan dalam produksi makanan membuktikan bahwa teori Malthus itu salah, namun idenya tentang “siapa yang kuat” (dalam populasi), pada abad ke-19 dan ke-20, telah menjadi landasan bagi program-program untuk memperbaiki keturunan. 

Darwin menerjemahkan dan menggambarkan teorinya tentang seleksi alam sejalan dengan gambaran suram yang diberikan oleh Malthus–perjuangan berdarah di antara spesies untuk memperebutkan sumberdaya yang langka. Tapi, sebenarnya, sukses reproduksi melalui seleksi alam bisa berjalan/berhasil melalui berbagai cara, bukan sekadar melalui kompetisi. Kerjasama, hidup berdampingan dan saling bantu juga merupakan kemungkinan yang lain, sebagaimana layaknya perubahan iklim dan migrasi bisa mengubah konteks saat seleksi alam terjadi. 

Jadi, pertanyaan tentang tempat manusia dalam alam jelas dijawab dalam konteks yang benar-benar ideologis. Karena tak mau mempercayai keharusan takdir–yang dilandasi pemikiran adanya harmoni dalam alam dengan masyarakat, sehingga segala sesuatu dan semua orang akan mendapatkan tempatnya yang layak–maka pandangan tentang Tuhan pun berubah sehingga memandang bahwa: Kemahakuasaan diidentifikasi dengan hukum alam yang bisa mengatur dirinya sendiri dan, karenanya, ketimpangan/ketidaksamaan dijelaskan menurut hirarki biologis. Jadi, sebenarnya, Ilmu pengetahuan tidak menggantikan Tuhan, tapi Tuhan diidentifikasi berdasarkan hukum alam. 

Kiasan tersebut lebih diperluas lagi sehingga masyarakat dipahami sebagai organisme biologi: struktur kelompok-kelompok manusia mencerminkan bentuk-bentuk alam, dan hukum-hukum alam inheren/melekat dalam bentuk-bentuk tersebut. Pandangan seperti itu mengabsyahkan dominasi satu kelompok terhadap kelompok lainnya atas dasar perbedaan-perbedaan yang dianggap alamiah, tak terelakan dan, karenanya, moralis. Jadi, Eropasentris–yakni, asumsi-asumsi borjuis tentang kemajuan moral peradaban–diterjemahkan ke dalam hirarki evolusioner orang-orang yang berharga secara sosial.  

Mekanisme yang mendasari evolusi spesies telah diklarifikasi pada abad ke-20 dengan ditemukannya gen, kromosom dan DNA, variasi genetik dalam reproduksi seksual, serta dengan adanya efek kebetulan/kecelakaan dalam mutasi genetik. Tapi, karena genetika, kromosom atau DNA juga memberikan hambatan pada kehidupan, maka ada alasan untuk menempatkan orang pada posisi sosial dan ekonominya dengan menggunakan landasan biologi sebagai senjata sosial. Teori-teori semacam itu tak lain merupakan ideologi yang bersembunyi di balik jubah ilmu pengetahuan. 

 Pada kenyataannya, individu-individu merupakan produk dari interaksi kompleks antara warisan genetik, lingkungan dan peristiwa-peristiwa kebetulan yang akarnya bukan genetik atau pun lingkungan. Mengabsyahkan perbedaan status, kekayaan dan kekuasaan, dengan membebankan kesalahan pada perbedaan warna kulit atau organ seksual (perbedaan yang, walaupun mencolok, namun dibuat-buat, cupet), bisa menutupi ketimpangan sosial yang, sebenarnya, sistimatik. 

III. Engels dan Evolusi Manusia

Meskipun terbatas, teori Darwin telah mengangkat pertanyaan tentang asal-muasal spesies manusia ke dalam suatu kerangka ilmiah. Para antropolog seperti Lewis Morgan, Edward Tylor, Jacob Bachofen dan James Fraser mulai mengembangkan teori-teori evolusi masyarakat, mempelajari masyarakat pra-sejarah sejak awal kemunculannya, bukan saja sejak fase peradaban (saat munculnya budaya tulis).

Morgan, contohnya, bisa membedakan tiga zaman (besar) perkembangan masyarakat: zaman kebuasan, zaman barbarisme dan zaman peradaban. Setiap zamannya ditandai oleh kemajuan nyata dalam taraf aktivitas ekonomi–cara manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan setiap tahap terdiri dari sub-tahap yang, secara garis besar, dijelaskan sebagai berikut: aktivitas ekonomi pada zaman kebuasan didasarkan pada kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan; aktivitas ekonomi pada zaman barbarisme didasarkan pada kegiatan memproduksi makanan melalui holtikultura dan peternakan; sedangkan zaman peradaban didasarkan pada kegiatan tulis-menulis serta pertanian.

Dalam tekanannya, teori evolusioner Marxisme berbeda dengan teori-teori evolusioner lainnya–misalnya, Darwinisme. Darwin lebih mengamati kontinuitas perkembangan perbedaan spesies, lebih melihat pada perubahan kuantitatif dan lebih menitikberatkan pengamatannya pada lambatnya laju perubahan. Di sisi lain, Frederick Engels, juga mempertimbangkan perubahan kualitatif–bisa saja berupa pengamatan terhadap diskontinuitas spesies, yang bisa menjawab pertanyaan: sebagai spesies, apa sebenarnya kekhususan dalam perkembangan kemanusiaan.

Itu lah perbedaan antara pendekatan gradualisme dan pendekatan dialektik. Teori Darwin, walaupun bisa menjelaskan beberapa aspek evolusi, namun hanya menceritakan sebagian saja kisah sejarah. Darwin gagal menjelaskan perubahan-perubahan cepat yang nampak terekam pada bukti-bukti fosil, misalnya saja ledakan Cambrian–adanya penampakan spesies baru yang (walaupun, secara historis, sezaman) namun lebih besar dan cepat pertumbuhannya ketimbang pertumbuhan nenek moyang pada umumnya, yang lebih lambat.

Darwin memang bisa membuktikan bahwa saat manusia berhasil keluar dari dunia binatang–sehingga nampak layaknya (nenek moyang) manusia-kera dengan taraf yang lebih tinggi–terdapat gambaran penting dalam perubahannya, yakni memiliki otak yang lebih besar dan sudah mahir berbicara. Namun Darwin tak mampu menjelaskan bagaimana bisa terjadi perubahan seperti itu. Engels lah yang bisa melanjutkan tugas tersebut, yang ia jelaskan dalam esaynya yang belum selesai, The Part Played by Labour in the Transition from Ape to Man (sumbangan tenaga kerja dalam transisi dari manusia-kera menjadi manusia).

 

Manusia Sebagai Hasil Tenaga Kerja

Engels dan Darwin, keduanya, percaya bahwa manusia-kera, yang tarafnya lebih tinggi, harus melewati pra-kondisi biologis (penting) agar bisa bertransisi: berpostur tegak, berpenglihatan tiga dimensi, memiliki masa pertumbuhan dan perawatan-induk lebih lama, organ suara, serta tangan (yang bebas) dengan ibu jari yang bisa berputar. Tapi Engels mengembangkan sebuah teori yang menjelaskan hubungan interaktif antara perkembangan (transisi) tersebut dengan landasan atau basis penggeraknya–yakni: tenaga kerja; dan perluasan penggunaan perkakas kerja–yang, dalam proses yang panjang/lama, bisa membentuk perubahan fisik sehingga manusia-kera yang tarafnya lebih tinggi bisa berutransformasi menjadi spesies yang lain.

Ketimbang menyetujui pandangan yang telah tersebar luas–bahwa perkembangan otak  merupakan tahap yang paling penting dan paling utama dalam evolusi manusia–Engels justru berpendapat bahwa tahap pertamanya pasti lah saat ia mulai turun dari pohon, sehingga tubuhnya bisa berevolusi menjadi tegak. Penyesuaian terhadap postur tubuh (yang sekarang sudah tegak) dan terhadap gerak dua telapak kaki berhasil lebih membebaskan/meluweskan (gerak/penggunaan) tangan¾sehingga meningkatkan kemampuannya membuat dan menggunakan perkakas kerja. Seiring dengan berjalannya waktu, evolusi tersebut menyebabkan perubahan lebih lanjut pada struktur tangan¾maka tangan, kemudian, bukan semata-mata “organ kerja” tapi juga merupakan “produk kerja”.

Bila pada binatang, peralatannya (seperti cakar, taring, paruh, dan lain sebagainya) terutama merupakan bagian dari kelengkapan tubuh spesies (yang juga bisa semakin membaik), serta merupakan bagian dari interaksi binatang dengan alam, dalam bentuk respon langsung terhadap rangsangan lingkungan–ada beberapa contoh spesifik pembuatan alat yang sangat sederhana: misalnya saja simpanse, yang menggunakan ranting untuk menangkap anai-anai, tapi hal itu bersifat sporadis dan tidak berpusat pada pemenuhan kebutuhan makanan binatang; pada manusia pembuatan dan penggunaan perkakas kerja merupakan aktivitas spesies-khusus yang bisa mentransformasikan hubungan manusia dengan alam. Tanpa praktek tenaga kerja dan perkakasnya, manusia tak akan memiliki asal-usul, tak’kan mampu bertahan hidup atau berkembang sebagai satu spesies yang berbeda. Sebagaimana dikatakan oleh Engels:

Penguasaan alam diawali oleh perkembangan tangan, oleh tenaga kerja, yang memperluas cakrawala manusia dalam setiap perkembangan barunya. Manusia terus-menerus berusaha menemukan segala hal baru, segala hal yang sekarang belum diketahuinya, segala hal untuk mengetahui sifat obyek alam. Pada sisi lain, perkembangan tenaga kerja dibutuhkan agar bisa membantu mendorong anggota masyarakat saling mempererat hubungannya–dengan memperbanyak hubungan yang saling mengutungkan, aktivitas bersama, dan dengan mempertegas keuntungan dari aktivitas bersama tersebut bagi masing-masing individu. (Engels, 1934, hal.173)

Kemampuan berbicara memberikan kelengkapan simbolik sehingga manusia bisa mulai mengorganisir, memelihara dan menyebarluaskan pengalaman tenaga kerja kolektifnya. Engels menjelaskan garis besar tentang sebuah hubungan timbal-balik (positif) antara perkembangan (jeneral) kecakapan mental dengan peningkatan (terus menerus) dalam efisiensi serta kualitas tenaga kerja manusia. Kemampuan berbicara dan kemampuan tenaga kerja mendorong pertumbuhan otak manusia.

Saat hendak merencanakan kegiatan di masa mendatang, identifikasi terhadap sifat-sifat obyek, dan pembagian tugas dalam proses tenaga kerja hadir secara lambat, demikian juga dalam perkembangan konteks sosial dan kerjasamanya. Spesies menjadi lebih manusiawi karena tenaga kerjanya. Umpan-balik tak melulu positif tapi kumulatif; aktivitas tenaga kerja melapangkan jalan agar kemajuan (jeneral) manusia bisa mulai beranjak.

Penjelasan dialektik dan materialis tersebut mencerminkan tesis (jeneral) Marx dan Engels, yakni: bahwa produksi dan reproduksi kehidupan, yang segera harus ditangani, merupakan elemen yang menentukan dalam kehidupan sosial, termasuk juga produksi biologis dan ekonomi–produksi kebutuhan hidup (makanan, pakaian, tempat bernaung atau rumah, perkakas kerja, yang juga dibutuhkan untuk produksi tersebut), bahkan produksi bagi keberadaan manusia itu sendiri.  Karenanya, bentuk masyarakat, dalam setiap tahap perkembangan historisnya …ditentukan oleh dua bentuk/jenis produksi: di satu sisi, oleh tahap perkembangan tenaga kerjanya; dan, di sisi lain, oleh keluarga. (Engels, 1970, hal.191)

Dari pemahaman tersebut, Engels menganalisa perkembangan masyarakat dan (pada suatu tahap tertentu) penaklukan perempuan.

Perkembangan Keluarga dan Sejarah Kekalahan Kaum Perempuan

Dalam The Origin of the Family, Private Property and the State (asal muasal keluarga, pemilikan pribadi, dan negara) Engels mengembangkan  karya-karya Morgan dan karya-karya para anthropolog evoluioner abad ke-19 lainnya. Ia sepakat dengan gambaran (jeneral) yang diberikan Morgan–yakni tentang tiga tahap pokok evolusi sosial–tapi Engels memberikan penjelasan yang lebih jernih tentang perbedaan antara masyarakat primitif dengan masyarakat beradab: masyarakat yang tahap perkembangan sosialnya telah sampai atau bisa mengembangkan pembagian kerja dan pertukaran komoditas (baca: barang dagangan) di antara para individunya. Hanya pada tahap perkembangan sosial seperti itu lah penaklukan terhadap kaum perempuan bisa terwujud sepenuhnya.

Sebelum sampai pada teori Engels, sangat berharga untuk dicatat bahwa terdapat dua corak pengumpul makanan: yang satu, corak pengumpul makanan sebelum nenek moyang bertubuh tegak dan berdiri/berjalan di atas kedua telapak kakinya–atau pengumpul makanan individual–yang segera memakan habis semua bahan makanan yang telah diperoleh/terkumpul; yang lainnya, corak pengumpul makanan setelah nenek moyang bertubuh tegak dan berdiri/berjalan di atas kedua telapak kakinya–atau pengumpul makanan secara kolektif (yang, secara sistimatik, mengunakan perkakas kerja)–dan makanan yang telah dikumpulkannya dibawa pulang, kemudian dibagi-bagi dalam kelompok sosial.

Zaman tak-beradab mencakup tiga periode. Periode pertama, masa nenek moyang manusia mengambil/mengumpulkan bahan makanan produk alamiah–buah-buahan, kacang-kacangan, umbi-umbian, dan lain sebagainya, baik dalam iklim tropis atau subtropis–tapi belum mengembangkan bahasa; periode kedua, mulai mengumpulkan makanan laut, dan  pengembangan penggunaan api membebaskan nenek moyang manusia pada ketergantungan cuaca. Dengan demikian memungkinkan migrasi, dan perkembangan awal penggunaan perkakas yang terbuat dari batu memperluas produksi makanan hingga menjangkau kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan; pada periode ketiga, kegiatan berburu telah sepenuhnya berkembang, mereka mulai mebangun dan menetap di desa-desa, peralatan rumah tangga yang terbuat dari kayu mulai dikembangkan, tenun tangan, keranjang anyaman dan perkakakas kerja yang terbuat dari batu yang diasah mulai bemunculan.

Zaman barbarisme dimulai saat mengenal peralatan tembikar dan pengembangan peternakan, dilanjutkan dengan bercocok tanam, yang bisa meningkatkan produktivitas alam. Pada masa ini, terdapat perbedaan antara Dunia Lama (Afrika/Eropa/Asia) dan Dunia Baru (Amerika) karena perbedaan alam dan dukungan benuanya, termasuk perbedaaan jenis-jenis tanaman pertaniannya, binatang-binatang ternaknya dan logam yang dileburnya. Periode Dunia Lama berakhir dengan adanya peleburan logam, penemuan mata bajak yang terbuat dari besi yang, awalnya, ditemukan oleh para peternak untuk mengembangkan pertanian berskala luas, sehingga memungkinkan perkembangan populasi yang tinggi, konsentrasi masyarakat di perkotaan, perkembangan kerajinan dan perdagangan.

Sejarah peradaban ditandai oleh adanya spesialisasi kerajinan, pemisahan kota dengan desa, produksi barang dagangan, munculnya kelas-kelas sosial, pemilikan pribadi, keluarga monogami  (dengan  ayah sebagai kepala keluarganya), dan negara.

Ketidaksetaraan jender mulai muncul pada zaman kedua, dan berkembang sepenuhnya pada zaman peradaban.

Data antropologi yang diperoleh Engels dari Morgan dan para antropolog lainnya menunjukkan bahwa masyarakat primitif telah mempraktekan hubungan sosial dan seksual yang setara dan, selain itu, ditandai oleh adanya produksi secara kolektif dan pemilikan komunal. Engels juga memperoleh data tentang sejarah keluarga hasil rekonstruksi yang dilakukan Morgan, yakni: perkembangan historis hubungan sosial dan seksual masyarakat tertentu.

Unit dasar masyarakat tak-beradab adalah marga (clan) menurut garis ibu, yang terdiri dari komunitas ibu-ibu, saudara lelakinya, dan anak-anak (ibu-ibu tersebut). Morgan menggunakan terminologi primitif untuk menggambarkan tahap perkembangannya. Ia memberikan gambaran tentang perkembangan hubungan jender berdasarkan kebebasan seksual dan organisasi sosialnya, yang didasarkan pada jejak kekerabatan menurut garis ibu–apa yang ia sebut: berbagai bentuk keluarga yang didasarkan, pertama, pada siapa seseorang bisa melakukan hubungan seksual dan, kedua, kerabat mana kah yang boleh membentuk kelompok sosial inti seseorang.

Larangan hubungan seksual yang paling awal diterapkan adalah hubungan seksual antara orang tua dengan anak, kemudian dengan saudara kandung, setelah itu dengan kategori (tertentu) saudara kandung lainnya (menurut garis ibu atau matrilineal). Aturan tersebut, pada tahap akhir zaman tak-beradab dan tahap awal zaman barbarisme, mengarah pada hubungan-berpasangan yang didasarkan pada kesepakatan bersama, dan setiap anggota (pasangan tersebut) memiliki kemampuan untuk menyudahi ikatan hubungan tersebut. Menurut Engels, “keluarga berpasangan” tersebut memiliki ciri yang alami; dan ia melihatnya sebagai tahap akhir evolusi hubungan keluarga yang terseleksi secara alamiah.

Domestikasi binatang (peternakan) dan perkembangan penyimpanan/pengawetan persediaan makanan memungkinkan akumulasi kesejahteraan/kekayaan yang lebih besar, sehingga terbentuk lah hubungan-hubungan sosial baru yang merubah hubungan-hubungan jender. Pemilikan kekayaan/kesejahteraan mulai beralih: dari pemilikan marga (turun-temurun) menjadi pemilikan pribadi dalam keluarga. Jenis-jenis barang (lain) yang dimiliki pun berakumulasi (peralatan logam, barang-barang mewah), sehingga dibutuhkan tenga kerja manusia yang lebih banyak.

Perempuan, sebagai sumber daya manusia (dengan hakikat yang baru), mulai dirubah menjadi hak milik berharga, dan manusia lainnya mulai digunakan sebagai budak.  Tenaga kerja tambahan tersebut menyebabkan perdagangan dan kerajinan seperti penenunan, tembikar serta pertanian (ladang) berkembang. Proses tersebut berbarengan perubahan dalam garis kekerabatan–lebih menekankan garis kebapakan (paternity) dan bapak–serta perubahan dalam hubungan seksual¾menjadi monogami.

Peningkatan dalam kesejahteraan/kekayaan justru memberikan status yang lebih tinggi kepada kaum lelaki (dalam keluarga), sehingga memberikan dorongan untuk merubah hak waris (yang sebelumnya berdasarkan garis ibu) dan mengkukuhkan institusi berdasarkan garis bapak (patriliny). Engels bersikukuh bahwa revolusi hubungan jender tersebut terjadi pada zaman pra-sejarah, sebelum ditemukannya tulis-menulis, karenanya tak bisa dipastikan bagaimana dan kapan hal tersebut terjadi, walaupun bisa dibuktikan secara etnografi.

Menurut Engels, …penggulingan kekuasaan/hak ibu merupakan kekalahan historis kaum perempuan di dunia (Engels, 1970, hal. 233). Kaum lelaki mengambil alih kendali rumah tangga, kaum perempuan direndahkan dan dijadikan budak nafsu kaum lelaki, serta sekadar perangkat  untuk melahirkan lebih banyak anak. Karenanya, kata keluarga (family) berasal dari istilah latin famulus–yang berarti budak rumah tangga–dan familia–yang berarti seluruh budak milik seorang lelaki–atau patriarki, yang mewarisi semua kekayaan serta mendapatkan kekuasaan absolut untuk menguasai seluruh anggota rumah tangga.

Singkatnya, kemudian, tak seperti pendapat teori-teori determinisme biologis, apa pun variasi dan keragamannya, analisa kaum Marxis menolak suatu pandangan evolusi yang didominasi-kaum lelaki–atau: bisa membuktikan bahwa primata dan spesies (bertubuh tegak dan berjalan di atas kedua telapaknya) yang berjenis kelamin memiliki peranan yang penting dalam perkembangan kemanusiaan.

***

Catatan

Tulisan ini diterbitkan kembali semata-mata untuk kepentingan pendidikan politik dan propaganda di Papua

Redaksi Lao-Lao
Teori pilihan dan editorial redaksi Lao-Lao

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Pendidikan dan Kunci Memasuki “Dunia Mereka Sendiri” 

Z. K. Rumbrar menulis laporan singkat aktivitasnya sebagai guru...

Korupsi Lukas Enembe, Mutilasi 4 Warga Sipil, dan Kepentingan Investasi

Hari-hari ini pasca Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe (LE) ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada...

Corak Produksi Manusia Papua Dulu dan Kini

Berawal dari sejarah geologinya. Sebelum zaman pencairan es yang terjadi sekitar 80.000-12.000 tahun lalu, pulau Papua, benua Australia dan...

BBM Naik, Harga Angkutan Naik: Cerita dari Kampung Dormena, Jayapura

Pada tanggal 11 September 2022, pukul 11:21 WIT, saya dengan kakak Yason Ngelia lakukan perjalanan dari Ekspo, Kota Jayapura...

Kelompok Ongohbete dan Nenandubete Minyak Kayu Putih di Kampung Wasur Merauke  

Suatu hari di Kampung Wasur, Kabupaten Merauke, tepatnya 12 April 2016, saya menuju ke rumah Kepala Kampung Wasur saat...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan