Pilihan Redaksi Konferensi Wilayah GPRP Sorong Raya, Mendorong Kader Melakukan pengorganisiran...

Konferensi Wilayah GPRP Sorong Raya, Mendorong Kader Melakukan pengorganisiran Kelas Tertindas

-

Press Release

Gerakan Perjuangan Rakyat Papua (GPRP) Wilayah Sorong Raya Mengelar Konferensi Wilayah.

 

GPRP Sorong Raya mengelar konferensi wilyah selama dua hari 15-16 Mei 2022. Kegiatan ini adalah forum pengambilan keputusan pada internal organisasi. Konferensi ini dilakukan dalam rangka menerjemahkan dan atau mensosialisasikan kepada kader dan anggota serta pengurus terkait keputusan dan agenda yang telah ditetapkan pada kongres II di Mnukwar pada 26-28 Maret 2022.

Kegiatan yang dilakukan selama dua hari tersebut, membahas strategi taktik perjuangan GPRP di wilayah Sorong Raya untuk pembebasan rakyat dari cengkraman kapitalisme, imperialisme, dan Kolonialisme.

GPRP mendorong agar rakyat Papua paham soal bahaya nya industrialisasi bagi kehidupan mereka. Terutama bisa saksikan bahwa selama beberapa dekade rakyat Papua terus menderita dibawah kendali sistem kapitalisme yang terus menerus merampas ruang hidup rakyat, melahirkan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) serta berujung pada pembunuhan ratusan bahkan ribuan rakyat Papua. Semua itu terjadi akibat dari kepentingan industrialisasi yang merupakan anak kandung  kapitalisme.

Rakyat Papua di Sorong telah bersentuhan dengan industrialisasi sejak tahun 1935 namun hingga hari ini hidup dalam bayang-bayang kemiskinan, pelanggaran hak asasi manusia, bahkan ancaman genocide yang terus terjadi dengan semakin sedikit jumlah penduduk asli (masyarakat adat). Praktek kapitalisme terus merampas tanah adat di seluruh Wilayah Sorong raya dan Papua secara umum, untuk kepentingan investasi seperti minyak dan gas bumi, perusahaan kayu, perkebunan kelapa sawit hingga pertambangan batubara, nikel, emas dan lain sebagainya.

Kami GPRP Sorong Raya memperkirakan bahwa dengan masalah yang disebabkan kapitalisme dan kolonialisme ini maka 10-20 tahun mendatang rakyat Papua akan menjadi orang asing ditanah sendiri. Karena ketidakberdayaannya menghadapi ekspansi penduduk besar-besaran yang di dorong secara sistematis melalui migrasi penduduk baik program transmigrasi maupun pencari kerja. Langsung maupun  tidak migran akan menguasai sumber-sumber ekonomi, social, bahkan politik yang pada akhirnya menyababkan marjinalisasi dan diskriminasi kepada penduduk asli Sorong Raya atau Papua pada umumnya.

Melihat situasi demikian, serta pembacaan-pembacaan yang dilakukan, maka dalam konferensi wilayah, GPRP Sorong Raya memutuskan dan menetapkan untuk mengorganisir kelas sosial tertindas yang saat ini sedang terancam akibat aktivitas investasi perkebunan kelapa sawit, terutama masyarakat adat, yang mengalami pemisahan dengan tanah sebagai komoditi mandiri (akumulasi primitif) menjadikan mereka terpaksa menjadi kelas pekerja/buruh.

Bersatunya masyarakat adat dengan kelas pekerja secara luas di Sorong Raya adalah potensi pergerakan rakyat untuk melawan kapitalisme dan kolonialisme di Papua. Selanjutnya untuk kebutuhan pengorganisiran serta kerja kerja propaganda maka dibentuklah beberapa departemen internal. Berikut dengan membangun komonitas-komonitas muda Sorong Raya, mahasiswa, untuk kritis melihat penindasan dan tiap perubahan sosial di Sorong Raya.

 

Sorong, 16  Mei 2022

Gerakan Perjuangan Rakyat Papua-Sorong Raya

Ketua : Ambo Klagilit

 

 

Redaksi Lao-Lao
Teori pilihan dan editorial redaksi Lao-Lao

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Pemerintahan Indonesia di Papua Ilegal dan Cacat Hukum

Wilayah Papua berdasarkan Hukum Internasional maupun hukum indonesia tidak...

Film The Woman King: Mari Kita Belajar Dari Prajurit Perempuan di Afrika

Pengantar Kesetaraan gender adalah pandangan bahwa semua orang harus menerima perlakuan yang setara dan tidak diskriminasi berdasarkan identitas gender mereka yang bersifat kodrati. Isu ini...

Perdebatkan Persatuan: Berikut Surat Terbuka AMP dan Tanggapan KNPB Tahun 2011

Kami terbitkan kembali Surat Terbuka Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) melalui Biro Politik Pusat, Laila Kenakhe alias Heni Lani menanggapi...

Burung pun Tak Ada Lagi: Buku Penting Pahami Perempuan Papua

Buku Burung Pun Tak Ada Lagi adalah hasil penelitian dari Papuan Women's Working Group (PWG) dan Asia Justice and...

Sebuah Cara Hadapi Siasat Pecah Belah di Papua

Latar Belakang Hari-hari ini sentimen perpecahan berdasarkan wilayah dan suku kian memuncak. Hal itu tidak terjadi begitu saja. Tetapi, didukung...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan