Catatan dari Kampung Jantung Dusun Sagu

Jantung Dusun Sagu

-

Pada suatu pagi, di minggu terakhir April 2022, di Kampung Aiwat, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, Mama Imelda datang lewat pintu belakang di tempat saya dan kawan-kawan menginap, “Kam jadi ikut ke dusun kah tidak ini?” tanyanya. “Kitong jalan tempo, biar tra hujan besar.” Pagi itu hujan masih kecil. Gerimis. Saya bangun dan bilang akan ikut. Sebenarnya teteh (kakek) akan ikut juga, tetapi dia harus mengambil obat di kampung sebelah. Jadilah anak perempuannya bersama kami.

Saya bergegas. Mama Imelda, Bapak Andrianus, dan Adik Pangrasia sudah menunggu di speadboat yang akan membawa kami ke dusun sagu. “Dulu sa mama ada tanam sagu dan pisang di dusun ini. Jadi kitong sekarang ikut cari makan di tempat ini.” Spead melaju dan hujan kecil belum juga berhenti. Saya melipat tangan dan duduk sambil membungkuk menahan hujan rintik. Udara pagi sungai Digoel betul-betul meresap ke seluruh tubuh ini. Tidak sampai 20 menit sepertinya. Spead kami menepi di pinggiran sungai Digoel. Penuh semak dan tidak ada tanda jalan menuju masuk ke hutan. “Kitong su sampai.” kata Mama Imelda memecah kesunyian perjalanan kami. Saat hampir sampai, obrolan memang sempat terhenti. Semua sibuk menengok sekeliling kali.

Saya bersama Mama Imelda dan keluarganya melalui hujan rintik-rintik saat kami menuju dusun sagu mereka (foto: I Ngurah Suryawan)
Saya bersama Mama Imelda dan keluarganya melalui hujan rintik-rintik saat kami menuju dusun sagu mereka (foto: I Ngurah Suryawan)

Dusun Sagu Mama

Mama turun paling awal. Namun Pangrasia-lah yang mendahului untuk merabas semak-semak. Ternyata sekeluarga ini sudah seminggu lebih bekerja menebang sagu dan menokoknya. Tapi semak tetap saja menghalangi. Saya juga ikut masuk dan sesampai di tengah semak, sudah ada batang sagu yang roboh dan tertokok. Tidak jauh, pondok tempat beristirahat juga sudah ada.

Teteh itu yang bikin.” ujar Pangrasia. Sebelumnya memang teteh yang menebang sagu dan membuat pondok tersebut. Terlihat batangan sagu besar sepanjang 7-8 meter terlentang melintang. Saat pertama itu, mama hanya sanggup mengerjakan 1,5 meter batang sagu untuk diolah. Kini Ia akan melanjutkan 1 meter lagi.

Kitong bersihkan de kulit dulu.” kata mama seolah menandakan menokok sagu akan segera dimulai.

Kami menaruh barang bawaan di bivak yang sudah ada sebelumnya. Mama kemudian berkisah. Minggu sebelumnya, saat akan menebang pohon sagu, Ia bersama dengan suami dan anaknya, menyisihkan hasil sagu untuk ditempatkan di batang sagu yang telah ditebang.

“Itu untuk mama.” ujar Mama Imelda. Pohon sagu ini sebelumnya ditanam oleh mamanya mama Imelda. Sagu basah yang beralasan daun pisang itu adalah persembahan untuk para leluhur yang telah berjasa menanam sagu sebelumnya.

Sagu basah yang ditaruh di batang pohon itu dipersembahkan untuk yang menanam pohon sagu sebelumnya (foto: I Ngurah Suryawan)
Sagu basah yang ditaruh di batang pohon itu dipersembahkan untuk yang menanam pohon sagu sebelumnya (foto: I Ngurah Suryawan)

Batang pohon sagu telah menyambung kehidupan warga di kampung. Dulu, sagu dan tanaman kebun lainnya–ubi, keladi, dan pisang–adalah favorit di kampung. Nasi saat itu hanyalah untuk para pegawai.

Mama Imelda percaya, para leluhur telah meninggalkan pohon sagu untuk keturunannya. Maka sudah kewajiban kita untuk minta izin menebang dan menokok isinya.

Sejenak setelah Mama Imelda mengambil hasil tokok sagu untuk diramas, kami berfoto bersama di depan persembahan untuk para leluhur dan moyang tersebut. “Moyang sayang kitong toh“.

Jantung Pengetahuan Sagu

Saat kami sampai di dusun, bapak menaruh teko besar dan tas dari karung plastik di bivak yang ada. Mama langsung meraih kapak panjang dan menuju batang sagu. Bapa dan Pangrasia mengikuti dari belakang.  Sejurus kemudian mama sudah beraksi dengan membersihkan kulit sagu yang keras. Bapak tidak ketinggalan, Ia membantu dengan menggunakan tombak pajang untuk merenggangkan kulit luar sagu.

Oya, sebelum kami berangkat ke dusun sagu, saya memasukkan ke tas satu biskuit kelapa yang menjadi kegemaran di kampung. Tidak lupa dua kopi Rusa sedang yang kami beli di Tanah Merah, daun teh, dan sedikit gula. Satu jerigen air putih ditenteng oleh Pangrasia.

Meski semua sibuk, Asrida, kawan peneliti, sudah “memainkan” kayu bakar untuk membuat api di bivak. Ia mempersiapkan untuk membuat kopi di teko kecil milik Mama Imelda. Begitu nikmatnya kopi Rusa ini. Bapak datang menghampiri dan sama-sama menikmati setiap celupan biskuit kelapa di gelas kopi. Baru kali ini saya menikmati dahsyatnya kopi di bivak dusun sagu.

Saya bersama Bapa Andrianus di bivak dusun sagu mereka (foto: I Ngurah Suryawan)
Saya bersama Bapa Andrianus di bivak dusun sagu mereka (foto: I Ngurah Suryawan)

Sementara Pangrasia? Ia sibuk merabas semak-semak di sekitar lokasi menokok sagu pagi itu. Kulit luar pohon sagu telah selesai dikupas dengan kapak panjang. Terlihat daging atau isi pohon sagu yang putih. Mulailah mama, Pangrasia, saya, dan Asrida mencoba menokoknya. Kami bergantian tetapi yang mendominasi sudah tentu mama. Sudah tentu juga yang paling capek. Seluruh pekerjaan menokok sagu dibawah komando mama. Mama tidak hanya main perintah, tetapi juga langsung menyelesaikan pekerjaannya: menokok isi pohon sagu hingga akhir. Saat melihat itu saya tambah yakin: tidak ada yang menandingi perempuan Papua.

Pangrasia rupanya bosan menemani mama untuk menokok sagu. Hanya bapak selalu setia toh. Bapak membantu mama menghaluskan sagu yang telah ditokok agar tidak besar dan panjang. Bapa juga membersihkan hasil tokokan sagu yang jatuh ke tanah.

Saya memperhatikan keluarga kecil ini berdialog, bercengkrama, dan sekaligus juga berbagi pengetahuan. Alam menjadikan mereka saling membagi tugas dan mewariskan pengetahuan berbagai hal berkaitan dengan alam, baik itu di dusun sagu ataupun memancing di sungai Digoel.

Saya memperhatikan keluarga kecil ini berinteraksi, bercanda, sekaligus mentransmisikan pengetahuan di dusun sagu (foto: I Ngurah Suryawan)
Saya memperhatikan keluarga kecil ini berinteraksi, bercanda, sekaligus mentransmisikan pengetahuan di dusun sagu (foto: I Ngurah Suryawan)

Saya memperhatikan keluarga kecil ini berinteraksi, bercanda, sekaligus mentransmisikan pengetahuan di dusun sagu (foto: I Ngurah Suryawan)

Pangrasia misalnya. Ia bergegas keluar dusun menuju pinggiran kali. Perahu kecil sudah siap. Ternyata ia mau mengangkat jaring yang ternyata sudah ditebar sebelumnya. Saya luput memperhatikannya. Ia berjalan di atas perahu kecil dan kemudian mendayungnya. Oya, yang membuatkan dayung adalah bapak dari pelepah pohon sagu. Pangrasia lupa membawa dayung. Tertinggal di kampung. Ternyata dia hanya mendapatkan 1 ekor ikan. “Ma, sa dapat satu.” ujarnya kepada mama. Tidak puas mendapatkan 1 ekor ikan, Pangrasia lanjut akan mencari udang.

Selalu Berjuang

Perjalanan ke dusun sagu ini betul-betul membuat saya bahagia. Saya merasakan betul, meski orang-orang di kampung hidup sederhana dan dikurung perusahaan, mereka selalu memiliki cara untuk menikmati dan mensyukuri kehidupan. Salah satu yang saya rasakan adalah kenikmatan kopi dan kehangatan dialog di dusun itu. Sesederhana itu. Pada sisi yang lain kita melihat begitu banyak perubahan terjadi yang mendesak mereka. Hadirnya perusahaan dan perubahan kehidupan baru menuntut mereka untuk menanggapi perubahan ini.

Perjalanan ke dusun sagu ini membuat saya belajar tentang keluarga-keluarga Papua yang selalu berjuang demi hidup dengan berinteraksi dengan alam yang masih tersisa. Saat laju perubahan dan kemajuan semakin kencang, kita perlu melihat lagi perjuangan hidup yang menjejak tanah, mengakar kuat, dan menyerap pengetahuan dan nilai di dalamnya. Relasi historis, budaya, dan ekonomi orang Papua dan alam begitu dalam. Relasi itulah yang kini dirusak oleh pragmatisme kehidupan yang dikendalikan oleh kuasa modal.

Sesekali kita sangat pantas untuk menengok dusun sagu sebagai jantung kehidupan leluhur orang Papua. Sembari itu, kita mempelajari perubahan-perubahan yang terjadi. Setelahnya, kita memiliki pengetahuan dan strategi untuk menjadikan komunitas Papua yang berdaulat atas tanah dan sagu yang menghidupi mereka.

***

I Ngurah Suryawan
Penulis adalah antropolog dan dosen di Universitas Papua (Unipa), Manokwari, Papua Barat.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Pendidikan dan Kunci Memasuki “Dunia Mereka Sendiri” 

Z. K. Rumbrar menulis laporan singkat aktivitasnya sebagai guru...

Korupsi Lukas Enembe, Mutilasi 4 Warga Sipil, dan Kepentingan Investasi

Hari-hari ini pasca Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe (LE) ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada...

Corak Produksi Manusia Papua Dulu dan Kini

Berawal dari sejarah geologinya. Sebelum zaman pencairan es yang terjadi sekitar 80.000-12.000 tahun lalu, pulau Papua, benua Australia dan...

BBM Naik, Harga Angkutan Naik: Cerita dari Kampung Dormena, Jayapura

Pada tanggal 11 September 2022, pukul 11:21 WIT, saya dengan kakak Yason Ngelia lakukan perjalanan dari Ekspo, Kota Jayapura...

Kelompok Ongohbete dan Nenandubete Minyak Kayu Putih di Kampung Wasur Merauke  

Suatu hari di Kampung Wasur, Kabupaten Merauke, tepatnya 12 April 2016, saya menuju ke rumah Kepala Kampung Wasur saat...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan