Pilihan Redaksi 24 Tahun AMP, Tugas Mendesak: Propaganda, Persatuan, dan Aksi...

24 Tahun AMP, Tugas Mendesak: Propaganda, Persatuan, dan Aksi Terpimpin

-

Ditulis oleh Komite Pusat Aliansi Mahasiswa Papua

Tahun 1998 mahasiswa Papua yang berada di luar pulau Papua: Manado, Bali, hingga Jawa berkumpul di Jakarta untuk melakukan aksi demonstrasi untuk memprotes atas rentetan peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi di tanah Papua. Tindakan aksi protes itu memuncak dari peristiwa operasi militer Mapenduma tahun 1996, Biak berdarah tahun 1998, kematian Dr.Thomas Wanggai tahun 1997 dan seterusnya. Demonstrasi tersebut berlangsung selama 3 hari. Lahirnya organisasi Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) berawal dari aksi-aksi tersebut. AMP didirikan pada 27 Juli 1998 di Jln. Manggarai, Jakarta Selatan.

Arah Juang

Seperti semangat awal mahasiswa Papua melahirkan organisasi AMP pada 27 Juli 1998 silam bahwa melancarkan perlawanan merupakan jalan mengakhiri penindasan di tanah West Papua. Melawan imperialisme, kolonialisme, dan militerisme sebagai dalang kejahatan dan penjajahan di Papua.

Dengan adanya aksi-aksi demonstrasi tersebut selama tiga hari berturut-turut dengan harapan negara segera berikan hak menentukan nasib sendiri bagi West Papua pun tidak dijamin oleh negara. Sehingga kawan-kawan pada saat itu berinisiatif untuk membentuk sebuah wadah gerakan mahasiswa untuk mempelopori mahasiswa di seluruh Indonesia dengan tujuan untuk terus menggalang dan mempelopori mahasiswa Papua untuk terus melakukan perlawanan. Maka, tepat di Jalan Guntur Kawi, Manggarai, Jakarta Selatan, pada 27 Juli 1998, AMP dilahirkan.

Sejak itu aksi demonstrasi dan diskusi menjadi wajah gerakan AMP sebagai bentuk perlawanan mahasiswa kepada musuh utama: imperialisme, olonialisme, dan militerisme.

Sudah 24 tahun AMP berjuang. Dalam perkembangannya mengalami dinamika maju-mundur, memahami banyak kekurangan dan kemajuan dalam perjalanannya. Hingga tahun 2018, di Kongres Nasional ke-IV di Yogyakarta, AMP membawa panji bangun solidaritas dan persatuan nasional sebagai syarat menuju pembebasan nasional West Papua.

Berdasarkan pengetahuan sejarah dan pengalaman perjuangan kawan-kawan di belahan dunia lainnya, juga menyadari sistem penindasan yang terstruktur rapi, melalui berbagai diskusi pembacaan situasi, perdebatan yang panjang, hingga kritik-kritik gerakan mengenai arah perjuangan AMP, di Kongres ke-II tahun 2010 di Port Numbay, West Papua juga, AMP menetapkan dua tahap strategi dan taktis perjuangan AMP seperti yang dijelaskan Vlamidir Lenin dalam Revolusi Sosialis dan Hak Sebuah Bangsa untuk Menentukan Nasib Sendiri, yakni, rebut revolusi demokratik atau hak menentukan nasib sendiri bagi West Papua, selanjutnya adalah rebut revolusi sosialis. Artinya sampai Papua merdeka terwujud AMP akan terus berjuang hingga revolusi sosialis terwujud di West Papua.

AMP juga menyadari bahwa titik atmosfer perlawanannya ada di luar Papua, sehingga berdasarkan stratak dan platform, tugas utama AMP adalah membangun solidaritas seluas-luasnya, belajar melawan bersama kaum buruh, tani, kaum miskin kota, LGBT, dan kelompok tertindas lainnya di Indonesia.

Sebab melawan imperialisme yang mengkoloni membutuhkan kekuatan yang besar dan massa rakyat yang sadar. Tidak hanya kekuatan rakyat Papua saja, atau rakyat tertindas Indonesia, atau massa rakyat tertindas di seluruh dunia dalam teritori yang tertutup oleh batas-batas negara dan nasionalisme sempit.

Oleh karena itu, membangun solidaritas dengan semangat anti terhadap penindasan, atas nama kemanusiaan merupakan cerminan dari perjuangan jangka panjang AMP yang bermimpi tidak hanya sampai pada tahap kemerdekaan atau mendirikan suatu negara saja. Semangat perjuangan AMP melampaui itu semua. Bahwa tidak sekedar mendirikan sebuah negara yang pada perkembangannya juga akan melahirkan embrio borjuis dan rakyat tertindas. Bahwa revolusi demokratik merupakan jalan menuju perjuangan menciptakan rakyat Papua yang bahagia. Maka pembebasan nasional merupakan syarat merebut demokrasi, membangun sumber daya manusia dengan mengedepankan solidaritas dan kekuatan persatuan rakyat tertindas seluruh dunia.

Rakyat harus bebas dari segala macam bentuk penindasan. Dan kekuatan rakyat tertindas sendiri dapat membebaskan dirinya dari cengkraman penindasan. Sebab kebebasan tidak akan datang sendiri. Tidak akan diberikan cuma-cuma juga oleh kaum penindas. Bahkan pembebasan tidak akan pernah jatuh dari langit tanpa rakyat bergerak-berjuang. Bahwa perjuangan pembebasan rakyat West Papua merupakan bagian dari pembebasan rakyat tertindas di dunia. Juga, kemenangan rakyat Papua juga ditentukan oleh seberapa besar kekuatan dan kesetiaan terhadap perjuangan pembebasan terhadap rakyat tertindas.

Tugas Mendesak

Berangkat dari semangat dan arah juang, AMP menyadari bahwa sebagai organisasi mahasiswa progresif yang memperjuangkan impian dan cita-cita rakyat Papua sebagaimana orientasinya, tugas pokok dan kewajibannya adalah belajar. Belajar dan berjuang dengan berbagai metode, belajar apapun ilmunya, merefleksikannya, dan mengkritisinya. Kemudian belajar berjuang bersama-sama rakyat. Sebab mahasiswa bukan kelompok yang terpisah dari rakyat tertindas, tetapi mahasiswa disebut kaum intelektual karena mereka bagian elemen yang terdidik dari rakyat tertindas. Lantas dengan memiliki waktu privasinya, dengan kekayaan ilmu dan kemampuan merefleksi watak dan karakter serta pola penghisapan dari sistem yang menindas, mampu/dapat memimpin keinginan pembebasan rakyat tertindas ke arah juang yang jelas, yakni anti terhadap segala bentuk penindasan. Membangun budaya kerakyatan, demokratis, setara, partisipatif, terpimpin, dan kolektif.

Oleh karena itu tugas pokok mahasiswa, gerakan mahasiswa papua adalah belajar: belajar apapun ilmu pengetahuan, belajar berjuang bersama-sama untuk melatih mental dan keberanian, dan belajar berjuang secara bersama-sama.

Maka tugas organisasional gerakan mahasiswa adalah proses penyadaran, kaderisasi, dan melahirkan subjek pejuang yang siap menyuguhkan ilmu pengetahuan serta mempersembahkan hidupnya untuk perjuangan Papua. Hanya dengan itu gerakan rakyat Papua dapat memastikan siapa kawan dan lawan berdasarkan. Sudah tak relevan lagi organisasi gerakan rakyat memilih kawan dan lawan berdasarkan warna kulit, ras, agama, entitas, atau pun dasar perbedaan yang tidak akan bertahan lama.

AMP dan Misi Papua Merdeka

Di tengah situasi rakyat Papua yang dihadapkan dengan penjajahan kolonialisme, kapitalisme, dan militerisme, tugas AMP adalah:

Pertama: propaganda. Kerja propaganda adalah tugas penting bagi siapa pun yang resah dan gelisah atas ketertindasan di West Papua. Tugas pokok seorang aktivis adalah propaganda. Seorang propagandis mampu menjelaskan situasi ketertindasan di West Papua dari berbagai perspektif, dengan menyajikan banyak gagasan tentang situasi hari ini. Tugas kita adalah tidak hanya sebatas meyakinkan rakyat tertindas, tetapi membuatnya sadar akan siapa musuh rakyat Papua, dan mengapa kita harus melawan secara bersama-sama.

Apapun bentuk organisasinya, seberapa radikal progresif suatu organisasi, hal itu akan tampak jalan di tempat apa bila tidak diperkaya dengan kerja-kerja propaganda.

Seorang propagandis mampu menganalisis situasi konkret hari ini dan mampu menjelaskan secara detail mengapa penindasan terus terjadi dari waktu ke waktu. Mengapa penguasa mempertahankan kekuasaannya untuk menjajah. Sebab kekuasaan yang menjajah itu menjadi nafas bagi penindas untuk tetap bertahan hidup. Hidupnya akan berakhir ketika kekuasaan itu berakhir. Oleh karena itu Ia tetap pelihara kondisi kebutaan dan keterlenaan rakyat tertindas dibawah kekuasaan, dan terus menghegemoni rakyat tertindas untuk tidak melawan, takut, taat, dan tunduk dibawah segala bentuk aturan penguasa. Lantas tugas seorang propagandis adalah mengambil alih kesadaran rakyat tertindas untuk sadar dan bangkit melawan. Hal itu dapat dilakukan dengan kerja-kerja propaganda yang masif.

Bentuk-bentuk propagandanya menulis dan oral. Memanfaatkan segala panggung, ruang-ruang propaganda dan menyebarkan gagasannya. Mulai dari ruang diskusi yang terbatas hingga di tengah-tengah massa luas. Juga melalui propaganda tulisan, disebarluaskan melalui media yang dapat menyirkul informasi dan gagasan pro demokrasi. Minimal organisasi gerakan harus memiliki alat propagandanya sendiri.

Kedua: konsolidasi persatuan. Sejak tahun 2018 AMP telah mengumandangkan tentang pentingnya konsolidasi persatuan. Hal ini manfaatnya untuk: pertama, persatuan dibentuk sebagai konsolidasi kekuatan yang sebelumnya bergerak secara terpisah-pisah. Kedua, untuk membangun watak kebudayaan nasional yakni budaya melawan bersama, watak anti terhadap musuh bersama, belajar kolektif, demokratis, dan partisipasi terhadap perbedaan-perbedaan substansial yang tak bisa dihindari oleh hukum alam. Ketiga, konsolidasi persatuan itu dilakukan untuk membangun satu ketukan dari semua perbedaan-perbedaan yang melahirkan satu irama, yakni harmonisasi. Persatuan dibangun bukan untuk menyamaratakan perbedaan-perbedaan dalam hal prinsipil, atau pun perbedaan fundamental lainnya menjadi satu. AMP menghindari proses konsolidasi persatuan semacam itu. Apa lagi konsolidasi persatuan yang dibangun melalui proses ketidakdemokratisan dan pembatasan kebebasan propaganda.

Ketiga: aksi terpimpin. AMP menghendaki aksi terpimpin. Lantas kerja propagan dan konsolidasi persatuan itu dilakukan dibawa keputusan bersama dan kesatuan tindakan. Oleh karena itu semangat kerja propaganda dan seruan konsolidasi persatuan, hal itu dikerjakan guna mendorong aksi terpimpin, terkomando, oleh rakyat tertindas yang sadar untuk menciptakan kondisi objektif yang baru.

Mengapa? Sebab rakyat tertindas sebagai subjek yang merasakan ketertindasan, juga subjek pejuang. Oleh karena itu hanya rakyat tertindaslah dapat memimpin dirinya sendiri dalam melancarkan aksi-aksi perlawanannya mulai dari hutan, desa ke kota, hingga di dunia internasional. Oleh karena itu cara pandang dan berfikir gerakan melihat siapa pemimpin kita, siapa yang bertanggung jawab atas aksi-aksi perlawanan hari ini, itu adalah rakyat pejuang. Bukan elit politik, bukan juga aktivis yang berwatak borjuis, apalagi mereka yang oportunis. Organisasi, aliansi, front hanyalah alat. Tetapi sumber ide, sumber senjata, dan pelaku atas perjuangan ini, betul-betul harus disandarkan kepada rakyat tertindas. Agar rakyat meniti harapannya di hari-hari perjuangannya, dan menemukan jawabannya di medan juang. Sebab proses itu kebahagiaan, baginya disitu ada titik kemerdekaanya.

Demikian.

Atas nama perjuangan Pembebasan Nasional West Papua, atas nama organisasi sebagai alat perjuangan, atas nama para martir dan pejuang yang berjuang telah mendahului, dengan penuh semangat dan bangga, mewakili Komite Pusat Aliansi Mahasiswa Papua, kami mengucapkan salam hormat dan Selamat Hari Ulang Tahun AMP yang ke-24.

Medan juang, 27 Juli 2022

Komite Pusat Aliansi Mahasiswa Papua

Ketua Umum

Jeeno Dogomo

Redaksi Lao-Lao
Teori pilihan dan editorial redaksi Lao-Lao

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Pendidikan dan Kunci Memasuki “Dunia Mereka Sendiri” 

Z. K. Rumbrar menulis laporan singkat aktivitasnya sebagai guru...

Korupsi Lukas Enembe, Mutilasi 4 Warga Sipil, dan Kepentingan Investasi

Hari-hari ini pasca Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe (LE) ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada...

Corak Produksi Manusia Papua Dulu dan Kini

Berawal dari sejarah geologinya. Sebelum zaman pencairan es yang terjadi sekitar 80.000-12.000 tahun lalu, pulau Papua, benua Australia dan...

BBM Naik, Harga Angkutan Naik: Cerita dari Kampung Dormena, Jayapura

Pada tanggal 11 September 2022, pukul 11:21 WIT, saya dengan kakak Yason Ngelia lakukan perjalanan dari Ekspo, Kota Jayapura...

Kelompok Ongohbete dan Nenandubete Minyak Kayu Putih di Kampung Wasur Merauke  

Suatu hari di Kampung Wasur, Kabupaten Merauke, tepatnya 12 April 2016, saya menuju ke rumah Kepala Kampung Wasur saat...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan