Catatan dari Kampung Kisah dari Balik Kabut Ilugwa

Kisah dari Balik Kabut Ilugwa

-

Seorang anak perempuan, saya duga baru kelas 4 SD berdiri di samping pagar tanpa menggunakan seragam sekolah. Sekolah mereka di salah satu wilayah pegunungan tengah Papua belum aktif. Hanya beberapa anak yang lari-lari dan sebagian lagi berkumpul di samping gedung guru. Seorang guru dengan bersemangat memainkan mesin babat memotong rumput di halaman sekolah.

Anak perempuan tersebut saya perhatikan memegang buku tulis dan pelajaran sekolah sambil memperhatikan teman-temannya bermain. Gedung sekolah berjejer dengan mewah dan relatif baru dibangun. Sebelumnya, ruang kelas dibangun swadaya oleh masyarakat kampung. Seharusnya tidak ada keluhan soal fasilitas. Apalagi dukungan masyarakat yang besar untuk perkembangan sekolah.

Komunitas, khususnya di tanah Papua, sering dianggap sebagai penghambat perkembangan pendidikan formal. Pandangan ini kental nuansa kemajuan dan mendiskriminasi cara komunitas mendukung pendidikan. Alasannya yang sering digunakan adalah “masyarakat Papua belum faham, mampu, atau mengikuti perkembangan”. Implikasinya, pendidikan formal berjalan sendiri menjauh dari pergumulan komunitas.

Saya teringat pemikiran Yusuf Bilyatra Mangunwijaya (1999; 2020) bahwa setiap sistem pendidikan ditentukan oleh filsafat tentang manusia (dan masyarakat) dan citra manusianya yang dianut, sehingga tidak pernah netral, dengan kata lain ideologis. Jika demikian situasinya, apakah bisa mencerdaskan bangsa Papua tanpa mengetahui filsafat manusia dan masyarakat Papua? Atau bahkan hanya dengan mengandalkan pendidikan formal yang tercerabut dari akar kehidupan orang Papua sendiri?

Pagi itu, meski selalu berkabut, saya rasakan cuaca akan cerah. Sudah tiga hari kami di Ilugwa, selalu saja cuaca seperti ini. Kadang pada menjelang sore mulai hujan rintik-rintik. Tapi satu yang pasti, selalu saja Ilugwa berkabut. Hari ini semestinya adalah hari masuk sekolah pertama. Anak-anak hanya sedikit saja yang berseragam merah putih. Wajah mereka cerah, bersemangat, dan sudah tentu lincah untuk bermain di halaman depan maupun belakang sekolah. Anak-anak tersebut datang dari beberapa kampung untuk bersekolah di ibukota distrik. Sudah lengkap tersedia sekolah dari SD, SMP, hingga SMA.

Gedung dan sekolah sudah berdiri megah, meski sering ada pertanyaan soal kehadiran guru dan proses pembelajarannya. Saya tidak setuju pendapat yang menyalahkan anak-anak Papua yang bersemangat bersekolah ini. Mereka adalah korban dari keseluruhan sistem pendidikan dasar yang lumpuh. Sistem yang seolah kehilangan daya menghadapi kompleksitas pendidikan dasar di tanah Papua. Saya juga menentang pandangan yang menyalahkan anak-anak Papua akibat dari abainya tanggungjawab berbagai pihak. Menyalahkan peserta didik adalah pengingkaran terhadap seluruh permasalahan struktural dan sistem pendidikan yang bobrok. Pengabaian permasalahan inilah yang terus dilestarikan, dipelihara, bahkan “dikembangbiakkan”.

Suasana pagi di Kampung Ilugwa, Kabupaten Mamberamo Tengah. Foto: I Ngurah Suryawan.
Suasana pagi di Kampung Ilugwa, Kabupaten Mamberamo Tengah. Foto: I Ngurah Suryawan.

Saya kembali mengingat anak-anak ini yang sepenuh hati dan tulus menerima ilmu pengetahuan. Bagai kertas putih yang menunggu terbentuk oleh pendidikan di sekolah. Mereka berjuang mendapatkan pendidikan di tengah segala keterbatasan dan pengabaian. Cahaya yang selalu mereka rindukan adalah mendapatkan pendidikan dasar yang penuh kasih sayang dan tulus. Pertanyaannya, adakah hal itu di tengah silang sengkarut pengingkaran dan pengabaian?

Peletak Pondasi

Kami mewawancarai Bapak Bertus Mabel, guru tidak tetap di SD Inpres Melanggama, Kampung Ilugwa, Mamberamo Tengah di ruang gereja GIDI. Foto: I Ngurah Suryawan.
Kami mewawancarai Bapak Bertus Mabel, guru tidak tetap di SD Inpres Melanggama, Kampung Ilugwa, Mamberamo Tengah di ruang gereja GIDI. Foto: I Ngurah Suryawan.

Salah satu peletak dasar, pemberi warna, bahkan merubah wajah pendidikan di tanah Papua, terkhusus di wilayah Papua pegunungan adalah agama, dalam hal ini gereja dengan berbagai denominasinya. Perannya sangat penting dengan berbagai narasi kelebihan bahkan kekurangannya menuntun yang dianggap sebagai “jalan terang” peradaban orang Papua. Pandangan ini tentu saja sangat bias “Barat” dan kolonialistik yang mengandaikan bangsa yang beradab dan tidak beradab, dan tentu saja menggambarkan kelas-kelas sosial manusia.

Bagi saya, menuntun “jalan terang” ini sangat problematik, bukan saja dari perspektif teologis, tapi juga relasi kekuasaan yang berkaitan dengan terminologi “terang” dan lawannya, yaitu “gelap”. Keinginan memberadabkan juga berkaitan dengan menjadikan komunitas berubah sesuai dengan ukuran dan ideologi dari perspektif yang memberadabkan.

Selain proses pemberadaban dengan menyebarkan agama, gereja juga melakukan misi pendidikan yang berperan sangat penting di tanah Papua. Yayasan pendidikan berbasis gereja masuk ke pendidikan formal dari mulai SD hingga perguruan tinggi.

Misi agama dan pendidikan kemudian berhadapan dengan adat, budaya, dan teologi pribumi dengan orientasi yang berbeda. Perspektif teologis agama sudah lama dikembangkan melalui kajian-kajian sejarah penginjilan dan gereja yang tersebar luas. Begitu juga adaptasi teologi agama dan budaya serta adat.

Ke depan, kajian yang mengedepankan perspektif pribumi, sebagai usaha komunitas lokal untuk merespon kehadiran pengaruh luar menjadi sangat penting dilakukan. Komunitas lokal sudah tentu tidak pasif. Mereka memiliki orientasi-orientasi tersendiri dalam merespon perubahan, yang sayangnya alpa kita cermati dan pahami lebih mendalam. Pada konteks inilah terletak pengetahuan dan daya orang Papua.

Bangunan Gereja GIDI di Kampung Ilugwa, Mamberamo Tengah pada minggu pagi saat kami berkunjung. Foto: I Ngurah Suryawan.
Bangunan Gereja GIDI di Kampung Ilugwa, Mamberamo Tengah pada minggu pagi saat kami berkunjung. Foto: I Ngurah Suryawan.

Sekolah Melampaui Gedung

Pendidikan bukan hanya jejeran gedung itu memang betul. Tapi, bagaimana jika masyarakat bersemangat untuk mendirikan gedung sekolah agar anak-anak mereka bisa bersekolah? Ini tentu lain ceritanya. Kisah inilah yang kami temukan di sebuah kampung di daerah pegunungan tengah Papua. Terdapat dua bangunan berbahan papan besar dan satu bangunan kecil yang merupakan kantor. Berikutnya adalah bangunan kelas yang dibuat oleh pemerintah.

Jika disebutkan bahwa komunitas, khususnya masyarakat Papua di pedalaman tidak peduli dengan pendidikan anaknya, dengan kasus ini jelas terbantahkan. Masyarakat secara bersama-sama menyumbang kayu dan seluruh bahan untuk membuat ruang kelas. Begitu juga sumbangsih mereka dalam membuat pagar mengelilingi wilayah sekolah. Prakarsa ini tentu jadi pelajaran penting bahwa sungguh dini anggapan bahwa komunitas di Papua tidak peduli dengan pendidikan. Buktinya mereka bisa membangun ruang kelas secara mandiri, tanpa bantuan. Justru dengan masuknya berbagai bantuan dana cash transfer, prakarsa masyarakat menjadi sunguh-sungguh ditantang.

Dalam komunitas, di seantero tanah Papua, pasti kita temukan sosok-sosok yang mengabdi secara total dan tulus untuk pendidikan di kampungnya. Begitu juga yang kami temukan di Kampung Ilugwa. Bapak yang saya peluk ini mungkin adalah tauladan dari apa yang sangat mahal harganya di negeri ini: ketekunan lapis dengan konsistensi. Bapak adalah seorang guru SD di wilayah pegunungan tengah yang sudah mengabdi 20an tahun lebih sebagai Guru Tidak Tetap(GTT). Namanya Bapak Bertus Mabel.

Saya bersama Bapa Bertus Mabel, guru tidak tetap di SD Inpres Melanggama, Kampung Ilugwa, Mamberamo Tengah. Foto: Tri Arisanti.
Saya bersama Bapak Bertus Mabel, guru tidak tetap di SD Inpres Melanggama, Kampung Ilugwa, Mamberamo Tengah. Foto: Tri Arisanti.

Kami menemuinya pertama kali di tengah ibadah minggu di gereja. Bapak dia sibuk menulis di mimbar depan ayat-ayat suci yang dibacakan pada ibadah pagi itu. Kami kemudian dipersilahkan memperkenalkan diri sebagai orang baru yang hadir di kampung mereka. Bapak dia menyaksikan perkembangan penddidikan di kampung sendiri, ketika gereja dan masyarakat bersatu untuk mendirikan sekolah formal. Perjuangan mengenyam pendidikan formal dilaluinya dengan penuh tantangan. Dari kampung menuju Wamena hingga mencari sekolah yang bisa meluluskannya, hingga berhasil mengenyam pendidikan Sarjana Pendidikan Agama Kristen.

Berbekal pengalaman dan pengetahuan itu, anak-anaknya tersebar di Manokwari dan Wamena untuk menyelesaikan pendidikan tinggi. Satu sudah menyelesaikan studinya di Manokwari dan kini membantu sebagai guru di SMP di kampung. Kami bertemu dengan beliau pertama di dapur ketika banyak keluarga berkumpul putar papeda. Kami kemudian bergeser ke gereja dan bercerita panjang lebar. Sudah 20an tahun lebih bapak dia menjadi guru, harapannya melihat anak-anak kampung menggantikannya melanjutkan perjalanan pendidikan di pegunungan tengah Papua.

Pagar dan bangunan tua gedung di SD Inpres Melanggama, Kampung Ilugwa, Mamberamo Tengah. Foto: I Ngurah Suryawan.
Pagar dan bangunan tua gedung di SD Inpres Melanggama, Kampung Ilugwa, Mamberamo Tengah. Foto: I Ngurah Suryawan.

Transmisi di Honai

Saat itu hari mulai gelap. Kabut sudah keluar menusuk tulang. Halaman “rumah sehat” (kata program pemerintah) dan honai yang kami tumpangi untuk menginap sudah penuh dengan kabut. Kalau sudah begini, jalan satu-satunya adalah masuk ke honai menghangatkan diri. “Rumah sehat” meski megah tidak mampu menahan tusukan cuaca dingin pegunungan. Sampai di honai dapur, mama, nenek, dan anak-anak sudah kumpul. Teko kopi juga sudah siap. Tunggu sedikit lagi air panas di tungku tempat kami berkeliling menghangatkan diri. Laki-laki diluruskan mendekat ke tungku api. Hangat sekali.

Kami mengajak anak-anak untuk bermain dan bercerita bersama di honai Kampung Ilugwa, Mamberamo Tengah. Foto: I Ngurah Suryawan.
Kami mengajak anak-anak untuk bermain dan bercerita bersama di honai Kampung Ilugwa, Mamberamo Tengah. Foto: I Ngurah Suryawan.

Bapak kepala keluarga di tempat kami menginap mengisahkan hampir sebagaian besar transmisi pendidikan berlangsung di honai. Seluruh kisah kehidupan satu hari itu akan saling berkelidan di honai. Mama berkisah tentang kesibukannya di kebun, mengurus babi, hingga mengurus anak-anak. Bapak bercerita kerja kebun gereja dan mengurus program kampung, dan anak-anak yang berkisah tentang dunianya bermain dan berinteraksi dengan banyak hal.

Begitulah honai menjadi ruang yang intim sekaligus hangat yang saya dan kawan-kawan rasakan. Lebih sehat dari “rumah sehat” dari program pemerintah itu. Suatu malam lain, mama-mama yang kumpul di sebelah kami berbicara dalam bahasa ibu mereka. Kakak yang menemani kami mendadak berbisik ke saya, “Mama-mama dong bicara kam itu. Dong heran mengapa kam semua mau tidur di Honai dan cerita-cerita deng kitorang ini.” katanya. Jadi hampir semua orang yang datang ke kampung ini tidak pernah tinggal di honai bersama masyarakat. Berkunjung ke Honai pun jarang. Hanya satu-satu saja. Itu termasuk kami.

Hampir setiap hari anak-anak berkunjung ke honai yang kami tempati di Kampung Ilugwa, Mamberamo Tengah. Foto: I Ngurah Suryawan.
Hampir setiap hari anak-anak berkunjung ke honai yang kami tempati di Kampung Ilugwa, Mamberamo Tengah. Foto: I Ngurah Suryawan.

***

Catatan: Esai Catatan dari Kampung ini adalah bagian dari riset etnografi tentang situasi pendidikan di wilayah Mamberamo Tengah dan Kabupaten Sorong yang difasilitasi oleh UNICEF dan Universitas Pendidikan Muhamadiyah (Unimuda), Sorong pada Juli – Agustus 2023. Laporan lengkap penelitian ini berjudul Trada Sekolah di Kebun dan Dusun Sagu Kah?: Etnografi Pendidikan di Kabupaten Mamberamo Tengah dan Kabupaten Sorong (2023).

I Ngurah Suryawan
Penulis adalah antropolog dan dosen di Universitas Papua (Unipa), Manokwari, Papua Barat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Media Massa, Rasisme Struktural, dan Legitimasi Kekerasan di Papua

Pada tahun 1915 sampai dengan 1918, pada saat Perang...

Misi Pemberadaban Dalam Pendidikan Formal di Papua (Bagian I)

“Anak-anak Papua itu bodoh. Nakal. Susah diajarkan, tra bisa diatur.” Ungkapan-ungkapan semacam memancing pertanyaan, apakah kebodohan itu imanen saat...

Ancaman Kekerasan Berbasis Gender Online di Papua

“Saya trauma, tidak mau buka facebook lagi.” Dunia maya saat ini menjadi ruang tanpa dibatasi waktu dan biaya. Dunia maya...

Mambesak: Ancaman Terhadap Pemerintah Indonesia

Musik memiliki beberapa fungsi. Dalam fungsi estetika, musik menghasilkan keindahan dan dalam fungsi sosialnya, musik berkontribusi untuk mensosialisasikan ekspresi...

Relevansi Teologi Feminis Bagi Perjuangan Pembebasan di Papua

Teologi feminis adalah suatu usaha menalar hal-hal kepercayaan kepada Tuhan dan keagamaan dalam sudut pandang feminis. Kata Feminis sendiri...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan