Analisa Harian Komunikasi Massa, Pandemi, dan Psikologis Rakyat Papua

Komunikasi Massa, Pandemi, dan Psikologis Rakyat Papua

-

Ditengah pandemic Covid-19 ini dan sesuai dengan anjuran pemerintah bahwa bekerja, belajar dan ibadah dari rumah saja, maka kerap muncul perilaku tertentu, terkhusus di kalangan mahasiswa saat harus belajar dari rumah, apalagi kalau ditinjau lagi dari awal Covid-19 ini diketahui bahwa sudah masuk di Indonesia. Tepat di tanggal 16 Maret 2020 itu social/pyshical distancing pun mulai diberlakukan.

Tentunya ditengah pandemic Covid-19 ini dan dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintah pun akan berimbas kepada semua elemen di negara Indonesia, entah itu pendidikan, pekerjaan, maupun setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia.

Jika ditinjau kembali lagi memang peran media begitu besar, berkoar-koar membicarakan bahkan mempublikasikan mengenai bahaya dari wabah ini. Dan jika kita melihat ke belakang, dua bulan lalu khalayak dibuat panik oleh setiap pemberitaan di media entah itu media lokal, nasional sampai internasional, sehingga muncul beberapa perilaku tertentu yang diakibatkan oleh pemberitaan di media mengenai wabah ini salah satunya seperti panik massal, karena informasi yang terus disebarkan oleh media. Tidak hanya itu tetapi juga fenomena sosial yang terjadi akibat pandemi Covid-19 dan jika dikaji dari Psikologi Komunikasi yaitu bahwa dengan adanya pandemi ini sangat menggangu kondisi psikologis juga fisiologis manusia akibat dibombardir berita tentang wabah  dimana-mana.

Saya pun mengalami hal yang sama terkhusus di hari-hari awal ketika wabah ini melanda Indonesia, dengan melihat berita-berita bahkan sebaran foto, juga tulisan tentang wabah membuat  saya benar-benar terguncang dan terganggu. Tentu hal tersebut tidak hanya dirasakan oleh saya saja tetapi juga oleh mereka yang menjadi korban atas berita-berita atau informasi yang tersebar di media bahkan pun seluruh Indonesia. Saya yang tinggal jauh dari keluarga memiliki tingkat kecemasan yang sangat tinggi.  Namun ternyata  banyak warga Indonesia juga cemas dengan keadaan ini.

Gangguan ini disebut psikosomatik yaitu kondisi ketika tekanan psikologis mempengaruhi fungsi fisiologis (somatik) secara negatif sehingga menimbulkan gejala sakit. Dan dengan wabah ini gejala psikosomatik yang muncul yaitu seperti tekanan darah meningkat, terciptanya rasa sakit di dada dan denyut jantung yang meningkat. Dan jika dilihat dari kajian psikologi komunikasi maka sebenarnya saya (kita) cenderung untuk memahami atau mendeskripsikan berita/informasi yang tersebar dengan sangat cepat dan tidak meramalkan informasi tersebut dengan baik sehingga yang terjadi adalah kita tidak mampu mengendalikan informasi tersebut dengan baik sehingga itu mempengaruhi proses mental juga perilaku kita dan memori pun akan terganggu karena terus muncul informasi-informasi itu yang mendistraksi pikiran kita.

Jadi dalam situasi ketidakpastian akibat pandemic Covid-19, komunikasi massa memang benar-benar memainkan peran utama dalam mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat selain yang sudah saya paparkan diatas. Pemberitaan di media massa baik cetak maupun elektronik dalam konteks komunikasi sesungguhnya memainkan peran perilaku panic buying di masyarakat, sampai kalau ditinjau lagi awal itu masyarakat beramai-ramai  membeli masker dan hanitizer untuk kebutuhan perlindungan diri supaya tidak terpapar oleh Covid-19,  perilaku tersebut pun berdampak kepada masker kesehatan yang seharusnya dalam situasi disaat itu bahkan sekarang ini dibutuhkan oleh tenaga kesehatan akhirnya menjadi barang yang langka, habis di pasaran bahkan sampai harganya melonjak naik. Ini sebagai akibat dari pemberitaan media massa yang terus-menerus menampilkan kengerian yang akhirnya menjadi toxic bagi psikologis masyarakat.

Tidak hanya itu, media massa pun memainkan peran penting dalam perubahan perilaku masyarakat terhadap pandemic Covid-19, mulai muncul psikoedukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang disebarluaskan oleh media massa dan tentu meningkatkan pengetahuan masyarakat untuk menghindari tertularnya Covid-19 bahkan setiap hari pun kita disajikan data up to date tentang jumlah pasien positif, ODP, PDP, dll. Tentunya membuat kita bisa meningkatkan kewaspadaan dan himbauan dari pihak pemerintah kepada masyarakat, seruan pemuka agama bahkan pendapat para epidemiologi yang disebarluaskan di media massa paling tidak memunculkan persepsi, bahwa saat ini banyak orang sedang bekerja keras untuk membendung penyebaran wabah Covid-19.

Jadi dari narasi-narasi diatas, menunjukan bahwa komunikasi massa memiliki dua sisi yang sebenarnya berlawanan, yaitu masyarakat atau khalayak akan menimpakan “dosa” karena kegagalan komunikasi massa tapi di sisi lain juga, komunikasi massa diharapkan menjadi media efektif untuk mempengaruhi public secara positif.

Psikologi sebenarnya telah lama menelaah komunikasi massa dalam mempengaruhi perilaku penerima pesannya dan saya akan mengkaji tentang seberapa besar komunikasi massa ini mempengaruhi sistem kognisi dan afeksi khalayak dan pertanyaan utamanya adalah “Seberapa kuat komunikasi massa mampu mengubah dan mengarahkan sikap dan perilaku khalayaknya terkhusus di Papua?” seperti yang kita ketahui bersama bahwa Papua merupakan daerah yang agak sensitif dari media luar bahkan pemberitaan di Papua pun dibatasi atau terjadi pembungkaman aspirasi bahkan informasi dari luar ke dalam Papua ataupun sebaliknya dibatasi.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka saya mengajak  kita semua untuk terlebih dahulu harus mulai dari pengertian dan ruang lingkup komunikasi massa. Menurut Gerbner (dalam Rahkmat, 2016) bahwa komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri. Jadi pengertian tersebut sebenarnya memberikan gambaran bahwa komunikasi massa menghasilkan produk berupa pesan-pesan komunikasi, yang disebarkan dan didistribusikan kepada khalayak luas secara rutin, misalnya harian, mingguan, dwimingguan atau bulanan dan memang penting untuk digarisbawahi bahwa produk pesan tidak dapat dilakukan perorangan tetapi berupa lembaga dengan teknologi tertentu.

Pakar komunikasi lain, Meletzke juga mengartikan bahwa komunikasi massa yaitu sebagai setiap bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada publik tersebar dan penting digarisbawahi bahwa komunikan sebagai pihak penerima pesan berada dan tersebar diberbagai tempat, sehingga dapat disimpulkan bahwa komunikasi massa adalah jenis komunikasi yang ditujukan kepada khalayak yang tersebar, heterogen dan anominim melalui media cetak dan elektonik sehingga pesan dapat diterima secara serentak dan sesaat, yang diproduksi oleh bukan persorangan tetapi lembaga yang secara kontinyu.

Jadi dari uraian diatas kita dapat menjawab pertanyaan  “Seberapa kuat komunikasi massa mampu mengubah dan mengarahkan sikap dan perilaku khalayaknya terkhusus di Papua?” dan jawabannya adalah sangat kuat, karena tidak hanya mengubah atau mengarahkan sikap dan perilaku khalayak tetapi juga sampai mengganggu kesehatan psikologis bahkan fisiologis.

Saya melakukan kajian lagi bahwa ditengah model pemberitaan komunikasi massa di Indonesia ditengah wabah ini, tentu tidak terlepas dari pemberitaan berita hoax sampai pada penyebaran berita hoax yang dilakukan secara massal oleh para khalayak, dan saya akan memfokuskannya kepada bagaimana mahasiswa mengolah setiap berita yang dipublikasikan di komunikasi massa, dan untuk menarik relevansinya dengan situasi saat ini adalah saya mengkaji satu lagi film yaitu film Fehrenheit 461, film yang menceritakan tentang masa depan masyarakat yang akan anti buku dan di masa depan nanti itu hanya ada satu jejaring sosial yang juga tidak ada pesaing seperti dengan google bahkan tidak akan ada Facebook, Instagram bahkan Twitter, dll hingga hanya akan ada satu kecerdasan buatan yang disebut dengan Nine (9), di dalam kecerdasan buatan itu para partisipan hanya akan memberikan like atau emoticon smile, sehingga jika ketahuan ada masyarakat yang memiliki atau membaca buku maka masyarakat itu akan diberi hukuman dengan menghapus identitas di masa lalu bahkan rekam jejak digital pun dihapus jadi semua aktivitas atau informasi akan diterima dari kecerdasan buatan itu yaitu Nine (9) dan tentu itu berarti bahwa tidak akan ada penulis, wartawan bahkan youtuber, dan tidak hanya itu di film ini sebenarnya mendeskripsikan juga tentang bagaimana masa depan masyarakat yang akan anti buku dan pastinya akan ada krisis literasi lalu ketika saya kaji lagi dan saya tarik relevansinya dengan komunikasi massa di Indonesia yang tidak terlepas dari pemberitaan berita hoax maka sebenarnya dapat dilihat bahwa salah satu penyebab penyebaran berita hoax ini juga itu karena minimnya dunia literasi, dan memang juga saya lihat bahwa kehidupan masyarakat sekarang itu sudah anti buku, kenapa? berdasarkan pengalaman dan kajian saya juga bahwa salah satu faktor penyebab penyebaran berita hoax sebenarnya adalah karena minimnya dunia literasi, dan kurang kajian bahkan referensi dan analisa mengenai berita tersebut sehingga hanya asal membagikan berita (seperti yang sudah saya paparkan melalui kajian dan analisis saya mengenai masyarakat anti buku-krisis literasi di YouTube channel saya).

Jadi, kalau dilihat lagi fenomena sosial yang terjadi saat pandemic Covid-19 hingga saat ini, peran komunikasi massa sangat besar. Contoh lain bahwa 2 bulan terakhir media sedang gencar-gencarnya berbicara tentang Covid-19 dan kita para khalayak pun dikagetkan bulan lalu dengan pengalihan topik mengenai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seorang polisi hingga berakhir pada kematian yang terjadi pada seorang pria kulit hitam di Minneapolis, Amerika Serikat yaitu George Floyd yang akhirnya ketidakadilan itu dituntut dari beberapa negara besar dengan melakukan aksi untuk keadilan bagi George Floyd yaitu Black Lives Matter, dan pasti tidak hanya iitu saja tapi akan ada topik-topik menarik lainnya yang akan dimainkan oleh media, yang tentunya media yang adipower dan memiliki kekuasaan yang mampu mempersuasi dunia dan sebenarnya disini peran komunikasi massa jadi sangat penting, yang mampu mengecohkan fokus para khalayak, jika dikaji lagi dalam pendekatan psikologi maka dapat dilihat dari pendekatan behaviourism yaitu dengan melihat bagaimana lingkungan mempengaruhi perilaku masyarakatnya, dengan adanya pemberitaan massal mengenai topik-topik yang sudah saya paparkan diatas bahkan famplet, dsbnya itu mempengaruhi perilaku masyarakat khususnya di Papua yang wilayahnya masih tertutup dari dunia luar, diisoliasi dari informasi.

Dari apa yang telah saya paparkan diatas, sebenarnya ada model-model komunikasi massa yang dilakukan terkhusus dengan melihat pemberitaan di Papua yaitu model jarum hipodermik dalam komunikasi massa diartikan sebagai media massa itu dapat menimbulkan efek yang kuat, langsung, terarah, dan segera. Efek yang segera dan langsung itulah yang sejalan dengan artian “Stimulus-Respon”. Dan teori jarum hipodermik ini mengasumsikan bahwa media memiliki kekuatan  yang sangat perkasa dan komunikan dianggap sebagai pasif atau tidak tahu apa-apa.

Dan kalau kita berangkat dari premis bahwa sebenarnya realitas sosial itu tidak sesederhana pendekatan behavourism, kalau efek lingkungan akan berbeda pada individu yang berlainan karena memang manusia merupakan organisme yang aktif mengorganisasikan stimulus, ini berarti bahwa komunikan, individu (khalayak) bukanlah seorang yang pasif yang dapat didoktrin oleh propagandis (ahli propaganda), jadi komunikasi massa dari media massa atau komunikator massa memang memiliki pengaruh tapi ini juga harus disaring, diseleksi bahkan kalau mungkin ya ditolak sesuai dengan latar belakang personal yang mempengaruhi mereka.

Dan dalam psikologi komunikasi terdapat dua pendekatan untuk melihat faktor reaksi khalayak terhadap komunikasi massa yaitu pendekatan Melvin deFleur dan Sandra Ball-Roeach bahwa terdapat 3 konsep dasar; pertama adalah perspektif perbedaan individual, ini akan menentukan bagaimana individu memilih informasi dari lingkungannya dan bagaimana ia memaknai informasi tersebut dan perbedaan ini terkait sikap, nilai, kepercayaan bahkan pengalaman, contohnya seperti reaksi tentang himbauan social distancing antara kelas menengah dengan kelas bawah : Borjuis vs Sosialis. Kedua adalah perspektif kategori sosial, di dalam masyarakat terdapat kelompok social yang reaksinya terhadap stimulus (informasi) akan cenderung sama, artinya isi komunikasi yang sama dan akan memberi respons kepadanya dengan cara yang hampir sama pada kelompok sosial tersebut, contohnya seperti reaksi kelompok ojek online saat ada aturan pembatasan social berskala besar.

Ketiga adalah perspektif hubungan sosial, ini menekankan pentingnya peranan hubungan sosial yang informal dalam mempengaruhi reaksi orang terhadap bentuk komunikasi massa,  yaitu diperlukan peran opinion leader yang memiliki pengaruh personal terhadap khalayak, contohnya himbauan sembahyang di rumah saat  pandemic Covid-19 kalah efektif apabila yang menghimbau adalah seorang presiden/gubernur dibandingkan pemuka agama. Lalu pendekatan yang kedua adalah pendekatan uses and grafitication, yaitu pendekatan yang menekankan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Khalayak adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi, khalayak berusaha untuk mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenuhi kebutuhannya, artinya teori uses and grafitication mengasumsikan bahwa khalayak sebenarnya mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya.

Sehingga dapat saya simpulkan bahwa pengaruh komunikasi terhadap psikologis bahkan fisiologis terhadap masyarakat Papua di tengah pandemic Covid-19 ini dengan melihat dua pendekatan tersebut sebenarnya sangat mempengaruhi perilaku dan tingkah laku masyarakat di Papua. Jadi, kalau teori uses and grafitication mengasumsikan bahwa khalayak sebenarnya mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya, maka sebenarnya yang terjadi di Papua adalah sebaliknya, malah medialah yang melakukan segalanya untuk memuaskan kebutuhan mereka dengan menggunakan model jarum hipodermik.

Jadi memang perlu dikaji lagi, bahwa seperti yang sudah saya paparkan diatas sebelumnya bahwa Papua diisolasi dari informasi sehingga untuk melihat bagaimana pengaruh komunikasi massa terhadap masyarakat Papua yang sangat labil dan berdekatan dengan berita propaganda dan hoax, maka perlu kajian-kajian bahkan analisis-analisis lagi bagi para pegiat komunikasi massa, sehingga apa yang diinformasikan pun tidak mempengaruhi psikologis bahkan fisiologis masyarakat Papua.

 

Referensi:

  1. Rakhmat J. (2008). Psikologi Komunikasi. Penerbit: Pt Remaja Rosdakarya
Ekyen Rellyx Kenangalem
Penulis adalah mahasiswi Papua yang berasal dari Kabupaten Yahukimo, Papua. Saat ini penulis sedang menempuh pendidikan di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, Jurusan Psikologi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Pendidikan dan Kunci Memasuki “Dunia Mereka Sendiri” 

Z. K. Rumbrar menulis laporan singkat aktivitasnya sebagai guru...

Korupsi Lukas Enembe, Mutilasi 4 Warga Sipil, dan Kepentingan Investasi

Hari-hari ini pasca Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe (LE) ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada...

Corak Produksi Manusia Papua Dulu dan Kini

Berawal dari sejarah geologinya. Sebelum zaman pencairan es yang terjadi sekitar 80.000-12.000 tahun lalu, pulau Papua, benua Australia dan...

BBM Naik, Harga Angkutan Naik: Cerita dari Kampung Dormena, Jayapura

Pada tanggal 11 September 2022, pukul 11:21 WIT, saya dengan kakak Yason Ngelia lakukan perjalanan dari Ekspo, Kota Jayapura...

Kelompok Ongohbete dan Nenandubete Minyak Kayu Putih di Kampung Wasur Merauke  

Suatu hari di Kampung Wasur, Kabupaten Merauke, tepatnya 12 April 2016, saya menuju ke rumah Kepala Kampung Wasur saat...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan