Pilihan Redaksi Rosa Luxemburg: Pemogokan Massa (Bagian I)

Rosa Luxemburg: Pemogokan Massa (Bagian I)

-

Rosa Luxemburg (1906)

Bab I

Revolusi Rusia, Anarkisme dan Pemogokan Umum

Hampir semua karya dan pernyataan sosialisme internasional tentang persoalan pemogokan massa ditentukan dari saat sebelum Revolusi Rusia pada tahun 1905, sebuah eksperimen historis pertama kali dalam skala besar yang bermakna perlawanan. Semua ini adalah bukti bahwa mereka sudah ketinggalan jaman. Pada dasarnya, titik sudut pandangan mereka adalah pandangan Engels yang pada tahun 1873 menulis kritik tentang kesalahan yang dibuat oleh revolusi Bakunin di Spanyol seperti di bawah ini:

“Pemogokan umum, dalam program Bakunin, adalah pengungkit yang sering digunakan untuk memperkenalkan revolusi sosial. Pada suatu pagi, semua pekerja di semua industri dalam suatu negara, atau mungkin di semua negara, akan berhenti bekerja, dan dengan demikian memaksa kelas-kelas yang berkuasa untuk menyerah selama 4 minggu, atau untuk melancarkan serangan pada semua pekerja sehingga para pekerja mempunyai hak untuk mempertahankan diri mereka sendiri, dan dapat mempergunakan kesempatan untuk meruntuhkan masyarakat lama. Tawaran-tawaran yang diberikan samasekali tidak baru: kaum sosialis Perancis dan Belgia telah memperagakannya secara terus menerus sejak 1848, tapi asal-usulnya tetap berasal dari Inggris. Selama perkembangan yang cepat dan kuat dari Chartisme (Chartism) pada kaum pekerja Inggris yang kemudian diikuti oleh krisis pada tahun 1837, bulan suci – suatu ketegangan kerja pada skala nasional – telah diajarkan secepat mungkin pada tahun 1839, dan telah diterima dengan baik juga bahwa pada bulan Juli 1842, para pekerja pabrik di daerah utara Inggris telah berusaha melakukannya. Dan pada kongres Aliansi di Geneva pada 1 September 1873, pemogokan umum memainkan peranan penting, tapi harus diakui pada semua sisi bahwa untuk melakukannya dibutuhkan sebuah organisasi kelas pekerja yang sempurna dan sebuah pertempuran penuh yang melegakan. Dan inilah sebenarnya inti pertanyaannya. Di satu sisi, pemerintah tidak akan pernah mengijinkan dana-dana kaum pekerja untuk berkembang menjadi lebih besar, terutama jika mereka didorong oleh ketidakhadiran kaum pekerja dari aksi politik, dan disatu sisi lain, peristiwa-peristiwa politik dan pelanggaran dari kelas yang berkuasa akan menghasilkan kebebasan dari kaum pekerja jauh sebelum kaum proletar akhirnya dapat membentuk organisasi yang ideal dan mendapatkan persediaan simpanan dana yang luar biasa besar. Tetapi jika mereka melakukan hal ini, mereka tidak perlu menggunakan jalan berputar dari pemogokan umum untuk mencapai tujuan mereka.”

 

Disini kita mempunyai alasan yang merupakan karakteristik tingkah laku dari sosial demokrasi internasional menuju pemogokan massa pada beberapa dekade setelahnya. Hal ini berdasar pada teori anarki pemogokan umum – yaitu teori pemogokan umum sebagai sesuatu yang mengawali revolusi sosial, berlawanan dengan perlawanan politik kelas pekerja pada umumnya – dan melemahkan diri mereka sendiri dalam sebuah dilema sederhana: jika kaum proletar sebagai sebuah keseluruhan belum menguasai organisasi yang kuat dan sumber-sumber keuangan yang dibutuhkan, maka dalam kasus ini mereka tidak dapat melaksanakan pemogokan umum: atau jika mereka telah terorganisir dengan cukup baik, dalam kasus ini mereka tidak membutuhkan pemogokan umum. Alasan-alasan ini sangat sederhana dan pada pandangan pertama tampak sangat tidak terbantahkan sehingga selama hampir seperempat abad, dapat memberikan pelayanan yang sempurna pada gerakan buruh modern sebagai senjata yang logis untuk melawan hantu-hantu anarkis dan sebagai sesuatu yang membawa ide-ide perlawanan politik pada lingkaran kaum pekerja yang lebih luas. Langkah-langkah besar yang dilakukan oleh gerakan buruh di semua negara-negara kapitalis selama 25 tahun terakhir ini adalah bukti yang paling meyakinkan dari nilai taktik perlawanan politik, dimana Marx dan Engels tetap bertahan untuk beroposisi dengan Bakunin; dan sosial demokrasi Jerman , dalam posisi barisan depannya atau seluruh gerakan buruh internasional, samasekali bukan produk langsung penerapan yang konsisten dan penuh semangat dari taktik-taktik ini.

Revolusi Rusia saat ini telah mengakibatkan perbaikan-perbaikan radikal pada alasan-alasan diatas, untuk pertama kali dalam sejarah perlawanan kelas, ia telah mencapai sebuah realisasi besar dari gagasan pemogokan massa dan – seperti yang akan kita diskusikan kemudian – bahkan telah mendewasakan pemogokan umum dan dengan demikian telah membuka babakan baru dalam perkembangan gerakan buruh.

Diikuti dari sini tidak berarti bahwa taktik perlawanan politik seperti yang direkomendasikan oleh Marx dan Engels adalah salah atau bahwa kritik-kritik yang diterapkan mereka kepada anarkisme adalah tidak benar. Sebaliknya, semuanya adalah gerbong gagasan-gagasan yang sama, metode yang sama, taktik Engels-Marxian, yang terdapat pada landasan praktek terdahulu dari sosial demokrasi Jerman, yang saat ini dalam Revolusi Rusia memproduksi faktor-faktor baru dan kondisi-kondisi baru dalam perlawanan kelas. Revolusi Rusia yang merupakan eksperimen historis pertama dari model pemogokan massa, tidak hanya tidak dapat menghasilkan sebuah usaha mempertahankan anarkisme, tapi sesungguhnya berarti penghapusan sejarah anarkisme.

Eksistensi yang menyedihkan ini oleh perkembangan kuat sosial demokrasi di Jerman ini dipandang sebagai kesalahan kecenderungan mental dalam dekade-dekade baru, dan pada tingkat tertentu dapat dijelaskan oleh dominion dan jangka waktu yang panjang dari periode parlementer. Suatu kecenderungan yang terpola pada ‘serangan pertama’ dan ‘aksi langsung’, sebuah tendensi ‘revolusioner’ yang telanjang, hanya dapat secara temporer mengendor dalam ketenangan massa parlementer dan pada kembalinya periode perlawanan terbuka secara langsung dapat hadir dan hidup kembali, dan membuka kekuatannya dari dalam.

Rusia, secara khusus, tampak menjadi lapangan eksperimental untuk jasa-jasa heroik anarkisme. Sebuah negara dimana kaum proletariat secara absolut tidak mempunyai hak-hak politik dan secara ekstrem lemah dalam berorganisasi, bagian-bagian dari populasi yang bermacam-macam dengan segala warna-warninya yang kompleks, kekacau-balauan akibat konflik kepentingan, standar pendidikan dalam massa rakyat yang lemah, brutalitas yang ekstrem dalam penggunaan kekerasan sebagai bagian dari rezim yang berlaku – semuanya ini tampak diciptakan untuk membangkitkan anarkisme secara tiba-tiba jika kekuatannya mungkin tidak berumur panjang. Dan akhirnya, secara historis Rusia adalah tempat kelahiran anarkisme. Tetapi tanah air Bakunin ini tampaknya menjadi tempat pemakaman bagi ajaran-ajarannya. Anarki di Rusia tidak hanya tidak berlandaskan pada gerakan pemogokan massa; tidak hanya seluruh kepemimpinan politik dalam aksi revolusioner dan juga pemogokan massa berada dalam genggaman organisasi sosial demokrasi dan kira-kira bisa dikatakan sebagai partai teroris, sosialis revolusioner, tetapi anarkis tidak secara sederhana berdiri sebagai kecenderungan politik yang serius dalam revolusi Rusia. Hanya dalam kota kecil Lithuania dengan kondisi kesulitan khusus – sebuah rangkaian kebangsaan berbeda-beda yang membingungkan antara pekerja, sebuah kondisi industri skala kecil yang terpencar-pencar secara ekstrem, proletar yang sangat tertindas di Bialystock, terdapat sekitar tujuh atau delapan kelompok-kelompok revolusioner, sedikit kaum anarkis setengah tumbuh yang meningkatkan kebingungan dan kekaguman antara kaum pekerja untuk kebaikan kemampuan mereka; dan terakhir di Moskow, dan mungkin di 2 atau 3 kota lainnya, dan sedikit orang yang diperhatikan. Tapi terpisah dari kelompok revolusioner yang sedikit, apa sebetulnya peranan anarkisme dalam Revolusi Rusia? Hal ini telah menjadi tanda bagi pencuri dan penjarah; proporsi yang besar dari pencurian-pencurian yang tidak terhitung dan tindakan penjarahan pribadi-pribadi telah dilakukan dibawah nama ‘anarkis-komunis’ – tindakan yang tumbuh seperti gelombang ribut melawan revolusi dalam setiap periode depresi dan dalam setiap periode sikap bertahan sementara. Anarkisme telah terjadi dalam Revolusi Rusia, bukan teori perlawanan proletar, tetapi simbol ideologis dari lumpenproletariat sebagai lawan revolusioner , yang seperti sekelompok ikan hiu, berkerumun dalam keterjagaan pertempuran revolusi. Dan bersamaan dengan itu, riwayat historis anarkisme segera berakhir.

Di sisi lain, pemogokan massa di Rusia telah disadari sebagai sesuatu untuk menghindari perlawanan politik kelas pekerja, khususnya bagi parlementarisme, bukan sesuatu yang melompat tiba-tiba dalam revolusi sosial seperti kup yang teatrikal, tapi pertama-tama sebagai sesuatu untuk menciptakan kondisi perlawanan politik terus menerus, khususnya bagi parlementarisme. Perlawanan revolusi di Rusia dimana pemogokan massa adalah senjata yang paling penting bagi kelas pekerja, juga bagi kaum proletariat, dipimpin oleh hak-hak politik dan kondisi-kondisi yang diperlukan dan pentingnya perlawanan bagi emansipasi kelas pekerja seperti yang dikemukakan oleh Marx dan Engels, dan dalam pertentangan mereka melawan anarkisme, lengkap dengan segala kemungkinan yang terjadi di International.

Proses dialektika historis yang mengguncang keseluruhan proses pengajaran sosialisme Marxian, sampai menghasilkan anarkisme dengan ide-ide pemogokan massa yang tidak dapat dipecahkan, telah dengan sendirinya tampil berlawanan dengan pemogokan massa; sebaliknya, pemogokan massa yang bertolak belakang dengan aktivitas politik kaum proletar, telah siap sebagai senjata yang paling ampuh dalam perlawanan memperjuangkan hak-hak politik. Jika Revolusi Rusia mempertanyakan pemogokan massa, dan kemudian membuat perbaikan-perbaikan fundamental pada landasan lama Marxisme, maka sekali lagi metode-metode dan pandangan Marxisme pantas mendapatkan hadiah. Para pemuja Moor hanya dapat mati dengan tangan Moor.

Bab II

Pemogokan Massa, Sebuah Sejarah dan Bukan Produk Artifisial

Revisi pertama atas pertanyaan pemogokan massa yang dihasilkan dari pengalaman Rusia berhubungan dengan konsep umum persoalan ini. Sampai saat terdapat sokongan penuh semangat atas usaha pemogokan massa di Jerman atas pengaruh Bernstein, Eisner, dsb., dan lawan terkuat dari usaha-usaha seperti yang direpresentasikan di kamp-kamp serikat dagang seperti Bomelburg, ketika semuanya telah dikatakan dan dilakukan, ternyata berdiri pada konsep yang sama. Begitu juga dengan sesuatu yang anarkis. Lawan yang berhadap-hadapan dengan jelas satu sama lain tidak saling mengeluarkan seperti halnya yang selalu terjadi dengan kondisi, tapi pada waktu yang bersamaan mendukung satu sama lain. Bagi kaum anarkis, pola pikir ini secara langsung mengarah pada spekulasi tentang ‘great Kladderadatsch’, dan pada revolusi sosial sebagai karakteristik eksternal dan tidak esensial belaka. Sesuai dengan hal ini, apa yang esensial adalah keseluruhan pandangan yang abstrak dan ahistoris tentang pemogokan massa dan semua kondisi perlawanan kaum proletar secara umum.

Bagi kaum anarkis, hanya terdapat dua perkiraan material untuk spekulasi revolusioner – yang pertama adalah imajinasi, dan kedua adalah kehendak baik dan keberanian untuk menyelamatkan umat manusia dari koyakan kapitalisme. Model yang aneh dari alasan-alasan yang diberikan 60 tahun yang lalu memberi harapan bahwa pemogokan massa adalah suatu langkah tercepat, terpasti, dan termudah, serta bermunculan dimana-mana untuk masa depan sosial yang lebih baik. Pola alasan yang sama baru-baru ini memberi hasil bahwa perlawanan serikat dagang merupakan satu-satunya ‘aksi massa langsung’ yang nyata dan juga satu-satunya perlawanan revolusioner yang nyata – dan seperti telah diketahui dengan baik adalah ide terakhir dari sindikasi Perancis dan Italia. Hal yang paling fatal bagi anarkisme adalah selalu metode perlawanan yang berimprovisasi sendiri dan tidak hanya berupa perhitungan tanpa asal. Untuk itu mereka bisa disebut kaum utopis murni. Tapi ketika mereka setidak-tidaknya tidak memperhitungkan realitas kejahatan yang dipandang rendah, satu-satunya tempat dimana mereka berasal, maka hal ini bisa dikatakan sebagai spekulasi revolusioner.

Pada landasan metode observasi yang abstrak dan ahistoris yang berdiri saat ini, para pemimpin akan mengagendakan persoalan pemogokan massa di Jerman, juga mereka, para partisipan dalam kongres serikat dagang di Cologne oleh pelarangan propaganda, akan mengurangi problem pemogokan massa dari muka bumi. Semua tendensi mengarah pada asumsi-asumsi anarkis murni yang lazim bahwa pemogokan massa adalah murni alat perlawanan teknis yang dapat segera ‘diputuskan’ sesuai dengan kesenangan dan keketatan sesuai dengan kesadaran, atau ‘terlarang’ – sejenis pisau saku yang dapat disimpan di saku siap siaga untuk ‘keadaan gawat darurat jenis apapun’, dan sesuai dengan keputusan, ia juga dapat tidak dilepaskan dan tidak digunakan. Lawan dari pemogokan massa benar-benar mengklaim keuntungan mempertimbangkan landasan historis dan kondisi material situasi saat ini di Jerman dalam oposisinya dengan kaum romantis revolusioner yang melayang-layang di udara, dan pada setiap poin tidak memperhitungkan situasi saat ini, lengkap dengan segala kemungkinan dan ketidakmungkinannya. ‘Fakta-fakta dan figur-figur; tokoh-tokoh dan figur-figur!’ jerit mereka, seperti Mr. Gradgrind dalam novel Hard Times karya Dickens.

Apa yang dipahami oleh serikat dagang – lawan dari pemogokan massa – tentang ‘landasan historis’ dan ‘kondisi material’ adalah dua hal – di satu sisi adalah kelemahan kaum proletariat, dan di sisi lain adalah kekuatan militerisme Prusia-Jerman. Organisasi pekerja yang tidak mencukupi dan bayonet Prusia yang mengagumkan – semuanya adalah fakta-fakta dan figur-figur dimana para pemimpin serikat dagang mendasarkan kebijakan praktis mereka dalam kasus-kasus yang terjadi. Benar bahwa kondisi keuangan serikat dagang dan bayonet-bayonet Prusia adalah sesuatu yang material dan sebuah fenomena yang sangat historis, tetapi konsep yang melandaskan diri pada mereka bukanlah materialisme historis seperti dalam pandangan Marx, melainkan materialisme polisi (policemanlike materialism) seperti dalam pandangan Puttkamer. Kehadiran polisi negara kapitalis sangat diperhitungkan, dan bahkan sangat eksklusif, dengan kekuatan kongkrit kaum proletar yang hadir sesekali, begitu juga dengan kekuatan material bayonet, dan dari contoh-contoh yang bisa dibandingkan dengan dua hal diatas, kesimpulan melegakan yang selalu bisa ditarik adalah bahwa gerakan buruh revolusioner ini diproduksi oleh para penghasut dan agitator individual; dan maka itu dalam fenomena penjara-penjara dan bayonet-bayonet terdapat cara yang tidak mencukupi untuk menundukkan fenomena yang telah berlalu dan tidak menyenangkan.

Kesadaran kelas para pekerja Jerman pada akhirnya memahami betul kejenakaan dari teori polisi (policemanlike theory) yang menyatakan bahwa keseluruhan gerakan buruh modern adalah produk artifisial yang bersifat arbitrer dari kelompok kecil penghasut dan agitator yang tidak punya kesadaran.

Bagaimanapun ini adalah konsepsi yang sama, yang menemukan ekspresi ketika dua atau tiga unit komrad dalam sebuah kelompok relawan penjaga malam untuk memperingatkan kelas pekerja Jerman melawan agitasi berbahaya kaum romantis revolusioner dan propaganda pemogokan massa mereka; atau ketika disisi lain, kampanye penuh kemarahan yang bising digerakkan oleh mereka dengan menggunakan kesepakatan rahasia antara kaum eksekutif partai dan komisi umum serikat dagang, semuanya percaya bahwa mereka dapat menghindari pecahnya pemogokan massa di Jerman.

Jika hal ini bergantung pada propaganda kaum romantis revolusioner yang berkobar-kobar atau pada keputusan publik maupun rahasia dari kebijakan partai, maka seharusnya kita samasekali belum pernah mempunyai sebuah pemogokan massa yang serius di Rusia ini. Tidak ada satu negara pun di dunia ini – seperti yang saya sebutkan dalam Sachische Arbeiterzeitung pada bulan Maret tahun 1905 – dimana pemogokan massa menjadi sesuatu yang sangat sedikit disebarkan atau didiskusikan seperti di Rusia. Dan contoh-contoh keputusan yang terisolasi serta kesepakatan-kesepakatan dari kelompok eksekutif partai-partai Rusia yang sangat berusaha untuk memproklamirkan pemogokan massa sebagai sesuatu yang dikehendakinya sendiri – misalnya seperti usaha terakhir yang ditunjukkan pada bulan Agustus tahun ini setelah pembubaran Duma, adalah sesuatu yang hampir tidak ada nilainya.

Jika kemudian Revolusi Rusia mengajarkan kita sesuatu, maka ia mengajarkan bahwa pemogokan massa tidak dibuat secara artifisial, tidak diputuskan secara serampangan, dan tidak disebar-sebarkan, tetapi ia adalah fenomena historis yang pada momen-momen tertentu dihasilkan dari kondisi sosial dengan persoalan sejarah yang tidak dapat terhindarkan. Oleh karena itu, hal ini tidak disebabkan oleh spekulasi abstrak atas kemungkinan atau ketidakmungkinan, kegunaan dan ketidakberbahayaan dari pemogokan massa, melainkan hanya oleh pemeriksaan faktor-faktor dan kondisi sosial dimana pemogokan massa tumbuh pada fase-fase perlawanan kelas. Dengan kata lain, hal ini tidak disebabkan oleh kritisisme subyektif dari pemogokan massa dari sudut pandang yang diinginkan, tetapi hanya disebabkan oleh investigasi obyektif sumber-sumber pemogokan massa dari sudut pandang yang secara historis tidak terhindarkan, dan bahwa semua persoalan itu dapat digenggam atau bahkan dapat didiskusikan.

Dalam ruang analisis abstrak dan logis yang tidak nyata, hal ini dapat ditunjukkan dengan kekuatan yang tepat sama pada masing-masing sisi bahwa pemogokan massa adalah sesuatu yang samasekali tidak mungkin, dan pasti akan kalah, dan bahwa mungkin juga kemenangannya tidak dapat dipertanyakan. Dan oleh karena itu nilai-nilai dari bukti-bukti yang terdapat di masing-masing sisi adalah tepat sama – dan bahwa semua itu tidak ada artinya. Oleh karena itu, ketakutan dari penyebaran pemogokan massa, yang bahkan telah mengarah pada kutukan formal pada orang-orang yang telah dituduh bersalah dari kejahatan ini, adalah semata-mata produk dari kebingungan yang menggelikan dari orang-orang ini. Sangat tidak mungkin untuk menyebarluaskan pemogokan massa sebagai suatu cara perlawanan yang abstrak seperti halnya menyebarluaskan revolusi. Revolusi, seperti halnya pemogokan massa, tidak menandakan apapun kecuali bentuk eksternal dari perlawanan kelas, yang hanya dapat memiliki rasa dan makna dalam hubungannya dengan situasi politik tertentu.

Jika seseorang akan melakukan pemogokan massa secara umum, sebagai suatu bentuk aksi proletar, tujuan dari agitasi metodis, dan pergi dari rumah ke rumah mencari gagasan secara terus menerus untuk memenangkan kelas pekerja, maka ia akan menjadi pekerjaan yang tidak berjalan dan tidak mempunyai keuntungan seperti saat menciptakan gagasan revolusi atau pertempuran di barikade sebagai tujuan agitasi khusus. Pemogokan massa saat ini telah menjadi pusat daya tarik yang hidup bagi Jerman dan kalangan kelas pekerja internasional karena ia adalah bentuk baru sebuah pertempuran dan sebagaimana sebuah tanda yang pasti dari revolusi internal yang sedang berlangsung dalam hubungan kelas dan dalam kondisi perlawanan kelas. Ini adalah kesaksian terhadap suara insting revolusioner dan kecerdasan massa kaum proletar Jerman yang meskipun disana terdapat kekeraskepalaan para pemimpin serikat dagang, tetapi mereka menempatkan diri pada persoalan baru ini dengan rasa tertarik yang besar.

Tetapi tampaknya hal ini tidak semestinya jika dalam kehadiran daya tarik dan sesuatu yang bagus ini, gairah intelektual dan hasrat bagi perbuatan-perbuatan revolusioner sebagai bagian dari para pekerja, untuk memperlakukan mereka pada pelatihan mental yang abstrak dari segala kemungkinan dan ketidakmungkinan pemogokan massa; seharusnya mereka mendapat pencerahan dari perkembangan Revolusi Rusia, simbol internasional dari revolusi, pertentangan tajam kelas-kelas di Eropa Barat, perspektif politik yang lebih luas dari perlawanan kelas di Jerman, peranan dan kewajiban massa pada perlawanan selanjutnya. Hanya dalam bentuk ini, segala diskusi tentang pemogokan massa akan mengarah pada horison intelektual kaum proletar yang lebih luas, penajaman jalan pikiran mereka, dan kisah pencurian energi mereka.

Dilihat dari sudut pandang ini, bagaimanapun, kemajuan kriminal yang diinginkan oleh romantisme revolusioner tampak dalam semua absurditas mereka, karena untuk menyelesaikan persoalan ini, seseorang tidak mematuhi secara ketat isi Resolusi Jena. Praktek politik sepakat pada resolusi ini jika diperlukan, karena mereka merangkaikan pemogokan massa secara utama dengan takdir hak pilih universal, dimana dari sini kemudian mereka dapat mempercayai dua hal – pertama, bahwa pemogokan massa adalah karakter pertahanan yang murni, dan kedua, bahwa pemogokan massa bahkan ditempatkan dibawah parlementarisme, dan maka itu telah berubah menjadi bagian dari parlementarisme belaka. Tetapi inti sebenarnya dari resolusi Jena dalam hubungan ini adalah bahwa dalam posisi Jerman saat ini, segala usaha – sebagai bagian dari reaksi hak pilih parlementer yang umum – dalam segala kemungkinan akan menjadi momen perkenalan dan tanda dari periode perlawanan politik yang keras dimana pemogokan massa sebagai suatu cara perlawanan di Jerman akan diterima untuk digunakan pertama kali.

Tetapi untuk mempersempit dan menekan kepentingan sosial, dan untuk membatasi ruang historis dari pemogokan massa sebagai suatu fenomena dan sebagai persoalan perlawanan kelas dengan segala pernyataan yang muncul dari resolusi kongres, merupakan usaha yang secara singkat hanya dapat dibandingkan dengan hak veto pada diskusi serikat dagang pada kongres di Cologne. Dalam resolusi kongres Jena, Partai Demokratik Sosial Jerman secara resmi telah memperlihatkan perubahan mendasar dimana Revolusi Rusia telah dipengaruhi oleh kondisi internasional perlawanan kelas kaum proletar, dan telah mengumumkan kapasitasnya bagi pembangunan revolusioner dan kekuatannya untuk mengadaptasi kehendak baru dari fase perlawanan kelas selanjutnya. Disinilah letak pentingnya resolusi Jena. Sebagaimana aplikasi praktis pemogokan massa di Jerman, sejarah akan memutuskan seperti juga yang telah diputuskan di Rusia – proses sejarah dimana terdapat Partai Demokratik Sosial Jerman dengan keputusan-keputusannya adalah benar sebuah faktor penting, tapi pada waktu yang bersamaan adalah juga satu faktor diantara banyak faktor lainnya.

 

Sumber Marxisme.com

Publikasi tidak untuk komersial melainkan pendidikan politik di Papua.

 

Redaksi Lao-Lao
Redaksi Lao-Lao
Teori pilihan dan editorial redaksi Lao-Lao

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Pemerintahan Sementara dan ULMWP Tidak Akan Bertahan Lama

“Tulisan ini menanggapi United Liberation Movement for West Papua...

Pernyataan Sikap AMP, FRI-WP, dan AMP-TPI 1 Desember 2020

Salam Pembebasan Nasional Bangsa West Papua! Amolongo, Nimo, Koyao, Koha, Kinaonak, Nare, Yepmum, Dormum, Tabea Mufa, Walak, Foi Moi, Wainambe,...

Saya Menginginkan Seluruh Dunia-Plus 5 %

Diterjemakan oleh  Larry Hannigan    Fabian sangat bahagia karena dia akan menyampaikan sebuah pidato ke masyarakat besok. Dia selalu menginginkan kekayaan...

Nasrani-Yahudi Dalam Tinjauan Madilog

Tan Malaka (1948) AGAMA NASRANI Jesus Nazrenus Rex Jodioram Jesus dari Nazaret Rajanya Yahudi Agama Nasrani ialah agama yang dikembangkan oleh Jesus dari...

Indonesia Vs Papua: Problem Kedaulatan dan Hak Asasi Manusia

 “Terus terang, saya bingung bagaimana mungkin suatu negara (Vanuatu) mencoba untuk mengajari orang lain sementara kehilangan inti prinsip-prinsip dasar...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan