Pilihan Redaksi Kekalahan Kaum Perempuan (3)

Kekalahan Kaum Perempuan (3)

-

Diterjemahkan dari buku yang ditulis oleh Pat Brewer, The Dispossession of Women, Resistance Books, 2000

Penerjemah Daniel Indrakusuma

  1. Pengujian Bukti-Bukti Baru

Beberapa istilah yang membingungkan dalam analisa Engels yang, secara khusus, relevan dengan arah perdebatan seputar asal muasal penindasan perempuan, telah berkembang di abad ini. Oleh sebab itu, harus dijernihkan terlebih dulu untuk menguji seberapa tepat teori Marxis tentang perkembangan manusia sesuai dengan bukti-bukti yang ada sekarang ini.

Pertama, Engels menggunakan istilah “keluarga” untuk menunjukkan kelompok sosial produksi dan reproduksi kehidupan sehari-hari pada semua tahap manusia. Reed (Evelyn Reed–pentj.) secara tegas berpendapat bahwa hal ini merancukan tipe institusi keluarga masyarakat berkelas dengan tipe keluarga yang sangat berbeda dari kelompok sosial pada tahap sebelum terjadinya masyarakat berkelas, yang lebih tepat diistilahkan dalam ungkapan kekerabatan seperti nenek moyang, klan/marga, kelompok, dan garis keturunan.

Kedua, pemakaian istilah “alamiah” nya Engels, yang berkaitan dengan ikatan awal (bebas) pasangan lelaki-perempuan, berbeda penggunaannya dibandingkan dengan doktrin tentang perbedaan alam yang memaknai “alamiah” sebagai perubahan-perubahan yang ditentukan oleh biologis. Marx dan Engels memandang soal “alamiah” sebagai bagian dari sebuah interkoneksi dialektis antara umat manusia dan alam. Engels menegaskan:

Walau bagaimanapun, jangan lah memuji diri kita sendiri melebihi gambaran kemenangan manusia terhadap alam. Untuk tiap-tiap kemenangan tersebut, alam  memberi pembalasannya kepada kita. Sesungguhnya setiap kemenangan, di sisi pertama membawa hasil yang kita harapkan, tetapi di sisi kedua dan ketiga hal ini sangat berbeda, memiliki efek yang tidak terduga, yang seringkali membatalkan yang pertama. Masyarakat di Mesopotamia, Yunani, Asia Minor, atau dimana pun berada, yang merusak hutan untuk mendapatkan lahan tanah yang dapat diolah, tidak pernah membayangkan bahwa dengan  memindahkan hutan–hutan berikut sumber alam dan penampungan air/waduknya, mereka sedang menabur sumber bagi bencana yang pedih dari negeri-negeri itu.…

Lantas, pada setiap langkah, kita diingatkan kembali bahwa kita bukannya menguasai alam seperti halnya seorang penguasa menundukkan orang asing, layaknya seseorang yang berdiri di luar alam¾tetapi kami, dengan daging, darah dan otak, memiliki alam dan ada di tengah-tengahnya. Bahwa seluruh penguasaan kita terhadap alam tersebut terdiri dari fakta bahwa kita mempunyai kemampuan melampaui semua ciptaan lain, mampu mempelajari hukum-hukum tersebut dan menerapkannya secara benar. (Engels, 1934, hal. 180)

Marx dan Engels menekankan keunikan manusia dalam hubungannya dengan dunia alam, tidak seperti pandangan Cartevian tentang pemisahan dan superioritas manusia terhadap alam. Isi dari “alam” tidak bisa begitu saja dianggap dari penjelasannya sendiri: apa yang dianggap sebagai alam adalah bermacam-macam dan dihasilkan secara kultural. Maka, sebuah taman yang terbuka dan luas mungkin termasuk bagian dari alam jika dibandingkan dengan sebuah pabrik, akan tetapi itu hanya produk dari intervensi dan manipulasi manusia. Saat ini, dampak dari produksi sosial kapitalis (sebagai contoh, pemanasan global dan perubahan iklim) membuat kategorisasi manusia/alam menjadi lebih berat.

Marx dan Engels mendasarkan penjelasan mereka tentang perkembangan sosial pada bukti-bukti arkeologi dan antropologi yang tersedia dalam zamannya. Menjadi sangat terbatas, karena ilmu-ilmu tersebut saat itu relatif baru. Walau garis waktu sejarah telah berpindah dari ukuran waktu yang dikaitkan dengan kitab Injil, tetapi teknologi yang ada masih sangat lemahnya akurasinya.

Marx dan Engels bersandar sepenuhnya pada bahan-bahan etnografis yang menggambarkan masyarakat yang terorganisir yang sangat berbeda dari masyarakat yang ada di Eropa pada zaman mereka, sekaligus rekaman sejarah tertulis yang dapat diterjemahkan. Engels dan para ahli evolusi sosial lain menggunakan “peninggalan” (survival) secara sungguh-sungguh¾praktik sosial yang tampak dalam rekaman sejarah dan etnografi sepertinya tidak mempunyai sangkut paut yang nyata bagi masyarakat yang tengah dipelajari. Diduga bahwa peninggalan-peninggalan tersebut adalah sisa-sisa bentuk organisasi sosial terdahulu yang telah terlewati dan  berubah oleh waktu.

Bagaimana teori Engels tentang munculnya spesies dan perkembangan sosial sub-ordinasi perempuan menemukan buktinya sekarang ini? (Engels sendiri menekankan bahwa teori harus lah dihadapkan pada ujian bukti-bukti material dan pengalaman). Meskipun ada beberapa kekurangan, yang umumnya bersumber dari kemandekan ilmu pengetahuan di abad ke-19, penjelasan Marxis tetap bertahan.

Apa yang saat ini dapat dianggap sebagai bukti? Kemajuan teknologi dan penemuan bukti-bukti yang lebih banyak, menawarkan satu pandangan yang lebih detail (meski fragmentatif) tentang masa lalu. Ada sisa-sisa kerangka, biasanya terfragmentasi, yang memberi tempat bagi beberapa perkiraan dalam hal gerakan sosial yang melibatkan individu. Ada bukti arkeologis tentang perkampungan penduduk, perkakas kerja dan situs kuburan. Ada analisis biologis seputar tulang, seperti juga ada bukti molekular dan analisa genetik. Ada rekaman fosil yang menampakkan beberapa hal tentang makanan dan efek dari perpindahan lingkungan. Ada penelitian tentang bahasa untuk merekonstruksi langkah dari perubahan, seringkali berkaitan dengan faktor lingkungan yang mengarah pada perpindahan/migrasi.

Ada juga penelitian tentang tingkah laku primata dalam kebuasan (primatologi) sekaligus perbandingannya dengan manusia modern yang terorganisir dalam relasi produksi yang berbeda, yang memiliki pola serupa dengan yang di masa lampau, antara lain dalam hal berburu dan mengumpulkan (etnografi). Namun kita membutuhkan ketelitian ekstra dalam menarik kesimpulan evolusioner primatologi dan etnografi. Primata modern dan manusia modern yang hidup dalam masyarakat berteknologi lebih sederhana telah berkembang, maka perbandingan dengan masa lampau harus dilakukan dengan sangat hati-hati. 

Manusia Pertama

Jangka waktu apa yang sedang kita bicarakan? Semua fosil primata, yang sejauh ini telah ditemukan, memiliki bentuk seperti yang hidup pada 70 juta tahun terakhir (era Cenozoic), seperti juga seluruh fosil mamalia (terkecuali bagi sangat sedikit mamalia primitif) yang pertama kali muncul dalam era sebelumnya, era dinosaurus.  

Sampai sekarang, fosil itu masih dianggap fosil non-antropoid tertua (Ramapithecus), berusia kira-kira 14 juta tahun, namun telah terjadi banyak perdebatan tentang apakah peninggalan tersebut cocok dengan garis hominid. Saat ini Ramapithecus diyakini sebagai nenek moyang dari satu bagian kera besar modern. 

Tahap paling awal dalam perkembangan menuju evolusi manusia tampaknya mengambil tempat di Lembah Besar Rift di Afrika Timur, tempat dimana makhluk pertama yang dikenal dengan postur tubuh tegak, terpisah dari primata Afrika lainnya, hidup sekitar 5-7 juta tahun yang lalu. Bukti kerangka yang pertama berusia antara 4 dan 5 juta tahun yang lalu (Australopithecus). Peralatan  tertua ditemukan sekitar 2,5 sampai 2 juta tahun yang lalu, dan penambahan ukuran otak  tampaknya berlangsung pada saat yang sama.

Peninggalan paling awal dari makhluk berpostur tegak, yang disebut Homo Erectus, berusia sekitar 2 juta tahun. Homo erectus bermigrasi keluar Afrika, masuk ke Asia, sekitar 1 3/4 juta tahun lalu. Kemajuan utama  perkakas kerja terjadi 1½  juta tahun lalu, dan bukti kuat adanya pemakan daging (secara regular) ada sejak zaman ini.

Sekitar 1 juta tahun yang lalu, beberapa species Australopithecus menghilang. Penggunaan api pertama sekitar 700.000 tahun yang lalu, dan sebuah kemajuan utama dalam pembuatan perkakas terjadi sekitar 200.000 tahun yang lalu. Manusia modern (Homo sapiens) tampaknya berasal dari Afrika, sekitar 100.000 tahun yang lalu.

Periode yang paling awal dari pra-sejarah, Paleolithicum (atau Jaman batu tua), terbentang kira-kira 2-2 1/2 juta tahun yang lalu, merentang sekitar 250 kali sisa periode pra-sejarah.

Selama masa Paleolithicum  di atas, yang berakhir sekitar 35.000 tahun yang lalu, bentangan es besar yang menutupi benua utara mulai mencair. Periode ini dicirikan oleh satu perkembangan utama dalam jarak dan pengembangan peralatan batu, penggunaan gading dan tanduk, hiasan bunga-bungaan dengan pahatan, lukisan di gua dan, mungkin, penemuan teknologi yang berdasar pada tali/benang untuk jaring-jaring, alat perangkap, dan sebagainya.

Homo Sapiens kuno terlihat sekitar setegah juta tahun yang lalu, hidup bersama dengan Neanderthal, yang tampak sekitar 135.000 tahun yang lalu dan meninggal sekitar 35.000 tahun yang lalu.

Manusia pertama yang terlihat serupa dalam segala hal dengan kita, Homo Sapiens, terlihat sekitar 100.000 tahun yang lalu.

Jaman Neolitikum (Jaman Batu Baru) adalah sebuah periode dimana tumbuh-tumbuhan mulai dikembangkan di Eropa, sejak 8500 tahun pra-sejarah (di Timur Dekat) sampai (menyebar ke Eropa) pada 7000-6000 tahun pra-sejarah.

Perkembangan Fisik

Bukti perkembangan bahasa lebih sukit dilacak jejaknya. Petunjuk sarana berbahasa adalah (sebagian besar) kertas lunak yang rusak dengan cepat. Beberapa bukti tulang tengkorak tampak menunjukkan bahwa sebuah jangkauan lebih luas dari produksi suara dimulai saat Homo Erectus pada dua juta tahun yang lalu, tetapi pembentukan paling awal dari potongan dasar tengkorak (basicranium) belum menjadi lentur/tegak sepenuhnya hingga sekitar 300.000-400.000 tahun yang lalu, sebagaimana dalam Homo Sapiens yang kuno. Namun, perkembangan tersebut tidak terjadi pada Neanderthals. Maka, ketika bukti-bukti rangka mengindikasikan bahwa penggunaan bahasa secara sederhana bisa jadi telah berkembang secara bertahap; maka jangkauan dan kerumitan perkembangan perkakas mungkin merupakan satu indikator yang lebih baik dalam penggunaan bahasa secara penuh.

Hal itu tak muncul sampai lompatan besar budaya Palaeolithic Atas di Eropa (35.000 tahun lalu), ditandai dengan adanya produk artefak yang yang lebih besar, penemuan teknologi, imaginasi artistik, kesadaran dan peraturan, dimana kemunculan bahasa reguler komunikasi termasuk di dalamnya.

Adalah mungkin (bagi kita) untuk melacak jejak evolusioner dengan menggunakan sisa kerangka, molekul, analisa genetic, dan bukti dampak iklim terhadap perubahan tumbuh-tumbuhan–sekitar 15 juta tahun yang lalu, Afrika ditutupi hutan lebat, dan mulai berubah dengan adanya pergeseran permukaan bumi saat lempengan tektonik mulai menembus garis pegunungan dari Laut Merah (melalui Etiopia) menuju Mozambique, menciptakan areal dataran tinggi raya.

Yang berubah bukan hanya topografi tapi juga iklim, khususnya curah hujan. Tanah di daerah timur curah hujannya rendah, dan mulai kehilangan lapisan hutan lebatnya, menyisakan campuran hutan tambalan, hutan tanaman keras, semak belukar, namun sedikit sekali padang rumput.

Sekitar 12 juta tahun yang lalu, aktivitas tektonik selanjutnya mengubah lingkungan menjadi berbentuk Lembah Great Rift, bercampur dengan dataran tinggi dingin berhutan dan dataran rendah kering yang panas, serta membentuk penghalang bagi gerak binatang. Konsekuensinya, berbagai spesies baru muncul, sementara lainnya menghilang.

Perkembangan bipedalisme (1) dalam salah satu varietas kera pada benua saat itu merupakan satu kemajuan yang membuka jalan bagi perpindahan selanjutnya dalam pola-pola evolusi primata. Di samping membebaskan penggunaan tangan untuk fungsi baru, postur tegak menimbulkan dampak penting dalam perilaku kelompok dan perkembangan baru pola-pola kerja sama yang, pada gilirannya, menyediakan basis bagi kewajiban sosial yang timbal balik, kebanyakan berfokus seputar perubahan tingkah laku betina dan anak-anak.

Perubahan kerangka (seperlunya) yang menggerakkan binatang berkaki dua mengarahkan  perubahan pada bentuk kaki, perubahan alat-alat perawatan bayi. Kera muda mempunyai jari kaki yang besar untuk berpegangan/mengait pada ibunya; ini mulai hilang saat kaki beradaptasi untuk berjalan.

Binatang berkaki dua berjalan menyempitkan tulang pangggul, mengakibatkan modifikasi pada bentuk saluran kelahiran. Makhluk muda manusia lahir pada sebuah tahap perkembangan paling awal dari makluk kera, dan oleh karenanya periode ketergantungannya lebih lama.

Ukuran otak yang lebih besar juga akan meningkatkan tekanan untuk melahirkan lebih cepat. Otak Australophitecus mempunyai ukuran sekitar 400 centimeter kubik. Sedangkan otak Homo Erectus berkisar antara 650 sampai 800 sentimeter kubik. Otak manusia modern rata-rata 1.350 centimeter kubik. Peningkatan ukuran otak sejalan dengan bukti pertama adanya peralatan baru dan  menandakan pergeseran penuh makhluk berkaki dua.

Perkembangan Australopithecus ke Homo yang paling awal sejalan dengan perubahan tipe gigi geraham pengunyah ke gigi yang juga digunakan untuk memakan daging. Ini juga dicirikan dengan perubahan dalam dimorphism seksual. Pada Australopithecus, laki-laki lebih tinggi (berkisar antara 1.52 meter sampai 1.22 meter), dan dua kali lipat lebih berat dibanding perempuan, tetapi ukuran ini hilang dalam gen Homo.

Perpanjangan masa kecil dan perluasan hubungan ibu dan anak menunjukkan sebuah pertumbuhan kultur. Berkelompok bersama demi melindungi yang muda, mungkin dengan saudara kandung keturunan perempuan, akan berujung pada pembagian dan pengumpulan makanan ketimbang penyingkiran.

Jari kaki yang mengungkit bermakna bahwa ibunya harus merawat bayi tersebut. Perawatan ini bisa mendorong pemakaian kulit, serabut/tali dari tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya, untuk menggendong, membebaskan tangan dan memudahkan mencari makanan. Ketika bukti arkeologi yang ada hanyalah perkakas batu, tak ada alasan untuk menduga bahwa peralatan yang terbuat dari fiber dan kayu (seperti halnya tongkat untuk menggali) tidak dipergunakan;  ini adalah jenis peralatan  para pemburu modern.

Sekarang menjadi jelas bahwa umat manusia pada awalnya bukanlah berburu dengan cara seperti yang telah digambarkan di masa lampau. Tidak ada bukti mengenai pembagian seksual/gender dalam pembagian kerja: laki laki dan perempuan, keduanya bekerja bersama, makan bersama dan saling melindungi dari pembunuhan makluk lainnya. Ini tidak terjadi hingga sekitar 100.000 tahun yang lalu dimana peralatan dan teknik-teknik berburu hewan yang lebih besar mulai tampak. Untuk perburuan sistematik ini, beberapa ahli menetapkan waktu yang bahkan lebih dekat, sekitar 45.000 sampai 35.000 tahun yang lalu.

Ketika masyarakat pemburu-pengumpul yang sezaman membagi kerja berdasarkan jenis kelamin dan umur, 60-80% dari makanan masyarakat itu dihasilkan lebih banyak oleh aktifitas perempuan dibandingkan dengan perburuan yang dilakukan secara sporadis oleh kaum laki-laki. Dengan begitu, asumsi tentang peranan historis dari ‘pemburu laki-laki’ tidaklah tepat.  

V

Bukti-bukti genetis yang ada sekarang memberikan informasi yang lebih jelas mengenai pentahapan perkembangan gen Homo. Hingga saat ini, terdapat pemikiran bahwa kita berasal dari manusia primitif yang bermigrasi keluar dari Afrika sekitar 2 juta tahun yang lampau. Akan tetapi, bukti-bukti DNA menunjukkan bahwa spesies manusia berasal dari nenek moyang yang baru sekitar 200.000 tahun yang lalu bermigrasi dari Afrika dan akhirnya menetap sekitar 100.000 tahun lampau. Gelombang migrasi sebelumnya dan jenis-jenis gen Homo lebih dahulu punah pada migrasi berikutnya, kemudian Neanderthals yang punah 35.000 tahun yang lalu, meninggalkan hanya Homo sapiens.

Lebih 20.000 ribu tahun berikutnya terjadi sedikit perubahan, termasuk adanya migrasi yang tersebar ke Amerika dan sekitarnya. Kehidupan manusia menjadi sangat seragam. Orang-orang hidup dalam jumlah kecil, mengelompok kira-kira 25-30 orang. Kelompok ini saling berinteraksi, mendirikan sebuah jaringan sosial sesuai dengan adat istiadat dan bahasanya. Mereka berusaha mencari tempat-tempat sementara dimana mereka bisa mencari bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bentuk kerjasama (gotong royong) tampak lebih menonjol dibandingkan dengan saling serang dan persaingan, jika perbandingan tersebut dibuat terhadap kehidupan sosial primata yang lain.

Lantas bagaimana bukti-bukti teori Engels? Sungguh menarik, khususnya jika dibandingkan dengan bukti-bukti yang dikemukakan selanjutnya oleh Darwin. Berpostur tegak, tangan yang menggantung, perkembangan perkakas, perluasan otak dan evolusi bahasa dari teori dialektik Engels didukung oleh bukti-bukti yang ada sekarang. Jangka waktunya memang berbeda, tetapi hal itu diharapkan memberi sedikit data-data teknik dan informasi arkeologi serta geografis pada masa Engels.

Darwin, pada sisi lain, berpendapat bahwa gambaran yang paling istimewa dari makluk manusia–tubuh tegak, teknologi dan perluasan otak–berkembang bersama-sama, sehingga manusia berbeda dari makluk kera sejak awal, dan perbedaan spesies manusia tersebut kasar dan asing. Bukti-bukti yang ada tidak lah mendukung hal tersebut. Ada perbedaan yang pokok antara Australopithecus dengan Homo erectus serta dengan yang lainnya yang muncul pesat 40.000 tahun yang lalu ketika es mulai menyusut dan pada periode perubahan iklim. Periode tersebut menyebabkan perpindahan ke wilayah yang lebih luas, yang secara geografis, ekologis, berbeda, dan dengan binatang serta tumbuh-tumbuhan yang berbeda pula. Secara keseluruhan, garis evolusioner jauh lebih kompleks (dan juga diperjelas dengan akhir perkembangan) ketimbang teori yang diajukan Darwin.

Catatan:

  1. Spesies bertubuh tegak yang berjalan di atas kedua kakinya.

 

Redaksi Lao-Lao
Redaksi Lao-Lao
Teori pilihan dan editorial redaksi Lao-Lao

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Tak Ada Demokrasi di Papua

"Orang-orang Papua selalu jadi korban, diperkosa, dibunuh di mana-mana....

Komite Pusat AMP: Hentikan Pemukulan dan Penangkapan di Lombok

Komite Pusat Aliansi Mahasiswa Papua Komite Pusat (KP-AMP) Mengutuk Keras Represifitas, Pemukulan, Penangkapan, dan Penggeledaan Tempat Tinggal secara Paksa...

Koalisi Penhukham Papua: Segera Tangkap dan Adili Petugas Penangkap Victor Yeimo

Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua (Koalisi Penhukham PAPUA) Kapolda Papua Segera Tangkap dan Adili Petugas Penangkap Victor F. Yeimo...

Menggugat Ketimpangan, Merawat Papua: Membaca Logika Politik Gerakan Budaya Papuan Voices

Pengantar Papua menjadi sebuah istilah yang peyorasi sejak kolonialisme hingga pasca reformasi. Pada era Soekarno, Papua adalah enclave penting yang...

Membaca Ulang Konsensus New York Agreement Tahun 1962

Tampaknya hal paling sulit bagi bangsa sebesar Indonesia ini adalah kejujuran. Ya, jujur untuk mengakui kesalahan dan kesediaan untuk...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan