Analisa Harian Apa Kabar ULMWP, Semoga Baik-Baik Saja!

Apa Kabar ULMWP, Semoga Baik-Baik Saja!

-

Apa kabar United Liberation Movement for West Papua (ULMWP)? Bulan ketiga di tahun 2021 sudah berlalu, apa kabarmu ULMWP, rumah besar bagi perjuangan orang Papua untuk memisahkan diri dari kolonial Indonesia. Jangan senyum jika tak baik-baik saja dan jangan menjawab dengan alasan klasik “nanti musuh tahu”, sebagai alasan untuk tidak menjawab pertanyaan ini. Apa kabar ULMWP, rakyat yang menjadi alasanmu berjuang sekaligus kekuatan perjuanganmu ingin tahu apa kabarmu?

Rakyat ingin tahu kabarmu mengingat pada tahun lalu (2020), di banyak media baik lokal, nasional, internasiona bahkan yang abal-abal, diberitakan bahwa ULMWP yang terkenal dengan singkatan ULMWP sudah tidak seperti duluh lagi. sudah berubah dari wadah persatuan yang bersifat koordinasi menjadi pemerintahan sementara sejak 1 Desember 2020. Juga sudah punya Undang-undang Sementara (UUDS). Itu hebat.

Salah satu media yang memberitakan perubahan tersebut adalah okezone.com yang mengutip dari The Guardian salah satu media Internasional yang berbasis di Inggris. Di situ ditulis, ULMWP menandai 1 Desember sebagai hari kemerdekaan Papua Barat dengan mendeklarasikan (government in waiting) istilah untuk pemerintah masa depan atau pemerintahan sementara.

“Hari ini, kami menghormati dan mengakui semua nenek moyang kami yang berjuang dan mati untuk kami dengan akhirnya membentuk ‘pemerintahan yang menunggu’. Kami siap menjalankan negara kami,” demikian pernyataan tuan Benny Wenda.

Deklarasi tersebut membuat ULMWP viral diberbagai media, pada tahun 2020. Hingga diminggu akhir Januari 2021, Dr. Ibrahim Peyon, akademisi Universitas Cendrawasih menyatakan pendapatnya melalui media sosial (facebook Ibrahim Peyon), bahwa secara politik ULMWP berada di atas angin. Kata Peyon bahwa walau hari ini Indonesisa berupaya mengalihkan dukungan bangsa Papua terhadap ULMWP tapi dirinya penuh keyakinan 100% bahwa, bangsa Papua melalui lembaga politik resmi mereka yakni ULMWP akan keluar sebagai pemenang mutlak dan mendirikan rumah mereka sendiri di atas tanah warisan nenek moyang mereka.

Juga bagaimana politiknya ULMWP? Setelah deklarasi diumumkan oleh Benny Wenda di Inggris, Carles Puigdemont mantan Presiden Catolonia yang kabur ke luar dari Catalonia dan menyerahkan diri kepada otoritas Belgia, memberi selamat sekaligus dukungannya kepada Benny Wenda.

Carles Puigdemont men-twitt foto bendera Bintang Fajar yang berkibar di House of the Catalan Republic dengan memberi keterangan singkat bahwa, pengibaran bendera Bintang Fajar di Catalonia sebagai bentuk solidaritas rakyat Catalonia untuk perjuangan kemerdekaan Papua Barat. Juga menyambut pemerintahan sementara yang dinakodai Benny Wenda. Hebat.

“Kami mengibarkannya di House of the Catalan Republic sebagai solidaritas dengan West Papua dan menyambut pemerintahan sementara yang pimpin oleh Benny Wenda,” kata Puigdment.

Tapi kini tiga bulan di tahun yang baru (2021) sudah berakhir, namun dirimu yang memaksakan kehendak menjadi pemerintahan sementara tak nampak-aktivitas perlawanan di dalam negeri. Apa kah itu pertanda ULMWP tidak baik-baik saja? Jika bagimu ketiadaan aktivitas perjuanganmmu, tidak sebagaimana yang harus dilakukan sebuah pemerintahan sementara di masa revolusi itu, tidak senadi dengan apa yang dikatakan Jefrry Wenda dalam tulisannya “ULMWP sudah ‘MATI’: Tugas kita Membangun Persatuan yang Baru”.

Maka ULMWP dengan pemerintahan sementara yang diumumkan pada tanggal 1 Desember 2020, sudah harus bangun dari tidur dan menyiapkan atau pun merencanakan langkah-langkah perjuangan didalam negeri dan melakukan aksi massa yang revolusioner berdasarkan rencana berjuang yang disiapkan atau pun direncanakan. Mengingat merdeka 100% tidak akan tercapai dengan strategi lobi politik (diplomasi) di luar negeri yang hari ini menjadi konsen ULMWP.

Untuk sampai ke aksi massa dalam jumlah berjubel-jubel sesuai rencana berjuang. ULMWP harus membangun tiga hal sebagai fondasi gerakan untuk merebut kemerdekaan yang total atau merdeka 100% (istilah Tan Malaka) dari tangan kolonialisme Indonesia. Tiga fondasi tersebut adalah: 1) Keadilan, 2) Demokrasi Melanesia, dan 3) Kemajuan.

Keadilan menunjuk pada satu kondisi dimana tidak terjadi dominasi satu organisasi atas organisasi yang lain di dalam ULMWP. Demokrasi Melanesia menunjuk pada proses pengambilan kebijakan tidak dilakukan dengan cara memaksa kehendak tanpa mempertimbangkan usul saran organisasi pendukung yang berafiliasi. Atau pengambilan keputusan tidak berdasarkan suara terbanyak tapi berdasarkan pertimbangan yang logis, realistis, dan objektif berdasarkan kondisi internal dan eksternal ULMWP. Serta Kemajuan menunjuk pada satu kondisi internal dimana ULMWP sudah dewasa dalam berdemokrasi dan berideologi, pula telah mampu membangun kesadaran berdemokrasi atau berpolitik bagi entitas bangsa yang diperjuangkannya dengan satu iedologi atau sekurang-kurangnya dari ideologi adalah berdasarkan falsafa bangsa yang diperjuangakannya.

Untuk dapat membangun tiga hal dimaksud yang nantinya menjadi fondasi revolusi ULMWP. Maka yang lebih dahulu harus dilakukan oleh ULMWP adalah melakukukan rekonsoliasi internal dan eksternal serta melakukan konsulidasi gerakan dibawah payung ULMWP sebagai wadah kordinasi, bukan pemerintahan sementara. Mengingat pengumuman pemerintahan sementara masih menuai pro dan kontra, baik secara internal ULMWP sendiri mau pun internal organ pendukung ULMWP sejak diumumkan hingga tiga 3 bulan berlalu di tahun yang baru, seakan ULMWP sudah mati sebagaimana opini yang ditulis Jeffry Wenda.

Referensi:

  1. Yando Zakaria. Merebut Negara. 2004.
  2. Tan Malaka. Menuju Merdeka 100%. Pustaka Narasi. 2017.
Philipus Robaha
Penulis adalah aktivis Solidaritas Nasional Mahasiswa Pemuda Papua (Sonamappa)

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

RPMR: Kami Bukan Monyet, Kami Bersama Victor Yeimo Melawan Rasisme

Press Release Rakyat Papua Melawan Rasisme (RPMR) Kami Bukan Monyet, Kami...

KEK Menjadi Ancaman Bagi Masyarakat Adat Moi di Sorong

Sebelum membahas lebih jauh terkait Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong untuk siapa? Penulis akan mengulas terlebih dahulu tentang KEK...

‘Freedom West Papua’ di Riau

Ditulis oleh Lovina Soenmi Saya, Aang Ananda Suherman, dan Made Ali ada di bandara Sultan Syarif Kasim II Minggu pagi,...

“Itulah yang mereka sebut pembangunan, dan itulah yang kita sebut penjajahan”

Jalan panjang perjuangan Victor Yeimo kembali menggugah perhatian kita semua. Bagi saya, paling tidak karena dua hal mendasar. Pertama,...

Pendidikan Gratis dan Gerakan Mahasiswa di Papua

Bagi sebagian orang bisa jadi tema tulisan ini dianggap tidak relevan,mengada-ada, tidak menarik atau bahkan aneh. Sebab mungkin saja...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan