Perempuan Relevansi Perjuangan Kartini dan Feminisme Bagi Perempuan Papua

Relevansi Perjuangan Kartini dan Feminisme Bagi Perempuan Papua

-

Siapa Sesungguhnya Perempuan?

Bicara tentang perempuan, semua orang merasa bahwa mereka tau siapa perempuan. Yang secara fisik dengan mudahnya akan dilihat bahwa prempuan adalah mereka yang memiliki payudara dan berparas cantik. Namun dalam perkembangannya kedua ini saja sesungguhnya tidak cukup untuk mendefiniskan siapa sesungguhnya perempuan karena teman-teman transpuan dan transgender juga sudah memilikinya, maka penting mengenal perempuan agar paham bagaimana mengatasi persoalan perempuan.

Dalam ajaran agama Kristen Protestan, perempuan adalah mahluk terakhir yang diciptakan oleh Allah. Allah menciptakan Perempuan karena Ia merasa bahwa tidak baik jika ciptaan-Nya si laki-laki itu hanya seorang diri, maka diciptakan perempuan yang sederajat dengannya. Jika melihat dari sisi adat, siapa perempuan sesungguhnya adalah mereka yang terlahir memiliki vagina dan mereka akan tumbuh mengikuti nilai-nilai adatnya dan kontruksi sosial yang dibangun oleh masyarakat disekitarnya, yang kemudian menjadi ciri bagaimana perempuan itu harus tumbuh dan berperilaku.

Sesungguhnya perempuan adalah mereka yang memiliki 5 keistimewaan, yaitu mensturasi, mengandung, melahirkan, menyusui, dan menopause. Keistimewaan ini telah membuat perempuan mendapat perlindungan hingga melalui konvensi penghapusan diskriminasi terhadap perempuan melalui perjanjian internasional tahun 1979, yang saat ini dikenal sebagai Konvensi CEDAW.

Apa semudah itu perempuan mendapatkan perlindungan bahkan dari PBB? Sesungguhnya semua perlindungan untuk mendapatkan keadilan agar diperlakukan sama tanpa diskriminasi itu bukan melalui proses yang mudah. Butuh perjuangan dan pengorbanan dari kaum perempuan yang berjuang keras yang dikenal sebagai Gerakan Feminisisme, namun pada kenyataannya masalah perempuan kian bertambah. Eksistensi perjuangan perempuan juga seakan dimakan oleh negara dan kapitalis yang tidak akan perna menginginkan kebebasan perempuan.

Feminisme Alat Pembebasan Perempuan Papua

Feminisme adalah gerakan perempuan yang memperjuangkan keadilan bagi kaum perempuan. Ada banyak aliran feminis, tetapi dalam tulisan ini hanya akan membahas setidaknya empat aliran gerakan feminis. Yang pertama ada Feminis Liberal, yang muncul pada abad ke-18 dan terus berkembang pada abad ke-19 dan 20. Feminis liberal juga kemudian terbagi menjadi dua yaitu liberal klasik dan liberal egalitarian. Keduanya sama-sama memperjuangkan hak invidu, dimana perempuan juga berhak dipilih dan memilih didalam pemerintahan, perempuan juga berhak sekolah dan bekerja. Tetapi gerakan ini pun tidak luput dari kritik, yang mana gerakan ini juga disebut gerakan Feminis Borjuis. Mereka juga disebut tidak dapat memberikan jaminan kebebasan bagi kaum perempuan bahkan merek dianggap menindas kaum perempuan.

Ada juga feminis radikal yang memperjuangkan hal-hal yang bersifat pribadi untuk mengupas segala ketimpangan pada perempuan. Feminis radikaal juga terbagi menjadi dua yaitu, radikal libertarian dan radikal kultural yang sama-sama memperjuangkan kesetaraan dan kepentingan perempuan tetapi dengan pemahaman yang berbeda. Yang paling menarik perhatian adalah pemahaman mereka terhadap pornografi dan prostitusi, dimana radikal libetarian beranggapan bahwa pornografi  dan prosistusi sebagai otoritas tubuh perempuan sepenuhnya, tetapi radikal kultural meyakini bahwa keduanya itu membahayakan kaum perempuan. Gerakan feminis radikal ini disebut juga sebagai gerakan perempuan yang meyakini bahwa otoritas tubuh perempuan tjdak bisa dikuasai dan dikontrol oleh siapapun baik oleh negara ataupun oleh laki-laki sekalipun. Gerakan ini juga  sebenarnya dikritisi karena pemahaman mereka terhadap revolusi dan perlawanan yang dianggap sangat subjektif, dimana revolusi akan tercapai ketika perempuan mengalami perubahan gaya hidup, pengalaman bahkan sampai pada hubungan perempuan dan laki-laki, ini sesungguhnya bertentangan dengan feminis marxis yang melihat permasalahan perempuan sebagai sesuatu yang realistis objektif.

Dan seperti yang telah disinggung, diatas aliran gerakan feminis lainnya adalah feminis marxis dan feminis sosialis. Perjuangan keduanya adalah sama, yang mana kapitalisme dianggap sebagai sistem yang mengeksploitasi kaum perempuan. Salah satu pemikirnya adalah Friedrich Engels. Feminis marxis-sosialis juga setuju pada feminis radikal bahwa perempuan memiliki otoritas terhadap tubuhnya oleh sebab itu aliran ini juga meyakini patriraki telah ada terlebih dahulu sebelum kapitalisme dan keduanya sama-sama mengeksploitas perempuan. Kemunculan masyarakat berkelas dipandang sebagai awal mula penindasan perempuan melalui sistem keluarga.

Lantas jika bicara masalah gerakan feminis, aliran manakah yang  sebenarnya relevan dengan situasi perempuan Papua hari ini? Semua dapat dikatakan relevan jika memahami apa yang menjadi akar persoalan perempuan Papua hari ini. Budaya patrarki adalah sebuah budaya yang telah menyatu dengan kebanyakan masyarakat Papua. Dulunya sistem feodalisme juga membuat perempuan ditindas sebagai contoh perempuan kelas bawah di Sentani, sebagaimana yang dituangkan dalam buku Helaehili dan Ehabla karya Wigawati Yektiningtyas Modouw yang diterbitkan pada tahun2008. Perempuan-perempuan yang berasal dari keturunan bangsawan atau keturunan ondoafi masih memiliki hak untuk berbicara, yang tidak sama seperti perempuan-perempuan dari kelas bawa. Sekalipun kadang hak tersebut tidak digunakan karena ada standarisasi kecantikan perempuan Sentani yang membuat perempuan-perempuan dari kelas atas atau kaum bangsawan pun akan memiliki menjadi penurut, diam, dan mengikuti apa yang telah diputuskan.

Kemumculan agama juga sesungguhnya melanggengkan prinsip-prinsip adat seperti yang terjadi di Sentani, tetapi ada sebuah sistem yang lebih merusak semuanya itu, yang dikenal sebagai sistem kapitalisme. Kemunculan kapitalisme di Papua yang ditandai dengan masuknya perusahaan tambang emas Freeport, yang mengawali jejak langkahnya di Papua dan bersama dengan budaya patrarki telah mengorbakan perempuan Papua. Ini seperti yang dikatakan oleh Engels, bahwa patrarki ada terlebih dulu sebelum kapitalisme, tetapi keduanya memang saling membutuhkan. Dalam tulisan saya sebelumnya tentang Perempuan Papua Dalam Cengkraman Patrarki, Kapitalis dan Kolonialis, telah saya jelaskan bagaimana ketiganya telah melanggengkan penindasan terhadap perempuan Papua. Lalu perjuangan seperti apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan perempuan dari masalah-masalah utama perempuan seperti marjinalisasi, subordinasi, streotipe, kekerasan (violence) dan bahkan peran gender yang semuanya itu merupakkan manifestasi ketidakadilan yang secara diaelitka saling mempengaruhi dan terus tersosialisasj pada lapisan masyarakat, yang kemudian membuat masyarakat percaya bahwa peran gender itu adalah kodrat Tuhan dan bukan hasil dari kontruksi sosial. Celakanya propaganda kapitalis ini telah berkembang melalui media dan membuat banyak kaum laki-laki mengira bahwa feminis merupakan gerakan untuk melawan laki-laki, gerakan perempuan barat, dan seterusnya. Yang sesungguhnya bertentangan prinsip feminis yaitu memperjuangkan keadilan dan martabat perempuan yang telah diinjak-injak oleh sistem yang mendiskriminasi dan mengeksploitasi. Dan adalah sebuah kekeliruan jika kita melawan kapitalis dan membenci feminis atau bahkan tidak mendukung feminis karena sesungguhnya sejak berakhirnya masyarakat komunal, feminisme adalah musuh bagi kapitalisme. Lalu apa konsep perjuangan yang tepat bagi perjuangan pembebasan perempuan Papua? Dan bagaimana memperjuangannya?

Relevansi Pemikiran Kartini dan Perjuangan Perempuan Papua

Di Indonesia setiap tanggal 21 April akan diperingati sebagai hari R. A. Kartini. Perjuangan Kartini membawa angin segar bagi perempuan Indonesia dimasa-masa itu. Perjuangan Kartini bukan sekedar melawan budaya patriarki, tetapi ia juga harus melawan sistem feodalisme dan kolonialisme yang telah menggerogoti tubuh perempuan Indonesia. Ia bukan sekedar memberikan pendidikan bagi perempuan, ia juga peduli terhadap toleransi beragama, ia memperjuangan kesehatan perempuan yang terpinggirkan, ia dengan vokal melawan pernikahan anak dan ia menentang rasialisme Belanda bagi kaumnya. Apa perjuangan Kartini ini relevan dengan perjuangan Perempuan Papua? Tentu saja relevan sekalipun masalah Papua hari ini bukan lagi soal sistem feodalisme, tetapi sistem kapitalisme. Kita hari ini terjajah habis-habisan bahkan perempuan Papua seperti tidak memiliki harga diri dan martabat didepan mata Indonesia dan militernya yang sering kali membunuh perempuan Papua dengan cara-cara tidak manusiawi.

Lalu apa itu saja persoalan yang harus dilawan? Pada kenyataannya perkawinan anak adalah hal yang saat ini sedang terjadi dengan sangat biasanya. Kata “mama muda” seolah menjadi kata yang biasa-biasa saja. Apa semua perempuan Papua memilih menikah diusia muda karena keinginannya? Nyatanya masih ada daerah di Papua yang menjadikan perkawinan usia dini dengan cara-cara paksaan sebagai suatu budaya dan perempuan adalah korban atas paksaan tersebut. Kesehatan perempuan Papua semakin dipukul mundur oleh perkembangan zaman yang membuat kita harus hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan penyakit-penyakit yang mengancam perempuan seperti kanker payudara, kanker serviks, tumor dan sebagainya. Jauh dari pada itu bukan larangan pendidikan dari orangtua yang ditakuti oleh perempuan, tetapi larangan berpendidikan yang datang dari pasangan. Kekerasan secara langsung maupun kekerasan secara tidak langsung yang menghiasi kisah-kisah berumah tangga dan berpacaran pun akan dibenarkan atas nama cinta dan kasih sayang. Konsep gender juga turut serta membuat perempuan Papua berada pada titik rendahnya. Dan harus ditambah dengan semua pesoalan-persoalan yang dihadirkan oleh korporasi, media dan negara.

Saat ini perempuan-perempuan borjuis Papua memang tidak bisa diharapkan untuk membebaskan perempuan Papua. Mereka berbeda dengan Kartini yang lahir dari keluarga borjuis, tetapi hidupnya diserahkan bagi perempuan proletar. Indonesia yang terjajah memang maju dalam organisasi perempuan karena mereka mampu mengadakan Kongres Perempuan Indonesia. Mereka hanya dipukul mundur oleh negaranya sendiri yang telah merdeka.

Lantas apakah cara berjuang kita sudah tepat untuk melawan Indonesia sebagai negara yang dulu pernah dijajah dan saat ini sedang menjajah. Organisasi strategis dibutuhkan untuk melawan musuh kita yang sesungguhnya. Kita bukan saja ribut soal budaya yang meminta perempuan untuk diam, penurut kemudian bergabung dalam organisasi-organisasi kanan dan menjadi bendahara, sekertaris, dsb. Praktek-praktek ini jangan dipakai dalam organisasi kiri, jika organisasi kanan mampu mengkaderkan perempuan sebagai pemimpin seharusnya organisasi kiri juga lebih mampu daripada mereka. Karena kita lebih mengerti bagaimana sakitnya kemanusian dan keadilan yang dirampas secara paksa telah banyak mengorbakan nyawa manusia Papua.

Arah juang pun harus sejelas yang dilakukan oleh Kartini dan Gerakan Feminis lainnya. Siapa sesungguhnya musuh dan bagaimana cara melawannya. Keberhasilan konsep feminis adalah semakin banyaknya perempuan akar rumput yang dididik untuk mengerti dan memilih untuk terlibat dalam perjuangan. Kita bukan lagi ribut tentang siapa yang paling hebat, paling pintar dan paling maju, kita harus ribut bagaimana strategi menyelematkan Perempuan Papua yang terus menjadi sasaran musuh. Bersatu adalah pilihan dan berkorban adalah kewajiban, maka bekerjalah sesuai kemampuan untuk selamatkan yang tersisa ini.

Referensi:

  1. Fakih, Mansour. Analis Gender dan Transformasi Sosial. Pustaka Belajar:1996
  2. https://magdalene.co/story/melirik-keberagaman-fokus-perjuangan-aliran-aliran-feminisme
  3. https://laolao-papua.com/2021/02/24/perempuan-papua-dalam-cengkraman-patriarki-kapitalis-dan-kolonialis/
Avatar
Yokbeth Felle
Penulis adalah mahasiswi Papua di Jayapura. Saat ini menempuh studi di Program Studi Ilmu Pemerintahan Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Cenderawasih (Fisip-Uncen).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Tak Ada Demokrasi di Papua

"Orang-orang Papua selalu jadi korban, diperkosa, dibunuh di mana-mana....

Komite Pusat AMP: Hentikan Pemukulan dan Penangkapan di Lombok

Komite Pusat Aliansi Mahasiswa Papua Komite Pusat (KP-AMP) Mengutuk Keras Represifitas, Pemukulan, Penangkapan, dan Penggeledaan Tempat Tinggal secara Paksa...

Koalisi Penhukham Papua: Segera Tangkap dan Adili Petugas Penangkap Victor Yeimo

Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua (Koalisi Penhukham PAPUA) Kapolda Papua Segera Tangkap dan Adili Petugas Penangkap Victor F. Yeimo...

Menggugat Ketimpangan, Merawat Papua: Membaca Logika Politik Gerakan Budaya Papuan Voices

Pengantar Papua menjadi sebuah istilah yang peyorasi sejak kolonialisme hingga pasca reformasi. Pada era Soekarno, Papua adalah enclave penting yang...

Membaca Ulang Konsensus New York Agreement Tahun 1962

Tampaknya hal paling sulit bagi bangsa sebesar Indonesia ini adalah kejujuran. Ya, jujur untuk mengakui kesalahan dan kesediaan untuk...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan