Analisa Harian Besarob Gange Di, Biri Nimi Wana Senilisana: Mencintai Manusia...

Besarob Gange Di, Biri Nimi Wana Senilisana: Mencintai Manusia Hitam dengan Tulus

-

Prolog

Sebelum ke penjelasan lebih jauh, penulis hendak menjelaskan sedikit soal judul bahasa daerah yang penulis pakai. Biri nimi wana gange berasal dari bahasa suku Kimyal, Kabupaten Yahukimo yang artinya Biri adalah hitam, Nimi adalah orang, Wana adalah sayang atau cinta, Gange adalah hati atau jantung, dan Senilina adalah perlakukan, pikirkan, atau realisasikan.

Tulisan ini berangkat dari sebuah buku yang saya baca, yaitu Frantz Fanon – Kebudayaan dan Kekuasaan yang ditulis oleh Muhammad Taufiqurrohman.

Muhammad Taufiqurrohman menjelaskan bahwa Frantz Fanon dan pemikirannya paling terpengaruh di zaman itu, di Prancis. Ia (Frantz Fanon) muncul sebagai seorang pemikir cum aktivis terkemuka di Eropa yaitu tepatnya di Perancis pada abad pertengahan ke-20.

Ketika pada saat itu di tandai dengan mulai runtuhnya kolonialisme Eropa atas negara-negara jajahanya. Negara-negara jajahnya yang dimaksudkan disini adalah seperti negara dan bangsa di benua Asia, Afrika dan Amerika (Amerika Latin). Keruntunan kolonialisme ini di tandai dengan lahirnya kesadaran untuk bebas (merdeka) atau mengeluarkan dirnya dari negara penjajah (negara-negara Eropa). Gerkana Dekolonisasi (GG) yang hampir merata di seluruh wilayah jajahan barat tersebut di tandai dengan tata kelola yang baru yang berdampak pada tata kelola di dunia yang baru ini (abad ke-21).

Buku tersebut adalah result dan interpretasi dari pada Muhammad Taufiqurrohman. Ia adalah seorang mahasiswa strata satu Jurusan Kajian Satra dan Budaya, yaitu dimana ia mengambil mata kuliah teori satra dan kajian budaya, kemudian juga khususnya teori pascakolonialisme. Muhammad Taufiqurrohman berpendapat, dalam teori pascakoloinal dari masa ke masa tidak hanya di tulis oleh seorang pemikir yang kulit berwarna hitam, yaitu Frantz Fanon saja, namun, di tulis juga oleh banyak tokoh pemikir pascakolonialisme, misal Robert J. C. Young.

Berangkat dari buku Frantz Fanon – Kekuasaan dan Kebudayaan ini, penulis melihat bahwa melalui buku ini Muhammad Taufiqurrohman telah mengkonklusikan beberapa poin penting. Pertama, penting sebagai bahan kajian dengan mencintai manusia berkulit hitam secara objektif atau yang saya sebut dalam bahasa daerah saya Biri nimi nisin wana senilisina. Kedua adalah mencintai laki-laki yang kulitnya berwana hitam atau dalam bahasa daerah penulis adalah Biri nengabo wana senilisina. Ketiga adalah mencintai perempuan yang kulit berwarna hitam atau Biri gelabo wana senilisina. Dan keempat  yang keempat adalah mencintai kemanusiaan Nimi nisin wana gange senildana.

Mencintai Manusia Berkulit Hitam (Biri Nimi Nisin Wana Senilisna)

Pada pertengahan abad ke-20, dunia mengalami perkembangan yang sangat bersejarah, yaitu berakhirnya Perang Dunia ke II, sekaligus menandai berakhirnya imperialisme barat atas bangsa-bangsa jajahan mereka, neoimperialisme itu masih aktif, berkembang, dan subur menjadi penyakit pencuri bumi, ia di posisikanya sebagai insan yang paling superior di jagad bumi.

Perebutan Afrika (Scramble for Africa) adalah invasi, kolonisasi, dan perebutan wilayah Afrika oleh bangsa-bangsa Eropa pada masa Imperialisme Baru, antara tahun 1880-an hingga Perang Dunia I tahun 1914. Pada masa ini, persentase wilayah Afrika yang dikuasai bangsa Eropa berubah dari 10% pada 1870 menjadi 90% pada tahun 1914 (hanya Abyssinia dan Liberia yang masih merdeka). Konferensi Berlin pada tahun 1884 dianggap sebagai titik awal masa perebutan Afrika. Dalam konferensi ini, bangsa-bangsa Eropa menghasilkan aturan-aturan bagi mereka dalam meluaskan kekuasaannya di Afrika. Pada masa itu pun, bangsa Eropa membagi-bagi Afrika, untuk menghindari perang di antara mereka.

Hal yang sama, perlakuan atas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) juga kepada tanah, alam, dan manusia Papua di atas tanah papua. Bukti kongkrit yang nyata, adalah bahwa Papua dianeksasikan secara sepihak atas kemauan Indonesia, Amerika dan Belanda. Pada akhirnya, pada tanggal 19 Desember tahun 1962 telah melakukan invasi militer besar-besaran di Papua, kemudian membubarkan negara yang sudah berdaulat pada tanggal 1 Desember 1962.

Para founding fathers Indonesia, dengan sepenuh-penuhnya telah melawan imperialism asing, lebih khususnya negara barat. Dalam benak pikiran mereka, itu masif sekali untuk melakukan perlawanan atas ketidakadilan negara barat (Eropa) terhadap bangsa indonesia. Ketika para pendiri Indonesia melakukan perlawanan karena mereka telah tahu dan paham, bahwa negara Indonesia adalah bangsa yang beradab, bangsa yang memiliki budaya (cultures), bangsa memiliki meterial, bangsa yang memiliki ribuan hingga jutaan manusia termasuk indigenous people, bangsa yang memiliki orang-orang yang potensi kebudayaanya yang sangat jauh beda dengan bangsa asing.

Eric Fromm perpendapat bahwa, cinta adalah tindakan keyakinan, dan siapa pun yang kecil keyakinannya, kecil juga cintanya. Ia sangat kritis terhadap kekuasaan. Sistem kapitalisme, ia anggap sebagai penyebab ketimpangan sosial manusia. Seperti para tokoh sosialis yang lain, bagi Fromm, kapitalisme adalah sistem yang menjijikan dan tak manusiawi. Tidak ada cinta apa pun dalam sistem ini. From dengan jelas melontarkan hasul renunganya, ia tidak hanya merenungan dengan kajianya, namun, ia juga melihat dengan kasat mata, bahwa apa yang telah ia menuangkan dalam tulisanya adalah benar-benar kecil cinta dari pada imperial-imperial barat (Eropa).

Di masa-masa peradaban bangsa Eropa, saat itulah kehamilan imperialisme, pada akhirnya, melalunya melahirkan kolonialisme, sebab di dalam tubuh kolonial itu terdapat berbagai ragam hal, hal-hal yang semacamnya adalah melahirkan diskrimansi rasial, ketidakadilan, pelangkaran HAM, memperluaskan bahasa eropa ke kepada ketiga benua, yaitu Asia, Afrika dan Amerika Latin (A3), marjinalisasi rakyat bumiputra juga indigenous people, menjadi orang-orang kulit hitam sebagai orang yang posisinya berada di kelas dua, seksisme yang tinggi, misogenesis pada perempuan, tidak ada kejujuran hati tentang apa yang direncanakan atas orang-orang pribumi, narsisme sangat masif, mereka yang mengakuinya sebagai orang yang paling superior, melakukan stratifikasi terhadap negroid, cinta yang tidak bertumbuh namun cinta bangsa eropa menjadi membengkak dan pada akhirnya menjadi infeksi pada ketiga benua.

Penerapan politiik apartheid pada tahun 1652, bangsa Boer (Belanda) mulai menjajah Afrika Selatan dan menguasai sumber daya alamnya. Keberadaan Boer ini terganggu dengan kedatangan Inggris yang memiliki tujuan yang sama. Terjadilah Perang Boer di tahun 1899-1902, dan saat itu dimenangkan oleh Inggris dan mendirikan sebuah negara dominion (negara khusus dengan ketatanegaraan Inggris), yaitu Union of South Africa.

Belanda dan Inggris memainkan peranya, menganggap paling superior dan mengatur Afrika Selatan tidak ada manusia. Menerapkan budaya eropa, mempengaruhi kehidupan rakyat jelata di Afrika Selatan, saat itu pun juga tidak ada sama sekali memberikan edukasi yang baik, tidak ada juga mengajari berekonomian dengan baik, kesejahterahan dan kemakmuran tidak nampak, ruang demokrasi warga dan para pejuang di tutupi, kesehatan yang terganggu, pada akhirnya ribuan hingga juta orang Afrika meninggal beritu saja, apakah ini yang di bilang cinta, kasih, dan sayang dengan bahasa peradaban? Seutunya tidak, itu adalah perkembangan perpanjangan penderitaan warga kulit hitam di Afrika Selatan kala itu.

Itulah juga yang menjadi alasan lain saya beri judul tulisan ini dari bahasa daerah saya. Saat ini orang Papua sudah jarang memakai bahasa asli suku dan daerah. Dan ini sebuah bukti yang kongkrit bahwa neonasionalisme dari pada neokolonial itu masih eksis, masih bertumbuh, masih perkembang dan subur.

Uraian Taufiqurrohman tidak hanya memudahkan pembacaan tetapi juga memberi pemahaman yang lebih mendalam atas konsep-konsep dasar, metodologi, dan kritik-kritik Fanon. Kritik dan konsen Fanon adalah sebuah kontemplasinya yang di kaji berulang-ulang kali untuk menendang neoimperialisme dan neokapitalisme di Perancis.

Mencintai Laki-Laki Kulit Hitam (Biri Nengabo Wana Usina)

Dalam perspektif rohani, jodoh itu ditentukan olah Tuhan, oleh sebabnya, setiap manusia diharuskan untuk mecarinya sesuai petunjuk Tuhan. Ini sudah menjadi sebuah budaya dalam tradisi setiap agama manusia. Tetapi ungkapan seperti ini sebenarnya menurut saya tidak benar. Cinta itu buta dan tidak memiliki realitas ras.

Dalam buku Taufiqurrohman menjelaskan dengan cinta laki-laki dan perempuan kulit putih, sang laki-laki hitam telah menemukan jalan yang mempeng dan terhormat untuk menemukan kesempurnaan hidup. Mereka meyakini sampai pada sumsum tulang bahwa menikahi perempuan kulit putih berarti menikaihi juga kebudayaan, kecantikan, dan keputihan manusia kulit putih. Jadi menikahi merupakan bentuk pengakuan paling awal sebagai gerbang memasuki kebudayaan manusia kulit putih.

Ini adalah sebuah bukti yang kongkrit, bahwa ada beberapa perempuan kulit hitam yang dimana mencintai seorang laki-laki kulit hitam. Laki-laki kulit hitam yang dimana ia tinggal puluhan tahun di Eropa adalah Jean Veneuse. Jean yang lahir di Antilles telah menghabiskan bertahun-tahun di Bordeaux, Prancis, sehingga ia telah sah di sebutkan sebagai orang Eropa (European).

Dalam buku Taufiqurrohman, Fanon mencerikan kisah hidup Jean Venuase dengan amat jelas. Ia yang berkulit hitam, kemudian ia tinggal di Perancis di tempat yang penuh dengan narsis. Ketika ia tinggal di Prancis banyak sekali seksisme dan diskriminasi rasial yang kemudian menimpa Jean. Ia telah menemukan soal-soal ketidakadilan itu, namun ia tidak sama sekali meresponi hal itu, lalu kemudian ia selalu saja di perlakukan hal yang sama tanpa henti, yaitu menurutnya hal yang merendahkan derajat kemanusiaan, sehingga mentalistanya sampai terganggu. Di situasi dan kondisi Jean seperti itu, ada seorang perempuan kulit putih, namanya adalah Marielle jatuh cinta padanya.

Dari sini menurut saya cinta tidak melihat ras, namun cinta melihat kenyamanan dan derajat manusia yang mesti diagungkan. Walaupun Marielle mencintai Jean seperti itu, namun, perlakuan rasis terus dialami Jean. Ketika Jean secara sah menjadi pacarnya akan Marielle tidak dapat menikahinya karena Jean berkulit hitam.

Akhirnya Jean harus bersepakat untuk menjadi warga negara Eropa secara sah untuk menikahi perempuan kulit putih itu.

Diskriminasi rasial ini tidak hanya terjadi pada masyarakat kulit hitam, namun perlakuan rasial juga telah di lakukan terhadap beberapa olahragawan kulit hitam, diantaranya adalah kepada mantan pemain Timnas Italia, Mario Baloteli. Baloteli adalah pemain dunia yang membawai juara, akan tetapi Timnas Italia. Akan tetapi banyak sporter Italia tidak menerima pemain kulit hitam.

Di piala EUFA EURO 2020 kemarin misalnya, sporter orang-orang kulit putih masih saja mengungkapkan rasial yang sama kepada pemain kulit hitam Inggris dan Perancis yang berujung pada permohonan maaf para sporter kepada para pemain. Banyak akun buzzer menjatuhkan para pemain kulit hitam.

Konstruksi rasial yang sudah terbangun sangat lama dengan laki-laki hitam (negro) yang telah menjadi sarana bagi orang-orang Eropa. Mereka memakainya sebagai boxer, player, dan pengerja yang kuat di tempat korporasi, di tempat peperangan, di tempat pengangkutan sampah, di tempat predaktor, dan di tempat petarung lainya atas nama negara-negara imperialis.

Begitu juga di Indonesia. Oleh orang-orang melayu terhadap orang Papua yang nota bene kulit hitam. Ini artinya bahwa apa yang telah di lakukan oleh orang kulit putih atas kulit hitam di Eropa-Afrika itu tak jauh beda dengan apa yang di lakukan di Papua oleh Indonesia.

Mencintai Perempuan Kulit Hitam (Biri Gelabo Wana Senilisina)

Cinta adalah salah satu isu di dalam pemikiran Fanon. Ia memikirkan cinta yang paling esensial, pandangan tentang cinta oleh Fanon sangatlah kontruktif. Ia mengemukakan bahwa cinta merupakan hasill kontruksi sosial masyarakat. Cinta di pandang sebagai suatu hasil kontruksi sejarah yang spesifik.

Konteks ini menguraikan beragam kompleksitas cerita manusia berkulit hitam dalam mendefinisikan cinta pada kehidupan mereka, yaitu mereka saling mencinta lawan jenisnya, baik yang berasal dari ras mereka maupun juga di lain ras mereka sendiri maupun ras kulit putih.

Lebih lanjut, dalam hak hal cinta manusia kulit hitam kepada lawan jenisnya, kolonialisme Eropa telah menjadi bagian amat penting dalam membentuk definisi cinta bagi mereka. Konteks ini menguraikan bahwa bagaimana beragam kompleksitas cinta manusia kulit hitam dalam mendefinisikan cinta dalam kehidupan mereka.

Pada bagian ini, Fanon telah menulis beberapa perempuan kulit hitam yang dimana mereka tinggal di Eropa, kemudian mereka direndahkan oleh orang Eropa, walaupun perempuan berkulit hitam telah dinikahi dengan laki-laki eropa yang kulitnya berwarna putih. Salah satu cotoh yang dijelaskan Fanon adalah Mayotte.

Mayotte adalah seorang perempuan berwarna kulit hitam yang puluhan tahun ia tinggal di Eropa. Ketika ia hidup di Perancis, ia melihat kondisi budaya Eropa itu nampaknya seperti itu, sehingga, selama ia hidup, ia menuliskan sebuah majalah yang berjudul Je Suis Martiniquaise sebanak 202 halaman. Di dalam tulisnya, ia mengakui dan menyatakan bahwa ia sangat mencintai laki-laki seorang kulit putih. Ketika ia telah menjadi pujaan hati laki-laki kulit putih di dalam hidupnya ia di pandang sebagai manusia kelas kedua dalam lingkungannya. Sehingga dalam acara atau pesta, dalam perjalanan kemana pun ia pergi Mayotte tidak pernah ikut dengan sang suaminya yang berkulit putih.

Di zaman yang sama, Fanon juga menunjukan suatu kasus yang menimpa seorang perempuan kulit hitam bernama Etiembe. Etiembe di pandang sebagai perempuan kulit hitam. Ia sendiri tidak menerima dengan apa yang diakukan oleh orang Eropa dengan kata negro kepadanya. Ia menganggap kata negro adalah kata yang merendahkan derajat manusia kulit hitam. Perlakuan semacam ini Fanon menganggap bahwa afeksi atau cinta kepada perempuan kulit hitam menjadi semakin tumpul. Kehidupannya di penuhi dengan kemarahan karena dirinya merasa tidak di hargai oleh mereka yang beranggapan diri mereka paling superior.

Juga Fanon mengutip Abdoulaye Adji. Fanon mengatakan bahwa kebencian yang dialami Abdoulaye adalah bukan suatu bawahan alamiah atau bawahan dari lahir, tetapi sesuatu yang terus-menerus di tanamkan dalam kehidupan manusia. Dan banyak kisah-kisah rasialisme yang merendahkan manusia kulit hitam yang ditulis Fanon dalam buku Taufiqurrohman.

Baru-baru ini di Merauke, Papua, hal paling sadis ketika dua anggota TNI AU menginjak seorang asli Papua dan bisu, persis kasus George Floyt di Amerika. Mereka berpose, bangga atas orang Papua yang diinjak-injak layaknya binatang.

Juga kebiadaban paling mengerikan yang pernah saya dengar dalam Pengadilan Warga soal Pembantaian Biak Berdarah tahun 1998 yang digelar di Universitas Sydney, 6 Juli 2003.

Seorang perempuan yang selamat dari pembantaian itu, Tineke Rumakabu, menjelaskan perlakuan terhadapnya oleh sekelompok tentara. Dua belas perempuan dan anak gadis ditelanjangi, dipukul, dan diperkosa oleh para tentara. Dengan dingin ia berkisah:

“Saya melihat seorang pria memperlihatkan kami satu pisau kecil, pisau yang biasa dipakai bercukur, lantas ia bilang, ‘Kita akan pakai ini untuk memotong vagina kalian, dari atas ke bawah, dari kiri ke kanan.’ Saya menyaksikan seorang anak perempuan, mereka memperkosanya hingga meninggal. Darah berceceran dimana-mana karena vagina perempuan dan klitorisnya dipotong serta diperkosa berulang kali. Mereka juga memukuli perempuan lainnya dengan bayonet dan memotong leher juga payudara perempuan tersebut.”

Mencintai Kemanusiaan (Nimi Nisin Wana Gange Senildana)

Sesungguhnya, manusia itu satu. Dasar dari pada keutuhan manusia pada manusia lain adalah saling mencintai, saling menerima sesamanya sebagai manusia yang utuh, tidak menomorduakan manusia lain dalam hidup.

Fanon menjelaskan pengalamnya, bahwa ia telah diperlakukan sebagai bukan manusia. Semua pengalamanya memiliki kesamaan dalam hal diskriminasi rasial. Ia dan kolegennya (orang kulit hitam) di jadikan sebagai objek dari pada bangsa Eropa. Orang-orang Eropa menjadikan dan mengakui diri mereka sebagai superioritas.

Objektivitas terhadap manusia lainya adalah dasar dari pada rasialisme itu sendiri. Oleh karenanya, Fanon mengungkapkan bahwa ejekan-ejekan yang kerap di terima terhadap manusia berkulit hitam adalah diskriminasi rasial. Bahkan, dalam panggilan dan penyebutan orang Eropa terhadap orang yang berkulit hitam adalah dengan kalimat “Dirty nigger, look a negro!” Pandangan dan posisi realitas orang Eropa semacam ini telah merendahkan derajat manusia di muka bumi ini. Fanon melihat ini sebagai sesuatu hal yang tidak benar.

Fanon juga meminjam istilah Hegel bahwa manusia yang lain juga mengalami momen “Being for others”, namun Fanon juga menambahkan bahwa dalam konteks situasi kolonial “Every ontology is made unattainable in a colonized and civilized society”. Seolah terdapat anggapan bahwa tidak terdapat penjelasaan yang mampu mengurai persoalan eksistensi manusia terjajah sebagai manusia yang beradab. Oleh karena itu, eksistensi manusia kulit hitam seolah menjadi sesuatu yang tidak mudah dilakukan karena ketiadan basis tersebut atau dapat dikatakan bahwa objektivitas ontology gagal menjelaskan eksistensi manusia berkulit hitam karena manusia berkulit hitam bukan suatu objek yang mampu otonom tetapi selalu di tempatkan sebagai objek yang pasif.

Hal semacam prasangka warna kulit manusia atau sikap diskriminatif terhadap ras tertentu itu bisa menimpa siapa saja dan bisa memakan korban siapa saja. Dalam konteks ini, Fanon pun mengambil sebuah contoh yang kongkrit bahwa di Amerika manusia berkulit hitam disegregasi (dipisahkan) dari manusia kulit putih. Di Amerika Selatan mereka juga di cambuk dan bahkan di hukum gantung, bahkan orang-orang kulit hitam yang lakukan mogok kerja di rincang dengan senjata mesin. Di Afrika Barat mereka di anggap binatang.

Fanon dengan getir menjelaskan soal kemanusiaan bahwa, seorang manusia diharapkan berperilaku seperi manusia lain, diharapkan berperilaku selayaknya orang kulit hitam.

Penambakan sebagai kulit hitam telah menjadi suatu bentuk kontrol atas sterotipe negative yang melekat pada warna kulit tersebut. Dengan demikian, ia telah menjadi budak atas penambakanya sendiri dan bukan atas ide orang lain tentang dirinya. Sehingga jalan keluar dari perbudakan oleh diri sendiri itu merupakan dengan mengakui fakta tentang kehitamanya sebagai normal dan wajar sebagaimana fakta tentang keputihan pada manusia Eropa.

Kesimpulan

Dalam sejarah yang panjang dan kelam, manusia kulit hitam tumbuh menjadi manusia yang tidak percaya dengan otoritasnya sendiri. Dan, pandangan itu dari manusia kulit putih. Dalam keseluruhan hidupanya manusia kulit hitam berada dalam bayang-bayang manusia kulit putih dan kebudayaan mereka. Namun, Fanon menjelaskan bahwa terdapat setidaknya dua tipikal manusia kulit hitam dalam hal pencarian atas pengakuannya tersebut. Pertama, kelompok orang kulit hitam yang pasrah pada kekuasaan manusia kulit putih untuk mengakui eksistensi mereka. Kedua, mereka yang berjuang untuk mendapatkan pengakuan tersebut. Yang pertama merupan pengalaman manusia kulit hitam antilles atau yang tinggal di Perancis, sementara yang kedua merupakan pengalaman manusia kulit hitam di Amerika yang dengan segala bentuk perjuangan merahi kemerdekaan sebagai manusia.

Mencintai seseorang adalah suatu tindakan yang memanifestasikan rasa kasih sayang yang sangat manusiawi dan universal. Akan tetapi, dalam prakteknya mencintai dan dicintai pada sebagian orang mencerminkan dehumanisasi, baik dalam mengawali, berproses maupun merencanakan (menggapai) tujuan bersama. Hal ini disebabkan sebagian orang tersebut terbujuk kesadaran palsu ideologi kapitalisme. Inilah tesis Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving.

Menutupi artikel ini, saya mengutip puisi Frantz Fanon:

Kulit putih membunuh ayahku
Karena ayahku sombong
Kulit putih memperkosa ibuku
Karena ibuku cantik
Kulit putih memperbudak kakeku di bawa terik matahari yang membakar jalanan
Karena kakeku kuat
Kemudian kulit putih berpaling kepadaku
Tanganya merah berlumur darah
Meludahi kehinahan hitam di wajahku
Dan dengan suaranya yang sok kuasa
Hei nak, ambil pastus, handuk, dan air.

***

Referensi:

Fanon, Frantz. 2018. Kebudayaan dan Kekuasaan. Resist Book: Yogyakarta. Diterjemahkan oleh Muhammad Taufiqurrohman.

Karma, F. (2014). Seakan Kitorang Setengah Binatang. Jayapura: Deiyai.

Fromm, Erich. 2018. Seni Mencintai. Basabasi: Yogyakarta.

Renold Ishak Dapla
Penulis adalah anggota Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Proklamasi 14 Desember 1988: Aktualisasi Visi Zending I.S.Kijne Untuk Kemerdekaan Orang Papua

Tulisan ini tidak bertujuan mendegradasikan peristiwa politik 1 Desember...

Memaknai Kembali Peristiwa 1 Desember: Berjalan Bersama Rakyat

Saat ini kita sedang merayakan kembali kemenangan rakyat Papua yang tertunda pada 1 Desember 2021. Pertanyaannya, bagaimana seharusnya kita...

Refleksi untuk Perempuan Papua di Hari Anti Kekerasan Perempuan

Oleh Vo Nguyen Giap Mambor Catatan Saya di Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan: Bahan Reflektif untuk Perempuan-Perempuan Tanah (Papua) “... merupakan...

Mengenal Asal-Usul dan Kebudayaan Masyarakat Suku Arfak

Kebudayaan merupakan seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya...

Kritik Bendera Bukan Romantisme dan Fanatisme: Tanggapan Atas Tulisan Musell Muller

Ketika saya menulis artikel Bintang Satu VS Bintang 14: Sebuah Kritik Terhadap Gerakan saya sudah sangat yakin bahwa tulisan...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan