Analisa Harian Mimpi Basah Ali Kabiay Tiap Bulan Oktober

Mimpi Basah Ali Kabiay Tiap Bulan Oktober

-

Kitong generasi muda Papua yang ada sekarang ini, kitong bisa menerima pembenaran-pembenaran baru, menggantikan versi sejarah lama yang kitong pelajari sewaktu sekolah dulu. Berbeda dengan generasi tua yang suka mengklaim kebenaran sejarah versi mereka, hanya karena mereka hidup dekat atau hidup di saat peristiwa itu terjadi.

Pembenaran-pembenaran sejarah lama yang dilakukan melalui riset-riset para sejarawan di abad ini membantu kitong generasi muda Papua pada umumnya mengetahui. Bahwa, sejarah integrasi Papua ke dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) penuh dengan manipulasi data, penipuan, persengkokolan, pemerkosaan kebenaran, hingga pembukaman dan pembunuhan suara-suara kebenaran.

Sejarah integrasi Papua ke dalam NKRI yang cacat hukum dan tak bermoral sudah banyak terungkap melalui artikel-artikel ilmiah, bahkan dalam bentuk buku. Artikel-artikel dan buku tentang sejarah Papua kebanyakan ditulis oleh para sejarawan yang kredibel dan berintegritas. Salah satu buku sejarah Papua yang kebenarannya hingga hari ini belum bisa dibantah oleh pemerintah Indonesia adalah “Een Daad van Vrije Keuze”. Buku tersebut di tulis oleh Profesor Pieter Drooglever, Ketua Peneliti Task Force.

Buku Een Daad van Vrije Keuze yang ditulis oleh sejarawan ternama asal Belanda itu dipublis tahun 2005. Setelah dipublis tahun 2005, diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Dr. Johanes Riberu, mantan rektor Atma Jaya Jakarta dengan judul dalam bahasa Indonesia “Tindakan Pilihan Bebas”. Diterbitkan oleh Kanisius pada tahun 2010.

Buku setebal 867 itu meragukan hasil Pepera 1969 sebagai benar-benar mewakili suara rakyat Papua waktu itu. Buku tersebut juga dapat dibilang secara vulgar menyatakan bahwa Pepera 1969 itu cacat hukum dan moral. Dan data serta kesimpulan dari buku yang membenarkan penolakan atas integrasi Papua ke dalam bingkai NKRI hingga hari ini belum terbantahkan oleh pemerintah dan negara Indonesia.

Jadi saya secara pribadi menjadi bingung dengan Ali Kabiay/Wanggai. Saya tidak habis pikir dan merasa tidak masuk akal karena Pepera 1969 yang menjadi alasan kuat integrasi Papua ke dalam NKRI diragukan dengan data yang hingga hari ini tak bisa dibantahkan dengan data pula.
Tetapi lewat mulut manis macam buah jambu dari Ambai, Ali Kabiay/Wanggai yang mendaulatkan dirinya sebagai Ketua Pemuda Adat Wilayah II Sairei di beberapa media dengan mengatakan bahwa, ada perwakilan Papua dalam Kongres Pemuda Indonesia (28 Oktober 1928) yang melahirkan Sumpah Pemuda.

Para pemuda Papua yang menghadiri Kongres ke II Pemuda Indonesia, pada 28 Oktober 1928 adalah Aitai Karubaba, Abner Ohee, dan Orpa Pallo. Mereka ikut bersama delegasi Jong Ambon.

“Aitai Karubaba tidak datang seorang diri menghadiri, ia menghadiri Kongres Sumpah Pemuda lainnya dari Papua lainnya, yaitu Abner Ohee dan Orpa Pallo.” kata Ali Kabiay, 24 Oktober 2021 di media online papuasatu.com.

Seperti yang saya katakan di atas, bahwa kitong generasi muda Papua yang ada sekarang ini, kitong bisa menerima pembenaran-pembenaran baru, menggantikan versi sejarah lama yang kitong pelajari sewaktu sekolah dulu. Berbeda dengan generasi tua yang suka mengklaim kebenaran sejarah versi mereka, hanya karena mereka hidup dekat atau ada pada saat peristiwa itu terjadi.

Kitong bisa terima tapi dengan catatan, harus ada data terbaru. Jangan hanya bicara mulut sebagaimana kebiasan kami orang Papua. Suka bicara mulut, tidak pake data. Logika tanpa data.

Kenapa? Karena dari daftar hadir atau dari 70an orang peserta Kongres ke II Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) tidak ada nama Aitai Karubaba, Abner Ohee, dan Orpa Pallo sebagaimana yang sering dibusakan oleh Ali Kabiay dan Ramses Ohee. Bahkan dikatakan Sejarahwan Indonesia JJ Rizal, bahwa sejarah Sumpah Pemuda adalah kepalsuan.

“Kata Sumpah Pemuda itu baru diintroduksi sejak tahun 1958, waktu itu memang Seokarno mencecar orang-orang yang anti terhadap persatuan. Itu memang kebohongan besar,” kata Rizal dalam diskusi bertajuk Sumpah Pemuda di Tengah Sumpah Serapah di Jikini, Jakarta (27/10) seperti dikutip dari media online merdeka.com.

Bahkan pada dokumen peserta Sumpah Pemuda yang beredar luas, dari 70an peserta kongres, tidak ada nama Aitai Karubaba, Abner Ohee, dan Orpa Pallo.

Jadi saya sebagai pemuda Papua yang mengimani bahwa dengan pelurusan sejarah integrasi Papua ke dalam NKRI, Papua akan bebas. Ketika membaca pernyataan-pernyataan Ali Kabiay yang kontra dengan yang saya ketahui dari upaya membaca buku. Saya bertanya dalam hati. Siapa punya lagu yang Ali Kabiay menyanyi ini? Lagu yang Ali Kabiay menyanyi ini hasil kajian sejarah atau hanya hasil mimpi basah di setiap minggu ke tiga bulan Oktober?

Saya berharap itu bukan cerita hasil mimpi basah. Jika itu hasil mimpi basah, betapa malunya anak-anak Wondama dan Serui karena harus menanggung jejak mimpi basah yang ditinggalkan oleh Ali Kabiaya/Wanggai di setiap bulan Oktober.

Philipus Robaha
Penulis adalah aktivis Solidaritas Nasional Mahasiswa Pemuda Papua (Sonamappa)

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Proklamasi 14 Desember 1988: Aktualisasi Visi Zending I.S.Kijne Untuk Kemerdekaan Orang Papua

Tulisan ini tidak bertujuan mendegradasikan peristiwa politik 1 Desember...

Memaknai Kembali Peristiwa 1 Desember: Berjalan Bersama Rakyat

Saat ini kita sedang merayakan kembali kemenangan rakyat Papua yang tertunda pada 1 Desember 2021. Pertanyaannya, bagaimana seharusnya kita...

Refleksi untuk Perempuan Papua di Hari Anti Kekerasan Perempuan

Oleh Vo Nguyen Giap Mambor Catatan Saya di Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan: Bahan Reflektif untuk Perempuan-Perempuan Tanah (Papua) “... merupakan...

Mengenal Asal-Usul dan Kebudayaan Masyarakat Suku Arfak

Kebudayaan merupakan seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya...

Kritik Bendera Bukan Romantisme dan Fanatisme: Tanggapan Atas Tulisan Musell Muller

Ketika saya menulis artikel Bintang Satu VS Bintang 14: Sebuah Kritik Terhadap Gerakan saya sudah sangat yakin bahwa tulisan...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan