Budaya dan Sastra Mengenal Asal-Usul dan Kebudayaan Masyarakat Suku Arfak

Mengenal Asal-Usul dan Kebudayaan Masyarakat Suku Arfak

-

Kebudayaan merupakan seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan cara belajar. Setiap suku bangsa dibumi mempunyai budayanya tersendiri, dimana kebudayaan yang dimiliki (dari moyang) diturunkan kepada genarasinya secara turun-temurun agar supaya setiap suku masih terus dapat mewarisi nilai-nilai budaya dari moyangnya.

Budaya di Papua beranekaragam dan unik yang kemudian menjadi ciri kas tersendiri bagi orang Papua. di Papua terdapat 255 suku bangsa yang tersebar luas pada tujuh wilayah adat papua. diantaranya wilayah adat Mamta, Saireri, Me-pago, La-pago, dan Ha-anim di provinsi papua. kemudian ada wilayah adat Domberay dan Bomberay di Provinsi Papua Barat. Dari 255 suku bangsa itu, pastinya memiliki budaya dan kebudayaan-nya masing-masing berdasarkan wilayah adatnya sendiri. salah satunya suku besar Arfak di wilayah tiga Domberay.

Suku Besar Arfak merupakan salah satu suku yang tersebar luas dan berpenduduk di bagian kepala burung pulau Papua, yakni Kabupaten Manokwari, Kabupaten Manokwari selatan, Kabupaten Pegunungan Arfak, Kabupaten Bintuni, Kabupaten Tambrauw dan Kabupaten Wondama. Suku Arfak sendiri terbagi dalam sub-subs suku yaitu suku  Hattam-Moiley, Suku Sougbh-Bohon, Suku Meiyah, suku Moskona, suku Mpur, dan suku Karon. Dan dari setiap sub-subs suku ini masing-masing memiliki kepala sukunya. namun ada satu kepala suku yang dianggap sebagai kepala suku tertinggi dari kepala suku di setiap sub-sub suku itu, yakni kepala suku besar Arfak.

Suku Hattam dan Moiley mendiami Distrik Manokwari Selatan, Distrik Tanah Rubuh, Distrik Prafi, Distrik Warmare, Distrik Mokwam, Distrik Hingk, Distrik Minyambouw, Distrik Oransbari dan Distrik Ransiki. Suku Meiyah mendiami distrik Manokwari Barat, Distrik Sidey, Distrik Manokwari Utara, Distrik Manokwari Timur, Distrik Masni, Distrik Mubrani dan Distrik Testega. suku Sougbh mendiami distrik Catubouw, Distrik Didohu, Distrik Sururey, Distrik Anggi, Distrik Anggi Gida, Disitrik Taige, Distrik Membey, Disitrik Tahota, Distrik Isim, Distrik Momiwaren, Distrik Neney, Distrik Saubabar, dan Rumberpon.

Sedangkan Suku Sougbh-Bohon Dan Suku Moskona berpenduduk di Jagiro, Masyeta, moskona utara, moskona selatan, dan moskona timur (meyah; meyado). Suku Mpur berada di distrik kebar (kebar timur meiyah), distrik saukorem, distrik snopi (Mpur-karon). Selanjutnya ialah suku karon (Karon Gunung Dan Karon Pesisir) yang mendiami distrik sausapor dan beberapa distrik yang ada di kabupaten tambrauw barat.

Untuk saat ini daerah yang dulunya hanya ditempati oleh satu sub suku, sekarang sudah ada sub-sub suku terdekatnya yang tinggal secara berdampingan dan mendiami daerah tersebut sebab dipengarahui oleh fakor perkawinan, perselisian, kontak perdagangan, dan berkebun yang berpindah-pindah. Misalnya didaerah Minyambouw, tidak hanya ditempati oleh suku Hattam tetapi ada juga suku sougbh dan suku terdekat lain-nya.

Dalam tulisan ini penulis membatasihnya  dengan membahas tentang kebudayaan masyarakat suku Besar Arfak di Papua Barat yang berfokus pada suku Arfak Hattam, suku Arfak Hattam Moiley, suku Arfak Soughb, suku Arfak Sougbh bohon dan Suku Arfak Meiyah.

Asal Mula Nama Arfak

Orang Arfak adalah sebutan yang sudah sejak abad ke-18 digunakan untuk penduduk dipegunungan dipedalaman (baca Pim Schoorl Belanda di Irian Jaya, amtenar dimasa penuh gejolak 1945-1962, hal 151). Pada waktu itu panggilan dengan nama orang Arfak oleh penduduk pesisir tidak berkenan di hati mereka melainkan yang bersangkutan sendiri menyebut dirinya orang hattam, orang meiyah, orang sougbh, dan sebagainya (Baca Kamma vol 1, 1981:76).

Namun didalam perkembangan-nya sebutan dengan nama orang Arfak dapat diterima. Sehingga dari sini bisa dapat disimpulkan bahwa nama Arfak adalah nama yang diberikan dan di tuturkan oleh pendatang, yaitu orang biak-numfor yang berpenduduk di daerah pesisir manokwari kala itu. yang mana nama itu diambil dari tempat mereka berasal.

Nama Arfak diambil dari nama sebuah gunung yang berada didaerah itu, yaitu gunung Arfak (Apomfires dan sapulette, 1993:139). Sedangkan Nama asli dari Gunung arfak sendiri, yang oleh masyarakat setempat disana, mereka menyebutnya gunung Indon atau dalam bahasa hattam “Indonga” yang berarti gunung besar.

Kilas Gambaran Umun pegunungan Arfak

Pegunungan arfak terdiri dari berbagai gunung yang tinggi. Untuk mendapatkan gambaran dari lokasi yang didiami oleh suku arfak. kita bisa dapat menelusurinya dari pantai utara. gunung yang terkenal disana adalah gunung karang (Marnjofos). letaknya diperkirakan disekitar sungai arui, prafi hingga ke pami. Lalu disebelah barat ada gunung Iger tempat sungai waramui mengalir dan ada gunung Mononghuofok dan gunung Ikofow  yang dekat dengan sungai kasih dan sungai meofmer.

Beralih kebagian selatan, disana gunung-gunung semakin menjulang tinggi dan terjal. Gunung tertinggi adalah gunung indon dan Humncen di desa mokwam Distrik Warmare. Dengan ketinggian gunung diperkirakan 3000 meter dari permukaan laut. Sebelah barat dari gunung Umncen ada gunung Ijonokona. Disitu mengalir sungai warmoni, anak sungai wariori dan sungai meijof, lalu di hulu ada sungai wasian.

Makin ke selatan dari gunung Ijonokona terletak pegunungan lina sampai ke gunung kapur disebelah utara dari Kecematan Bintuni (sekarang Kabupaten Bintuni). Dari hulu sungai wariori, gunung itu melintangi ketimur dan melandai kedataran anggi. Diantara danau Anggi terletak Gunung Kobrey dan sebelah timurnya terletak gunung Jenu.

Asal Usul Orang Arfak

Asal usul orang arfak dikisahkan melalui cerita yang terkandung didalam mite, cerita rakyat ataupun dongeng yang dituturkan secara lisan. Beberapa diantaranya, mite pertama, orang Arfak yang tinggal dikawasan manokwari yakin bahwa dunia dan alam semesta diciptakan oleh ajemoa yaitu dewa yang menciptakan nene moyang pertama orang Arfak, Siba. Dan siba ini mempunyai tiga orang anak, yakni Iba, Aiba (pria) dan Towansiba (wanita). Dari sinilah yang kemudian menurunkan berbagai klen atau marga Saiba, Ahoren, Towansiba, Inyomusi, Iba dan sebagainya.

Mite kedua, orang arfak meyakini bahwa nene moyang mereka berasal dari binatang (hewan), misalnya dalam Gill Crravell (1988, dan dalam salabai 2009: 18) mengemukakan bahwa suku hattam, suku Meyakh dan suku Moile berasal dari (hewan) anjing, yang berkisah dari seorang laki-laki bernama Imnyena memiliki seekor anjing betina. Anjing ini mengandung dan kemudian melahirkan seorang manusia berjenis kelamin perempuan dan dua ekor anjing. Bayi manusia  dan kedua binatang masing-masing bernama Ninab dan Wanio. Setelah bayi manusia ini tumbuh dan besar menjadi seorang gadis. Ia menikah pertama di daerah meyakh dan keturunan-nya memakai klan Mandacan Indou, Salabai. Sough, Tibyai, Demih, Ullo, Wonggor, Dowansiba. Sebagai suku Arfak Hatam, suku Arfak Moyle dan suku Arfak Sough.

Kebudayaan Suku Arfak

Pada umum-nya semua kebudayaan dari setiap suku bangsa diatas bumi ini terdapat unsur-unsur dan wujud kebudayaan-nya masing-masing. Ada bermacam-macam pandangan dan argumnetasi dari para ilmuan mengenai unsur-unsur kebudayaan yang disebut “Cultural universals” salah satunya ilmuan C. Kluckhohn namun Untuk dapat menelusuri kebudayaan suku arfak, penulis memakai 7 (tujuh) unsur kebudayaan menurut pandangan Koenjaraninggrat diantaranya;

Bahasa

Bahasa adalah alat komunikasi yang dipakai untuk saling berinteraksi antar sesama manusia dalam kehidupan-nya sehari-hari. Bahasa-bahasa yang diucap oleh suku Arfak diantaranya; Bahasa Hattam, bahasa hattam Moiley, Bahasa Sougbh, bahasa Sougbh Bohon dan bahasa Meiyah.

Sistem Teknologi

Sistem Teknologi atau sistem peralatan dan perlengkapan hidup manusia, suku Arfak sebelum diperkenalkan untuk mengenal alat-alat pertanian seperti kapak, parang, pacul, linggis, garpu, dodos dan lain sebagai-nya, mereka hanya dapat bercocok tanam di daerah datar yang dianggap kosong dengan melakukan pembersihan ladang terlebih dahulu terutama disekitar batang pohon yang tumbang dengan memakai alat tradisional yakni mu’gha (tongkat tugal), barmokta (gigi petir atau kilat), dan idahabgor duhumes (batu hitam dari kali/sungai). Gigi petir dan batu hitam dari kali itu diambil dan diolah lalu dijadikan sebagai pengganti alat kapak, parang, atau pisau.

Peralatan dan perlengkapan dapur, suku arfak sebelum mengenal alat untuk memasak seperti korek api, minyak tanah, konvor, belanga, piring, sendok dan kwali. Mereka hanya hidup dengan memanfaatkan alam dengan cara menggunakan kulit kayu, bambu dan daun pilihan sebagai alat untuk memasak sedangkan alat untuk membuat api dengan cara percikan nyala api dimunculkan terlebih dulu dari bulu dan sabuk pohon enau, batu dan bambu kering yang saling digesekan setelah menyala barulah ditaruh kayu bakar (kering) agar supaya nyala apinya bertambah besar untuk memasak.

Senjata atau alat perang yang pakai oleh suku arfak adalah pana-pana atau busur dan tombak panah yang terbuat dari bambu, tali rotan dan nibun yang sudah tua serta gelegah tetapi alat ini juga digunakan untuk berburuh. Aktifitas ini hanya dilakukan oleh kaum pria dan anak-anak mereka. Alat transportasi untuk berpindah tempat ataupun perdagangan bagi suku arfak hanyalah jalan kaki sebelum diperkenalkan penduduk luar untuk memakai mobil, motor, dan perahu dayung ataupun jonson bagi mereka dipesisir pantai dan sekitar danau anggi.

Proses penangkapan ikan dan belut sebelum ada jaring, nylon dan mata kail mereka menggunakan alat tradisional yaitu angrhom atau disra yang dibuat dari serat akar pohon pandan. Serat-nya berduri berbentuk kail diberi umpan cacing lalu diletakan didanau atau kali, setelah ada ikan yang tertangkap barulah diangkat. Alat tradisional lain-nya ialah imboisi, batang pohon kayu atau pohon nibun yang sengaja dilubangi atau yang memang sudah berlubang itu dimuat dan ditenggelamkan dengan batu didalam air. Lalu mereka menungguh satu malam atau bahkan lebih setelah dirasa atau diketahui ada ikan dan belut barulah diangkat. Metode lain untuk menangkap ikan yaitu dengan cara keringkan kali kecil dan merabah atau masukan tangan dalam lubang batu (tanah) untuk mendapatkan ikan belut atau udang. Dalam perkembangan-nya sekarang mereka sudah menggunakan jarring, nylon dan mata kail.

Pakaian dan perhiasan suku arfak adalah cawat dari kain merah bagi laki-laki dan kain hitam (atau juga warna lain) bagi perempuan. Manik-manik (belanda, sekarang Indonesia) dibuat jadi Gelang tangan disebut riya (sebelumnya dari rotan atau batu), dimaya, hiasan dari manik-manik yang dilekatkan diotak (testa) atau dibagian kepala sekarang terbuat dari bulu burung cendrawasi dihanyam dan dibuat rapi lalu ditaruh sebagai mahkota kepala. breb atau rihmo hiasan manik-manik yang disilang pada bagian dada orang arfak. Sebelum ada cawat dari kain suku arfak menggunakan cawat yang terbuat dari kulit kayu bagi laki-laki ataupun perempuan tetapi terlebih khusus untuk mereka (wanita) memakai cawat yang terbuat dari Bunga pohon yang disebut indonga atau ago

Tempat berlindung dan perumahan, orang arfak ketika melakukan perjalanan panjang kedaerah lain atau saja turun kota dan balik kekampung ada tempat-tempat tertentu yang mereka pakai untuk beristrahat ditengah jalan. Dan apabila turun hujan mereka berteduh ke pohon-pohon besar atau batu besar untuk berlindung. Rumah tradisional suku arfak adalah rumah kaki seribu kalau dalam bahasa hatam menyebutnya mod aki aksa atau igjoe. Rumah kaki seribu merupakan rumah adat suku arfak bahan-bahan-nya terbuat dari kayu, kulit kayu dan batang pohon untuk penyangga dan dinding, tali rotan untuk mengikat dan atapnya menggunakan rumput alang-alang, daun sagu dan daun nibun.

Rumah kaki seribu hanya terdapat satu tangga-tangga dan dua pintu bagian depan dan belakang tanpa jendela. Didalam rumah ini terasa hangat dari suhu dan udara dingin, terlindungi dari hujan dan panas serta dari musuh dan binatang buas karena penyangga rumah tingginya satu sampai empat meter diatas permukaan tanah dan terkadang disekeliling rumah dipagari oleh pagar. Dalam perkembangannya sekarang sebagian rumah-rumah mereka sudah berubah menjadi rumah tembok dan rumah papan dengan atap menggunakan seng.

Sistem Mata Pencarian

Mata pencarian pokok orang arfak adalah berkebun dengan cara berpindah-pindah. Suatu bidang tanah yang hendak dijadikan ladang pertama-tama dibersikan dari semak-semak dan pohon-pohon kecil yang ada didalamnya. Seusai pembersihan, ladang itu ditanami bibit keladi dan anakan pisang terlebih dahulu. Kemudian barulah pohon-pohon besar ditebang. Batang pohon yang sedang dipotong dan dikumpulkan pada tempat tertentu  atau ditaruh pada pinggiran (batas) kebun. Lalu batang pohon besar serta dahan, ranting dan daun pohon dipotong-potong  tersebar didalam kebun, Setelah kering kebun itu dibakar dan dibersikan untuk proses penanaman bibit. Aktifitas tambahan biasanya mereka membuat pagar untuk melindungi dan menjaga tanaman dari babi yang dianggap sebagai hama bagi tanaman.

Jenis tanaman yang ditanam selain pisang dan keladi adalah petatas, singkong, papaya dan sayur-sayuran (terutama bayam dan Gedi) serta jagung, kacang tanah, dan tebu. tidak hanya itu bagi mereka yang tinggal di pegunungan Arfak, mereka juga menanam jenis tanaman dengan kualitas tinggi seperti kentang, wortel, bawang, kol, seledri, buncis dan sawi yang dibawa dari luar, sejak 1950-an. Untuk tanaman ini bagi mereka Dipegunungan arfak biasanya mereka memanfaatkan lahan disekitar halaman rumah untuk menanam tanaman tersebut. hasil kebun dipanen kurang lebih 3 sampai 8 bulan bahkan setahun  lebih. Setelah dipanen kebun itu dibiarkan lalu membuka lahan baru untuk membuat ladang baru. Setelah 5-10 tahun kemudian barulah lokasi itu bisa dapat dibuka kembali menjadi ladang karna dianggap tanah itu sudah kembali subur seperti sejak kala.

Berburuh dan meramu adalah mata pencarian tambahan yang dilakukan oleh suku arfak dengan menggunakan busur dan anak panah. Berburu di hutan, satu sampai dua minggu dengan tempat peristirahatan, pondok yang telah dibuat ditengah hutan. Binatang yang banyak diburu adalah kuskus pohon, tikus tanah, kangguru pohon, dan babi hutan. tidak hanya itu mereka juga mengambil daun-daun yang bisa diambil untuk dikonsumsi diantaranya sayur pakis dan sayur genemon.

Peternakan, orang arfak selalu beternak babi dan itu sudah menjadi tradisi sejak turun temurun dari moyang karna babi tidak hanya dipelihara untuk dikonsumsi atau didagangkan tapi juga sebagai alat upacara adat, pembayaran maskawin, dan pembawa damai ditengah konflik diantara sesama suku arfak. bentuk mata pencarian lain yang sering dilakukan oleh orang arfak yaitu menangkap ikan di tepi sungai (kali) dan dipinggiran danau anggi.

Sebelum mengenal uang sebagai alat tukar, Perdagangan mereka pada jaman dulu dilakukan dengan cara barter atau tukar menukar. Dimana hasil dari mata pencarian atau perhiasan berupa harta benda mereka, itu ditukarkan dengan barang-barang yang di miliki oleh orang lain sesuai kesepakatan bersama. Orang arfak menggunakan ternak babi, manik-manik dan gelang tangan sebagai alat tukar. Namun dalam perkembangan ketika mereka sudah mengenal uang sebagai alat tukar, kini hasil-hasil dari mata pencarian mereka itu dijual untuk memperoleh uang guna mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari via perdagangan pasar.

Sistem Kemasyarakatan/Organisasi Sosial

Kesatuan sosial terkecil pada orang arfak adalah keluarga luas yang mendiami satu rumah (tumitsen). Keluarga Luas itu terdiri dari Keluarga ayah dan keluarga dari anak yang sudah kawin. Namun ada juga keluarga batih yang mendiami satu rumah, yang hanya terdiri dari suami istri dan anak-anak mereka. pola menetap sesudah kawin itu disebut virolokal, namun terdapat juga pola menetap yang bersifat matrilokal karena pihak laki-laki tidak memberikan maskawin kepada pihak keluarga dari mempelai perempuan. Sehingga laki-laki harus tinggal bersama dengan keluarga perempuan, yakni bapa dan ibu mertua-nya lalu bekerja bersama mereka sebagai gantinya. didalam rumah keluarga luas biasanya terdapat tiga sampai lima kamar, sebanyak keluarga yang ada.

Kesatuan sosial orang arfak yang lebih besar dari pada keluarga luas adalah klen dan cabang klen. kesatuan sosial yang besar ini biasanya mendiami satu kampung (mnu) karna mereka  berasal dari satu nenek moyang. didalam satu kampung (mnu) terdapat dua sampai empat klen sebab mereka terikat dalam suatu ikatan kekerabatan dari satu nenek moyang yang sama, moyang tersebut biasa-nya masih di ingat dan akan diceritakan pada setiap generasi. Dikehidupan orang arfak, perkawinan sesama klan bisa terjadi sesudah generasi keempat atau kelima, Keturunan orang arfak ditrasir menurut garis keturunan ayah atau patrilineal.

Kekerabatan orang arfak sangat kerat dan memang itu suda menjadi tradisi turun temurun dari moyang, dimana bila dalam kehidupan sehari-hari terjadi permasalahan atau perkara perzinahan, perkawinan atau bahkan pembunuhan. Yang kemudian akan menimbulkan tuntutan maka keluarga yang dituntut akan mengadakan kekompakan bersama kerabat-kerabat-nya  mengumpulkan uang, harta benda sesuai barang yang diminta untuk dibayar dan membuat penyelesaian.

Organisasi sosial pada orang arfak adalah lembaga adat yang dipimpin oleh seorang kepala suku yang mempunyai keunggulan dan pengaruh besar ditengah kehidupan masyarakat. Kepala suku dalam bahasa meiyah disebut moskur atau manir dalam bahasa sough. Bagi orang arfak kepala suku merupakan figure yang mendapat legitimasi dari masyarakat bawah Karena mereka memiliki Kekayaan berupa barang barang tradisional maupun modern. Mereka mempunyai jaringan pribadi yang luas di masyarakat dan pemerintah, Mereka juga dapat bertindak sebagai penengah dalam penyelesaian perselisiahan atau dalam tukar-menukar barang-barang  berharga tradisional.

dia juga dapat menjalankan fungsi sebagai Bank bagi banyak orang yang tergantung pada mereka untuk membayar denda-denda dan kewajiban dalam perkawinan. Sehingga apapun keputusan kepala suku yang dikeluarkan mereka pasti menurutinya. Selain itu maskur juga berfungsi sebagai mediator dalam memediasi kepentingan masyarakat ke pemerintah atau sebaliknya. Mampu mengorganesir masyarakat bawah untuk dapat berperan aktif dalam suatu kegiatan pembangunan.

kepemimpinan adat saat ini telah dipengaruhi oleh kemimpinan pemerintahan yang kemudian membuat semakin melemahnya kepemimpinan adat, kepemimpinan yang ideal itu diharapakan bila kedua jenis kepemimpinan itu diterapkan secara adil dan saling bekerja sama dalam kehidupan masyarakat.

Sistem Pengetahuan

pandangan orang arfak terhadap alam tidak terlepas dari interaksi-nya dengan lingkungan alam. Gejala-gejala alam yang terjadi diamati secara berulang-ulang sehingga  memberikan pengetahuan yang kemudian digunakan untuk menginterpretasikan apa yang terjadi di sekitarnya. misalnya pengetahuan akan musim hujan dan musim panas ditiap tahun. Musim panas terjadi pada bulan juni, juli, agustus dan desember lalu musim panas terjadi pada bulan September dan oktober.

dua musim ini diperkirakan dari posisi bulan dilangit atau pergantian bulan yang dihitung menggunakan lidi yang disiapkan berdasarkan banyak-nya bulan dalam setahun. Perkiraan lain ialah dengan cara melihat pergeseran matahari ataupun bulan apabila berada tepat diatas objek atau patokan yang ditentukan berupa telaga, gunung ataupun pohon maka akan terjadinya musim hujan Dan bila bergeser dari objek tersebut maka akan terjadinya musim panas.

Suara burung tertentu bila terdengar dihutan atau disekitar lingkungan rumah pertanda  bahwa akan terjadi sesuatu, diantaranya; bairesmoub ketika orang mendengar suara burung ini menangis dia akan merasa sedih karna keluarga-nya ada yang meninggal. Skek atau bicat bila mendengar suara dari burung ini bertanda bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Bebib apabila mendengar suara burung ini pertanda kalau orang akan datang, entah orang jahat atau keluarga.

Hogoiy bila mendengar suara burung ini menangis dan kedengaran-nya jau bertanda kalau sebenarnya burung itu suda ada dibawah kolong rumah. Ketika suara-nya berhenti atau hilang anak kecil akan jatuh sakit atau orang yang sakit akan meninggal. Minyaskiot (kakatua hitam) bila melihat satu, dua atau tiga orang berjalan di hutan maka burung ini akan memanggil nama kita dan menyebut tempat kita berada sehingga orang yang mendengar suara dari burung ini harus berwaspada karna biasanya suanggi (orang Jahat) mengikuti suara dari burung tersebut.

Konsep sakit menurut orang arfak adalah gangguan pada tubuh manusia karna pengaruh roh-roh mahluk  halus yang berada disekitar lingkungan mereka ada. Roh halus bagi mereka biasanya tinggal bersemayam di sungai, pohon, batu, gunung, danau, tanjung, ataupun telaga. yang kemudian membuat mereka harus berhati-hati dalam melakukan aktifitas. Selain itu ialah sakit karena factor adat istiadat.

Pengetahuan untuk pengobotan, orang arfak ketika sakit, mereka memanfaatkan alam tumbuh-tumbuhan sebagai sumber obat-obatan tradisional untuk menyembukan sakit penyakit. Diantaranya, Bête hutan (miroub), putri malu (desij), pucuk nenas (gongoro moro), daun sirsak, daun giawas, brimonmed moub (tumbu-tumbuhan), inauga moub, arguamed moub (obat Suanggi punya daun), ide eguera bey (bunga duri), Merij (jahe) aramoban moub dan lain sebagainya.

Obat dari tumbuh-tumbuhan ini biasanya digunakan untuk mengobati penyakit ringan atau pun berat diantaranya; penyakit malaria, panas dalam atau penyakit adat akibat terkena obat suanggi. Selain itu mereka juga tau jenis-jenis kayu untuk membuat rumah, salah satunya adalah kayu arwob. Mereka juga Membuat noken dari benang yang telah di olah dari kulit nenas, kulit kayu, ataupun kulit genemon.

Sistem Religi

Masyarakat arfak meyakini ada tumbuhan tertentu yang memiliki  kuasa luar biasa yang disebut dalam bahasa hatam Mumweb (obat suanggi). Tumbuhan ini digunakan untuk mengutik dan meracuni seseorang bahkan untuk membangkitakan orang yang telah dibunuh. Entah orang yang baru dibunuh atau yang sudah lama dibunuh dan membusuk selama dua sampai empat hari. orang yang menggunakan tumbuhan ini disebut suanggi atau Surer (bahasa Sougbh). Suanggi adalah manusia biasa yang dibayar oleh oknum tertentu untuk memusnakan seseorang yang dianggap musuh karena telah melakukan berbagai pelanggaran (masalah) contohnya perbuatan perzinahan. Namun untuk saat ini banyak pembunuhan terjadi karena adanya iri dengki diantara sesama mereka  sendiri.

Makanan yang mereka konsumsi sisanya tidak boleh diberikan pada ternak babi untuk disantapnya lagi sebab jika diberikan secara terus-menerus akan membuat mereka sakit karena mereka meyakini roh mereka ada didalam sisa makanan yang telah dimakan oleh babi yang kini membuatnya harus menderita sakit. sehingga untuk memperoleh kesembuhan mereka harus membunuh babi tersebut untuk dikonsumsi. Selain itu Orang Arfak juga yakin bahwa untuk memperoleh kesuburan pada pertanian, hanya diperoleh dari dewa bereytow (dewa bulan purnama) yang memberikan kesuburan pada tanaman. Suku arfak juga yakin bahwa alam sekitar lingkungan tempat mereka tinggal ada berbagai macam roh mahkluk halus, yang baik maupun yang jahat. Oleh karena itu mereka perlu untuk tetap menjaga dan memelihara hubungan baik dengan roh-roh itu dengan memberikan berbagai macam sajian pada berbagai rangkaian upacara peribadahtan adat.

Dahulu ketika seseorang meninggal mayatnya tidak langsung dikuburkan melainkan dikeringkan diatas para-para yang dibawahnya ada nyala api, setelah kering jenasahnya diambil dan dibungkus dengan tikar lalu dimasukan didalam lubang kayu atau diletakan diatas pohon dihutan namun setelah orang arfak menganut agama Kristen. Orang yang telah meninggal kini jenasahnya dikuburkan. Untuk orang arfak bila seseorang meninggal pastinya akan diselidiki secara seksama untuk mengetahui apa penyebabnya. jika diketahui seseorang meninggal karna dibunuh maka didalam proses pengeringan mayat oleh api, mereka menada minyak yang keluar dari tubuh mayat itu untuk disimpan. lalu akan di campurkan pada makanan saat pembuatan acara pesta nantinya. Sehingga mereka yang telah membunuh orang itu datang menghadiri acara itu dan menyantap makanan-nya perutnya akan membesar, sakit dan mati.

Dalam tatanan kehidupan masyarakat arfak saat ini, mereka tidak boleh menerima pemberian dari orang yang telah membunuh keluarga kita, entah itu berupa makanan ataupun uang untuk digunakan sebab menurut keyakinan orang arfak, roh dari keluarga kita yang meninggal akan datang membutakan mata kita atau membuat kita sakit dan perut besar. Selain itu Masyarakat arfak juga meyakini bahwa orang yang meninggal Rohnya masih melayang-layang dan tinggal bersemayam di alam semesta, tempat lingkungan mereka berada. Salah satu contohnya adalah mereka yang tinggal di pegunungan arfak percaya bahwa roh orang meninggal semuanya berada di sensenemes atau Gunung Maut.

Sistem Kesenian

Ekspresi kebudayaan arfak dalam seni adalah bernyanyi dan berdansa. Dansa atau lebih akrab dikenal dengan sebutan tarian tumbuh tanah. Tarian tumbuh tanah merupakan tari-tarian tradisional dari suku besar arfak yang masih ada sejak dahulu hingga saat ini. Tarian tumbuh tanah diaktrasikan secara massal dan tak terbatas oleh jumlah penari sehingga tarian ini digolongkan kedalam tari berkelompok dikarenakan penarinya lebih dari dua orang.

Dalam Tarian ini melibatkan semua lapisan masyarakat dari satu kampung maupun kampung-kampung terdekat disekitarnya. yang artinya itu di ikuti oleh mereka yang sudah berusia tua maupun muda, baik pria maupun wanita. tarian ini dilakukan dengan saling bergandengan tangan dan berhimpit disertai dengan lompatan kaki yang disentakan ke tanah mengikuti irama lagu yang dinyayikan. Pujian yang dinyayikan pun berdasarkan situasi dan realitas kehidupan mereka sendiri dimana itu menceritakan tentang sifat kepahlawanan, keromantisan, kepemimpinan, keindahan alam, langit, matahari, bulan dan gunung.

Tarian tumbuh tanah ketika diperagakan formasinya hampir menyerupai ular yang sedang melilitkan tubuhnya dipohon sehingga orang menyebutnya tarian ular. Tarian ini hanya dilakukan dalam acara-acara penting, misalnya untuk menyambut kedatangan tamu, merayakan pesta perkawinan, merayakan kemenangan terpilihnya seorang pemimpin, dan pesta makan dalam rangka menjalin hubungan kekeluargaan yang terkadang menjadi ajang dalam mencari jodoh. Masing-masing sub-subs suku dalam suku Arfak menyebut tarian ini dengan nama yang berbeda-beda sesuai dengan bahasanya sendiri-sendiri, salah satu contohnya suku Hattam yang menyebutnya dengan nama Ibihim dan suku Sough yang menyebutnya dengan nama Manyohora.

Kesimpulan

Kebudayaan itu hanya dimiliki oleh masyarakat, manusia yang tidak diturunkan secara biologis tetapi diperoleh melalui proses belajar. Kebudayaan didapat, didukung, dan diteruskan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan juga merupakan pernyataan  atau perwujudan dari kehendak, perasaan, dan pikiran manusia.

Masyarakat suku Arfak terdiri dari beberapa sub-subs suku, yaitu Suku Hattam dan Moile mendiami distrik manokwari selatan, distrik tanah rubuh, distrik prafi, distrik warmare, distrik Mokwam, distrik Hingk, Distrik Minyambouw, distrik Oransbari dan sebagian di distrik Ransiki. Suku Meiyah mendiami distrik Manokwari Barat, distrik sidey, distrik manokwari utara, distrik manokwari timur, distrik masni, distrik mubrani, distrik testega dan distrik merdey (meiyah-Sough, moskona).

suku Sough dan Sough Bohon mendiami distrik Catubouw, distrik didohu, distrik sururey, distrik anggi, distrik anggi gida, disitrik Taige, distrik membey, disitrik Tahota, distrik Isim, distrik momiwaren, distrik neney, distrik saubabar, distrik Rumberpon, dan distrik bintuni. Sedangkan Suku Moskona berpenduduk di jagiro, masyeta, moskona utara, moskona selatan, dan moskona timur (meyah; meyado). suku Mpur berada di distrik kebar (kebar timur meiyah), distrik saukorem, distrik snopi (mpur-karon). Selain itu, ada suku karon (karon Gunung Dan karon Pesisir) yang mendiami distrik sausapor dan beberapa distrik yang ada di kabupaten tambrauw barat.

Nama Arfak adalah sebuah nama yang diberikan dan disahutkan oleh orang biak-numfor, kala itu dimanokwari bagi orang-orang yang datangnya dari pegunungan dipedalaman. Dimana nama tersebut diambil dari sebuah gunung tempat mereka berasal, yaitu gunung Arfak atau orang sekitar disana menyebutnya gunung Indon, yang memilik arti Gunung Besar.

***

Daftar Referensi

 

Buku Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya, Johszua Robert Mansoben, seri LIPI-RUL 5, Jakarta 1995.

Buku Ajaib di Mata Kita, Volume 1, Dr. F. C. Kamma, 1981.

Buku Belanda di Irian Jaya Amtenar Dimasa Penuh Gejolak, 1945-1962.

Buku Etnografi pembangunan papua, Dr. Ir Mulyadi, M.Si, 2019.

Jurnal cultural anthropology : etnografi papua, Cindy Setiawan, saturday, march 27, 2010.

jurnal tari tumbuh tanah sebagai jati diri masyarakat suku Arfak  di manokwari, papua barat, Iwan Dwi Aprianto, 2019.

Jurnal Antropologi Papua Volume 1 . No 3, April 2003.

Skripsi Perkawinan Satu Marga Dalam Hukum Adat Suku Arfak-Sougbh di Kecamatan Catubouw Kabupaten Manokwari, Elly Dowansiba, 1998

Data lapangan berupa informasi dari; ¹ bapak Jhoni Dowansiba selaku ketua majelis daerah Gereja Persekuatan Alkitab Indonesia  (GPKAI) catubouw Kab. Pegunungan arfak, ² bapak Pit Inyomusi, dan ³ Bapak Pit Dowansiba.

 

Kelly Dowansiba
Penulis adalah Aktivis GempaR-Papua dan alumnus Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Proklamasi 14 Desember 1988: Aktualisasi Visi Zending I.S.Kijne Untuk Kemerdekaan Orang Papua

Tulisan ini tidak bertujuan mendegradasikan peristiwa politik 1 Desember...

Memaknai Kembali Peristiwa 1 Desember: Berjalan Bersama Rakyat

Saat ini kita sedang merayakan kembali kemenangan rakyat Papua yang tertunda pada 1 Desember 2021. Pertanyaannya, bagaimana seharusnya kita...

Refleksi untuk Perempuan Papua di Hari Anti Kekerasan Perempuan

Oleh Vo Nguyen Giap Mambor Catatan Saya di Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan: Bahan Reflektif untuk Perempuan-Perempuan Tanah (Papua) “... merupakan...

Mengenal Asal-Usul dan Kebudayaan Masyarakat Suku Arfak

Kebudayaan merupakan seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya...

Kritik Bendera Bukan Romantisme dan Fanatisme: Tanggapan Atas Tulisan Musell Muller

Ketika saya menulis artikel Bintang Satu VS Bintang 14: Sebuah Kritik Terhadap Gerakan saya sudah sangat yakin bahwa tulisan...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan