Analisa Harian Bagaimana Seharusnya Perdebatkan Buku “Perempuan Bukan Budak Laki-Laki”?

Bagaimana Seharusnya Perdebatkan Buku “Perempuan Bukan Budak Laki-Laki”?

-

Telah mengundang perdebatan di permukaan ketika buku yang berjudul Perempuan Bukan Budak Laki-Laki karya Pdt. Dr. Socratez Sofyan Yoman itu di-launching pada Sabtu, 16 Juli 2022 di Aula Gereja Katolik Kristus Terang Dunia, Waena di Jayapura. Kegiatan launching yang dipandu oleh empat narasumber: Pdt. Dr. Benny Giay, Pdt. Benny Krey, Pdt. Diana Yembise, dan Merry Tabuni. Gubernur Papua, Lukas Enembe sebagai keynote speaker.

Perdebatan ini lebih karena judul bukunya yang mengundang banyak perdebatan antara laki-laki dengan perempuan di sosial media. Menurut saya kontra itu tidak salah, saya sepakat karena dari kritikan itulah akan ada dialektika terutama soal gender (gender equality) di Papua. Kritik itu bukan hal baru, ini merupakan hal yang lazim bagi penulis-penulis terkemuka.

Pro dan kontra pada sebuah soal adalah hal yang biasa. Tetapi kritik mesti harus pada ruang atau cara yang tepat. Seperti yang dilakukan oleh para pemikir serta penulis terkemuka, yang tidak hanya memperdebatkan soal judul tetapi juga mesti isi atau substansi tulisannya. Dari sinilah menurut saya buku Perempuan Bukan Budak Laki-Laki mesti dikritik di ruang yang tepat.

Ketika mendengarkan nama pendeta Socratez Sofyan Yoman yang terlintas di kepala kita adalah seorang agamawan dan gerejawi yang selalu keras memperjuangkan keadilan di Papua. Selain lantang menyuarakan lewat suara gembala, ia juga banyak menulis buku tentang kekerasan, politik, Papua merdeka, dan sebagainya. Salah satunya yang sedang kita perdebatkan Perempuan Bukan Budak Laki-Laki.

Dalam perdebatan panjang, muncul berbagai pertanyaan, salah satunya adalah mengapa ide itu ada dalam benak Pdt. Yoman, kemudian ia telah memutuskan Perempuan Bukan Budak Laki-Laki sebagai judul bukunya? Yang pasti Pdt. Yoman mempunyai bermacam-macam alasan sebagai jawaban tersendiri. Alasan-alasan Pdt. Yoman yang tersirat di dalam karyanya memiliki arti dan makna, yang justru dipelajari dan dipahami secara terstruktur tentang dari mana posisi Pdt. Yoman dan kenapa idenya disatukan dalam karyanya.

Pdt. Yoman berada dalam koridor gereja ketika ia berbicara kebenaran. Semua rentetan dan malapetaka yang terjadi terhadap orang Papua, Pdt. Yoman selalu bersuara melalui itu. Selain menulis, ia juga melakukan khotbah-khotbah di mimbar yang lantang keras tentang realita kehidupan umatnya rakyat Papua (tanpa membedakan warna kulit, ras, asal daerah, juga agama). Sebagai gembala, tentu saja ia sangat dekat dengan pandangan teologi kekristenan dan sebagai orang Papua yang lahir, tumbuh dan berkembang di Papua, Ia menafsirkan ajaran kekristenannya mendekatkan pada realita keberadaan masyarakat Papua yang berada dibawa kekuasaan Indonesia yang sedang menjajah. Oleh karena itu catatan kritisnya dalam karya-karya bukunya termasuk buku yang baru diterbitkan itu merupakan hasil refleksi, pergumulan panjang selama hidupnya di Papua.

Kontra terhadap bukunya, atau mungkin hanya judulnya, itu tidak salah, itu sungguh saya sepakat dan penuh kagum.Tetapi yang jauh lebih penting adalah kritik harus didasari pada data dan fakta. Kritik yang harus dihindari adalah kritik yang memicu perpecahan.

Kita bisa belajar soal bagaimana melakukan kritik yang teratur dan efektif. Sudah banyak penulis-penulis terkemuka melakukannya. Hal tersebut dilakukan dengan, buku melawan dengan buku, tulisan dilawan dengan tulisan. Dan harus disertai dengan solusi dan alternatif.

Artinya supaya ada diakektika. Ada perubahan-perubahan, ada hal-hal baru yang bisa kita belajar dari perdebatan yang efektif. Tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan hingga hari ini di negara dunia ketiga, dan buktinya sampai hari ini banyak generasi mudah yang dapat mengakses pemikirannya sebagai pengetahuan, bahkan sedang menjadi dasar sudut pandang melihat berbagai persoalan di Papua serta jalan keluarnya oleh individu, kelompok, bahkan secara organisasional karena perkembangan teori yang teratur. Banyak teori-teori klasik, posmodern, hingga sekarang berkembang dari adanya kritik dan perdebatan yang efektif dan teratur.

Ini merupakan pandangan-pandang yang dilakukan secara tertulis, objektif, dan ilmiah. Dan oleh karena adanya budaya berdebat dan kritik lantas ilmu pengetahuan terus berkembang dan perkembangan teknologi makin maju. Oleh sebabnya, kritikan oleh intelektual dari setiap penulis pun dibudidayakan sedemikian rupa supaya ada kebangkitan pengetahuan di kalangan orang Papua.

Saya yakin banyak orang Papua, khususnya laki-laki banyak tidak sepakat dengan bukunya Pdt. Yoman, atau mungkin judul bukunya. Dan itu biasa.

Tetapi yang paling terpenting adalah, saya sangat berharap orang Papua, juga aktivis Papua tidak hanya menulis di dinding-dinding sosial media saja tetapi memulai mengkritik secara terbuka secara teratur bisa membuat buku untuk mrngkritik bukunya Pdt. Yoman, bisa juga melalui tulisan-tulisan di situs-situs seperti di Lao-Lao Papua. Sekali lagi, perdebatan mesti dilakukan tetapi harus efektif dan teratur.

Saya yakin, pasti Pdt. Yoman sebagai orang agamawan memproduksi banyak buku hasil karyanya yang berangkat dari sudut pandang agama nilai religi dan konteks Papua sekarang. Jika akan bertentangan ketika ditanggapi atau dikritik dengan sudut pandangan yang lain, itu baik dan harus dilakukan secara objektif. Minimal baca dan memahami isi hal yang mau dikritik, juga dasar pengkritik (sudut pandang pengkritik).

Yang jelas Pdt. Yoman berani menulis bentuk buku tentang persoalan gender di Papua yang sebelumnya mungkin masih dianggap tabu. Banyak dibahas tapi hanya dalam tulisan-tulisan artikel dan medsos. Positifnya dari perdebatan buku ini generasi muda Papua akan merasa adanya persoalan gender yang serius bahas yang telah lama dilupakan.

***

Renold Ishak Dapla
Penulis adalah anggota Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Yogyakarta.

3 KOMENTAR

  1. Laki2yang selalu,pukul2 istri,menginjak injak,harkat dan martabat, kekerasan dalam rumah tangga itu baru bisa di sebut budak tapi untuk menebtukan nasip dalam taraf hidup sebagai perempuan itu adalah tugas utama untuk memenuhi dalam kebutuhan hidupnya.

  2. Pemaknaan Budak dalam pandangan teologis patut dikongkritkan
    Dalam pandangan Antropologis di kongkritkan
    Dalam pandangan sosiologis di lihat juga

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Pendidikan dan Kunci Memasuki “Dunia Mereka Sendiri” 

Z. K. Rumbrar menulis laporan singkat aktivitasnya sebagai guru...

Korupsi Lukas Enembe, Mutilasi 4 Warga Sipil, dan Kepentingan Investasi

Hari-hari ini pasca Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe (LE) ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada...

Corak Produksi Manusia Papua Dulu dan Kini

Berawal dari sejarah geologinya. Sebelum zaman pencairan es yang terjadi sekitar 80.000-12.000 tahun lalu, pulau Papua, benua Australia dan...

BBM Naik, Harga Angkutan Naik: Cerita dari Kampung Dormena, Jayapura

Pada tanggal 11 September 2022, pukul 11:21 WIT, saya dengan kakak Yason Ngelia lakukan perjalanan dari Ekspo, Kota Jayapura...

Kelompok Ongohbete dan Nenandubete Minyak Kayu Putih di Kampung Wasur Merauke  

Suatu hari di Kampung Wasur, Kabupaten Merauke, tepatnya 12 April 2016, saya menuju ke rumah Kepala Kampung Wasur saat...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan