Perempuan Pdt. Socratez Yoman dan Kritik Gereja yang Menindas Perempuan

Pdt. Socratez Yoman dan Kritik Gereja yang Menindas Perempuan

-

Sebuah Resensi

Buku merah berjudul Perempuan Bukan Budak Laki-Laki adalah karya terbaru dari Pdt. Dr. Socratez Yoman yang diterbitkan pada tanggal 1 Mei 2022 di Denpasar, Bali. Buku ini baru saja diluncurkan pada hari Sabtu, 16 Juli 2022 lalu di Jayapura. Sejak hari peluncuran, buku ini telah dipenuhi dengan kontroversi karena judul yang dipilih oleh sang penulis. Kata “budak” sontak menarik perhatian banyak laki-laki yang mengkritisi maksud dari penulisan sang penulis, sementara di sisi lain banyak juga perempuan yang merasa senang dengan karya yang mewakili nasib mereka. Terlepas dari kontroversinya, buku ini begitu banyak diminati oleh orang-orang yang dibuat penasaran dengan judulnya. Ini merupakan keberhasilan seorang penulis dalam pemilihan judul bukunya.

Buku Perempuan Bukan Bukan Budak Laki-Laki adalah buku pertama yang ditulis oleh seorang laki-laki, teolog, orangtua, dan orang Papua, yang adalah Pdt. Dr. Socratez Yoman. Ini merupakan suatu hal yang sangat positif karena  di tengah sistem patriarki yang kuat di Papua, banyak laki-laki yang menolak untuk memahami kondisi penindasan perempuan Papua. Jangankan untuk menulis, membaca bahkan berdiskusi tentang bagaimana penindasan perempuan pun tak banyak laki-laki yang bersedia. Penindasan dan persoalan perempuan seolah menjadi hal yang hanya perlu dipahami lebih detail oleh perempuan sendiri padahal persoalan perempuan merupakan persoalan bersama dalam keluarga, komunitas adat, organisasi, gereja, bahkan bangsa, namun justru banyak permasalahan perempuan ditolak untuk dibahas secara teologis ataupun ilmiah. Hal ini yang menjadikan kehadiran buku ini begitu penting bagi perempuan.

Buku setebal 93 halaman ini terbagi menjadi 11 bagian di dalamnya, yaitu: 9 Prinsip Teologis Perempuan dan Laki-laki Setara, 4 Alasan Perempuan Bukan Penyebab Kejatuhan Manusia Dalam Kuasa Dosa, Belajar dari Yesus: Para Perempuan Memenangkan Godaan, Perempuan-Perempuan Hebat Dalam Kehidupan Yesus, Mengapa Perempuan Zaman Now Harus Punya Spiritualis Hidup, Belajar dari Sosok Perempuan Beriman dari Debora hingga Hanna, Perempuan Melahirkan Pemimpin, 3 Kisah Perempuan yang Terluka, Bagaimana Gereja Buka Jalan Mengakhiri Perbudakan Perempuan, Belajar dari Perempuan Lani, dan Kesetian, Kejujuran: Seni Membangun Keluarga.

Namun buku ini tidak memberikan garis tegas antara perbedaan patriarki, perbudakan, dan pengertiannya. Bagi orang yang belum memahami kondisi penindasan perempuan akan sulit membedakan bagaimana kondisi perempuan dibawah sistem sosial patriarki dan bagaimana kondisi perempuan yang diperbudak oleh laki-laki.

Meski demikian, buku ini telah menyebutkan bentuk-bentuk penindasan perempuan, seperti bagaimana penomorduaan perempuan terjadi sebagai akibat dari kepercayaan bahwa perempuan atau Hawa telah lebih dulu memakan buah di Taman Eden, lalu menyerahkannya pada si laki-laki, yaitu Adam. Ini yang kemudian dikembangkan oleh ajaran Paulus dalam Alkitab bahwa perempuan pantas menjadi manusia nomor dua karena ia yang terlebih dulu memakan buah di Taman Eden. Sementara kata budak pada perempuan yang dimaksudkan adalah bagaimana superioritas laki-laki atau perasaan lebih kuat yang dimiliki oleh laki-laki atas perempuan, membuat laki-laki bersikap seolah menjadi penguasa atas perempuan yang lemah, setelah menjadi penguasa atau bersikap menguasai, laki-laki lantas bisa bersikap seenaknya, seperti menghina, memukul, melakukan pelecehan, yang menurut Pdt. Socratez Yoman, itu merupakan sikap yang merendahkan martabat perempuan sebagai manusia yang diciptakan setara oleh Allah.

Sangat penting untuk dipahami bahwa buku ini merupakan perlawanan secara teologis yang dilakukan oleh seorang teolog untuk melawan teolog-teolog atau pihak gereja yang tidak pernah menafsirkan firman secara utuh, sehingga menurut Pdt. Socratez Yoman, gereja justru melegetimasi kekerasan dan perendahan martabat perempuan. Dan ini terbukti dari beberapa denominasi gereja, yang dalam aturan gerejanya tidak memberikan kesempatan bagi perempuan untuk khotbah jika adalah laki-laki di dalamnya, perempuan hanya akan memimpin ibadah di persekutuan wanita saja padahal menurut Pdt. Socratez Yoman kewajiban melayani pekerjaan Tuhan adalah pekerjaan bersama antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, larangan perceraian yang diberikan menjadi satu alat untuk membelenggu perempuan dalam hubungan pernikahan yang merugikan perempuan sebagai manusia karena harus terus menerus mendapatkan kekerasan, tetapi gereja justru tidak memberikan solusi untuk bercerai.

Banyak perempuan yang takut untuk bercerai karena pendeta di gereja telah menyarankan perempuan sebagai korban kekerasan atau korban poligami untuk harus sabar, mendoakan pasangannya, tidak boleh bercerai, bahkan dalam konteks poligami, gereja bisa membenarkan tindakan pelaku. Pdt. Yoman mencoba menunjukan bahwa keputusan untuk bercerai adalah hak perempuan dan tidak seharusnya perempuan dipaksa bertahan dalam hubungan yang merendahkan harga dirinya karena iman setiap orang pada Allah adalah urusan masing-masing orang dan perempuan tidak memiliki kergantungan iman pada suaminya karena surga dan neraka adalah urusan masing-masing.

Tokoh Alkitab seperti Paulus meminta perempuan untuk tunduk kepada suami dan menaru perempuan dibawah laki-laki dan laki-laki dibawah Allah. Secara tidak langsung perempuan berada posisi ketiga padahal secara teologis perempuan adalah manusia yang diciptakan sesuai dengan rupa Allah. Pdt. Yoman berusaha menunjukan bahwa laki-laki dengan perempuan itu setara. Ia menunjukan  dalam konteks teologi, perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki kuasa atas bumi.

Ia juga menulis bagaimana laki-laki dan perempuan bertanggung jawab memelihara seluruh ciptaan Allah,  laki-laki dan perempuan sama-sama diberkati oleh Allah dan laki-laki dan perempuan sebagai pasangan yang sepadan dan saling membutuhkan, namun kekurangan dari Pdt.Yoman, ia tidak bisa menjelaskan maksudnya saat ia menulis, “Perempuan juga ikut terlibat dalam bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup sesuai batasan-batasan kemampuan dan kesanggupan yang dimiliki oleh perempuan”. Ini bermakna bahwa perempuan memiliki keterbatasan, namun apa yang dimaksud dengan keterbatasan perempuan? Jika yang dimaksud adalah kodrat perempuan, perlu diketahui bahwa kodrat atau keistimewaan yang dimiliki perempuan adalah menstruasi, mengandung, melahirkan, dan menyusui. Kenyataannya, tidak selamanya kodrat ini menjadi batasan bagi perempuan untuk bekerja, terlebih kita tahu bahwa perempuan bisa menjalankan semua pekerjaan secara bersamaan, yang kemudian menunjukan bahwa perempuan bukanlah manusia yang lemah, seperti yang dituduhkan oleh sistem sosial dan dilawan oleh Pdt. Yoman.

Ketika membahas tentang perempuan hebat dalam hidup Yesus, Pdt. Yoman hanya membahas tentang perempuan-perempuan yang bisa melahirkan anak-anak atau generasi yang baik, atau yang disebut Pdt. Yoman sebagai ‘panggilan rahim’. Padahal tidak semua perempuan diberikan kesempatan untuk melahirkan dan tidak semua perempuan harus melahirkan, ini kembali pada pilihannya.

Persoalan memiliki keturunan adalah alasan mengapa perempuan selalu dipoligami dan diremehkan martabatnya. Bahkan ada sterotipe bahwa perempuan yang tidak memiliki anak itu karena mereka telah melakukan dosa. Dalam bagian ini, Pdt. Yoman tidak menyebutkan bahwa Yesus pernah berkata bahwa, “Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak perna melahirkan, dan yang susunya tidak perna menyusui.” Seharusnya hal ini bisa diungkapkan Pdt. Yoman karena dalam kenyatannya tidak semua perempuan bisa merasakan kodratnya, ada perempuan yang tidak pernah menstruasi dan ada perempuan yang tidak bisa hamil dan menyusui.

Penting untuk memahami bahwa kehebatan perempuan bukan dilihat dari rahimnya karena kalau ini terjadi, maka perempuan akan menindas perempuan lain, seperti kisah Hana dan Penina yang disebutkan penulis dalam bukunya. Rahim perempuan selalu dikuasai oleh suaminya yang menginginkan perempuan harus melahirkan anak padahal perempuan tidak harus selalu melahirkan, jika ia belum siap atau jika kondisi kesehatannya tidak mendukung. Ini menjadi penting karena tak jarang perempuan hanya dilihat sebagai penghasil anak, tanpa diakui sebagai manusia yang punya otoritas terhadap tubuhnya. Tak jarang untuk mencapai keinginan memiliki anak yang banyak, laki-laki akan menggunakan dalil teologis bahwa “Allah menyuruh manusia untuk beranak cucu dan memenuhi bumi”. Ini merupakan kesalahan tafsir dalam upaya pengendalian rahim perempuan yang tidak disebutkan oleh Pdt. Yoman.

Hal  yang penting dari buku ini adalah penulis berusaha menunjukkan perempuan-perempuan yang menjadi pemimpin, seperti Debora dan Ratu Ester. Ini menunjukan bahwa tugas kepemimpinan adalah tugas yang bisa dilakukan oleh laki-laki dan perempuan bukan hanya laki-laki saja dan ini adalah bukti bahwa perempuan tidak lemah dan perempuan bisa bekerja bersama untuk menyelamatkan bangsanya.

Pdt. Yoman mencoba menunjukan kehebatan perempuan yang melahirkan dan mencintai anaknya dengan tulus, memberikan semua yang terbaik hanya untuk anaknya, dan mengutamakan anaknya, tetapi perlu diingat bahwa tak jarang laki-laki pun bisa mengurus anak dengan sangat lembut dan penuh cinta. Pekerjaan mengurus anak adalah tugas bersama, laki-laki sebagai bapak bisa menunjukan ketulusannya dan perempuan sebagai mama juga bisa melakukannya karena setiap anak selalu berharga bagi orang tuanya. Kita tetap pantas memuji perempuan karena kelebihannya untuk melahirkan generasi baru, namun kita tetap harus memuji laki-laki yang mengambil peran untuk bekerja sama merawat anak. Dan bukan laki-laki yang menginginkan perempuan melahirkan banyak anak, tetapi menolak untuk membantu perempuan merawat anak karena ini adalah akibat dari pembagian peran sosial di dalam masyarakat patriarki.

Pembagian tugas sosial antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat suku Lani di Papua juga ditunjukkan oleh Pdt. Yoman, bagimana perempuan juga dihormati dan diperlakukan dengan baik oleh adat masyarakat Lani. Buku ini ditutup dengan kisah keluarga sederhana. Dalam sebuah keluarga, laki-laki memiliki penghasilan yang lebih rendah dari istrinya, namun ini tidak menjadi masalah bagi rumah tangga mereka. Kesalahpahaman adalah hal yang sering terjadi dalam hubungan suami istri, tetapi komunikasi dan diskusi menjadi hal yang penting dalam membangun hubungan yang setara. Tidak adanya kekerasan baik fisik maupun psikis adalah bagian dari komitmen mereka sebagai pasangan. Ini yang disebut penulis sebagai Seni Membangun Keluarga.

Buku merah dengan kata budak ini tak semengerikan yang dibayangkan oleh laki-laki yang mengkritisi judul buku ini. Ini bukan buku yang ditulis untuk melawan kaum laki-laki, tetapi buku yang melawan teolog gereja yang gagal dalam menafsirkan firman dan melegalkan kekerasan bagi perempuan. Buku ini punya manfaat yang sangat penting untuk membebaskan perempuan dari penindasan perempuan akibat hubungan yang tidak setara, yang selama ini didukung oleh agama Kristen.

Melalui buku ini kita akan melihat bahwa Pdt. Socratez Yoman telah berhasil membongkar kontradisksi di dalam Alkitab dalam hal penindasan perempuan dan menunjukan bahwa tidak selamanya Nabi dan Rasul selalu mengatakan kebenaran karena semua tokoh-tokoh Alkitab hidup dalam perkembangan umat manusia, adat istiadat, budaya, situasi ekonomi politik yang berbeda, yang mana semua mempengaruhi isi firman yang disampaikan mereka.

Sayangnya, kita hidup bersama manusia-manusia yang sangat fanatik dengan agama sampai menganggap tokoh seperti Paulus sebagai orang benar yang tidak bisa dibantah. Padahal mereka adalah manusia biasa, yang bisa jadi mereka memiliki kepentingan atas penomorduan perempuan terlebih agama Kristen sangat dekat dengan adat Yahudi, yang selalu meminggirkan perempuan dan tidak pernah melibatkan perempuan dalam urusan politik. Akhirnya ini berdampak pada konstruksi pemikiran orang beragama Kristen untuk memposisikan perempuan sebagai kelas ketiga yang harus tunduk dan takluk dibawah kuasa laki-laki karena isi Alkitab telah mengatakan demikian.

Ini semua yang coba dilawan oleh Pdt. Socratez Yoman yang sebagai teolog merasa bertanggung jawab atas kesalahan penafsiran isi Alkitab. Dalam kerja-kerja penyadaran bagi hak perempuan di Papua buku ini perlu dibaca, karena kita harus membebaskan perempuan dari segala bentuk ketidakadilan, kekerasan, penguasaan manusia yang satu atas manusia yang lain, yang selama ini didukung oleh adat, kebudayaan, agama, kapitalisme bahkan yang dilembagakan oleh negara, terlepas dari apapun pandangan dan aliran yang digunakan untuk membebaskan perempuan, perempuan harus mencapai kemerdekaannya sebagai manusia.

***

Yokbeth Felle
Penulis adalah mahasiswi Program Studi Ilmu Pemerintahan, Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Cenderawasih (Fisip Uncen), Jayapura.

4 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Kasus Lukas Enembe: Bukti Jakarta Melahirkan Kebijakan Tak Bermoral di Papua

Moral elit politik lokal Papua telah rusak selama 20...

Pendidikan dan Kunci Memasuki “Dunia Mereka Sendiri” 

Z. K. Rumbrar menulis laporan singkat aktivitasnya sebagai guru di Pyramid, Baliem di Majalah Triton No. 2, Februari 1961....

Korupsi Lukas Enembe, Mutilasi 4 Warga Sipil, dan Kepentingan Investasi

Hari-hari ini pasca Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe (LE) ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada...

Corak Produksi Manusia Papua Dulu dan Kini

Berawal dari sejarah geologinya. Sebelum zaman pencairan es yang terjadi sekitar 80.000-12.000 tahun lalu, pulau Papua, benua Australia dan...

BBM Naik, Harga Angkutan Naik: Cerita dari Kampung Dormena, Jayapura

Pada tanggal 11 September 2022, pukul 11:21 WIT, saya dengan kakak Yason Ngelia lakukan perjalanan dari Ekspo, Kota Jayapura...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan