Catatan dari Kampung BBM Naik, Harga Angkutan Naik: Cerita dari Kampung Dormena,...

BBM Naik, Harga Angkutan Naik: Cerita dari Kampung Dormena, Jayapura

-

Pada tanggal 11 September 2022, pukul 11:21 WIT, saya dengan kakak Yason Ngelia lakukan perjalanan dari Ekspo, Kota Jayapura menuju ke Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura. Jarak perjalanan kurang lebih 50 km. Sambil menikmati perjalanan kami berdiskusi. Kami berdiskusi mengenai peran mahasiswa dalam pengorganisiran kelas-kelas sosial, seperti kaum buruh, kaum miskin kota, tani, masyarakat adat, nelayan, dan lain-lain.

Seketika akhir ujung Jalan Doyo Baru, Sentani kami berhenti sejenak sambil melihat jalanan yang begitu hancur dan bebatuan, sangat mempersulit pengendara roda dua maupun roda empat untuk lewati. Saya mengendarai motor agar memudahkan Yason mengambil setiap momen kerusakan jalan raya. Saya mengendarai pelan-pelan dan terkadang berhenti untuk memudahkan pengambilan video yang stabil.

Kami beristirahat di Pasar Depapre sekitar pukul 13.30 WIT siang sambil menunggu Yason menelfon beberapa orang pemuda dan memberitahukan soal keberadaan kami. Sesudah istirahat kami bergegas melanjutkan perjalanan menuju Kampung Dormena. Saya diberitahukan oleh Yason bahwa kampung tujuan kita ini tidak ada jaringan telekomunikasi sehingga kita perlu memastikan jalan kesana secara tepat dari para pemuda di sini. Dari Depapre perjalanan terus berlanjut dan kami pun tiba di Kampung Tablasupa, saya dipertemukan dengan kedua orang pemuda kampung setempat, kami berbincang-bincang kurang lebih sekitar 10 menit dan serta menikmati suasana pantai yang begitu mempesona, puluhan anak-anak Papua bermain bola, sebagian lainnya berenang di lautan. Indah sekali. Dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju Kampung Dormena. Selama perjalan kami melewati Kampung Yepase, Wambena, dan kemudian Dormena.

Dalam perjalanan kurang lebih memakan waktu 45 menit atau total perjalanan dari Abepura sekitar 3 jam perjalanan. Kami tiba di Kampung Dormena, kami melaju terus sepanjang jalan raya kampung, dan kami dipanggil seseorang pemuda yang mengenali Yason. Kami memarkir motor yang sudah lewat beberapa meter. Kemudian kami bergabung dengan kelompok masyarakat yang sudah berkumpul di pendopo ondoafi setempat untuk membahas mengenai dampak kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), harga taksi, dan jalan yang sangat sangat tinggi, dalam arti kurang baik efisien untuk di tempuh oleh masyarakat setempat.

Setelah dibuka oleh pemimpin rapat, warga saling memberikan masukan, saling menolak pendapat, dan mencari solusi untuk masalah bersama. Diskusi berjalan kurang lebih memakan waktu 2 jam. Sebagai mahasiswa dan baru saja akan kuliah, saya hanya mengikuti dinamika rapat, sambil mencatat poin-poin untuk tulisan sederhana ini.

Akhir pertemuan ini kami berserta kakak laki-laki pemuda setempat menuju belakang rumah sambil mengambil gambar di belakang pantai yang disertai dengan sunset hari itu yang sangat mempesona. Yason mengatakan ini untuk pertama kali kami datang dan sangat jauh sehingga harus mengabadikan keindahan alam kampung ini.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan pulang dari kampung Dormena pukul 17:15 WIT perjalanan sangat melelahkan dikarenakan jalan yang kurang baik dan jauh untuk ditempuh. Ini akan menjadi perjalanan yang sangat dikenang oleh saya selaku anak Suku Arfak Mnukwar yang menempuh studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih (Fisip Uncen) Prodi Ilmu pemerintahan angkatan 2022.

Memasuki Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura. Foto dok Solfin Meidodga.

Saya melihat perkembangan saat ini, masyarakat sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat dan bahkan pemerintah daerah untuk melihat persoalan rakyat, terlebih khususnya warga di Distrik Depapre yang mengalami banyak kendala mengenai kenaikan BBM, tarif harga angkutan yang dinaikan sepihak oleh kelompok sopir Depapre-Sentani, dan bahkan jalan yang sangat kurang baik selama 20 puluhan tahun terakhir.

Kondisi ini sangat memprihatinkan sehingga diharapkan perubahan sesegera mungkin. Dengan pertemuan yang diadakan di Kampung Dormena, Distrik Depapre ini menjadi suatu pertemuan yang telah disepakati bersama oleh masyarakat bahwa melalui evaluasi ini akan diadakan kerja bersama antara masyarakat di Distrik Depapre untuk segera memperbaiki jalan, sebab banyak surat atau proposal yang diajukan masyarakat, para sopir angkutan umum ke pemerintah namun tidak ada perubahan yang mendasar.

Selain surat masyarakat pun pernah melakukan demonstrasi untuk bagaimana proposal yang mereka ajukan ke pemerintah harus segera dijawab, tetapi sampai saat ini belum ada tanda titik terang bagi masyarakat Distrik Depapre dan Distrik Sentani Barat. Oleh sebab itu masyarakat mengambil sikap untuk bergotong-royong dan memperbaiki jalan secara swadaya. Pertemuan hari itu para sopir angkut, ojek, bersama masyarakat menerima tanggungjawab kepada masing-masing dari mereka. Seperti setiap sopir akan dibebankan 3 asak semen, 1 sak bagi ojek, sedangkan masyarakat pengguna transportasi wajib masak makanan selama proses pengerjaan. Begitu juga dengan tarif angkutan yang dinaikan mengikuti jarak, Dormena-Sentani naik dari Rp. 50.000 ke Rp. 60.000, Dormena ke Depapre Rp. 20.000. Begitu juga kampung-kampung lain mengikuti jarak. Rapat ini akan disosialisasikan ke sopir lain dan warga kampung lain, sebelum ada penetapan harga oleh Dinas Perhubungan, Kabupaten Jayapura.

Sangsi sosial dan moral akan diberikan bagi mereka yang tidak terlibat kerja bakti bersama ini, terutama sopir, ojek, dan masyarakat kampung pengguna jalan dan jasa transportasi akan dikenakan sangsi oleh mereka. Sangsi-sangsi moral dan moril semata namun berikan efek kepada masyarakat, seperti itu yang saya dengar.

Rapat warga empat kampung bersama perwakilan sopir dan ojek Papua di kampung Dormena. Foto dok Solfin Meidodga.

Kesimpulan

Seperti konteks yang telah tercantum di atas mengenai ketidakadilan pembangunan yang dirasakan oleh masyarakat Dormena dan secara umum masyarakat di Distrik Sentani Barat dan Depapre, bahwa mereka sangat membutuhkan keberpihakan dan kebijakan langsung pemerintah dalam menangani kondisi jalan. Untuk kita, mereka butuh cerita-cerita mereka di dengar luas.

Untuk mahasiswa, kita selaku agen perubahan paling tidak harus memberikan kesadaran sesama kita untuk berkontribusi bagi mereka. Oleh sebab itu pengorganisiran, pendampingan, advokasi pada basis masyarakat harus terus kita mainkan peranan kita, sehingga dengan demikian kesadaran kelas itu akan terlihat jelas di masyarakat. Dan ini harus dipraktekkan semua aktivis pejuang, sebab ketika kita masih berpatokan pada sejarah masa lampau kita tidak akan menciptakan perubahan yang mendasar di rakyat kita, memang sejarah itu sangat penting dalam kehidupan kita, tetapi perjuangan harus maju untuk melawan setiap cengkraman kolonialisme dan kapitalisme di Papua.

***

Solfin Meidodga
Penulis adalah mahasiswa Fisip-Uncen asal suku Arfak Mnukwar Papua Barat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Pendidikan dan Kunci Memasuki “Dunia Mereka Sendiri” 

Z. K. Rumbrar menulis laporan singkat aktivitasnya sebagai guru...

Korupsi Lukas Enembe, Mutilasi 4 Warga Sipil, dan Kepentingan Investasi

Hari-hari ini pasca Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe (LE) ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada...

Corak Produksi Manusia Papua Dulu dan Kini

Berawal dari sejarah geologinya. Sebelum zaman pencairan es yang terjadi sekitar 80.000-12.000 tahun lalu, pulau Papua, benua Australia dan...

BBM Naik, Harga Angkutan Naik: Cerita dari Kampung Dormena, Jayapura

Pada tanggal 11 September 2022, pukul 11:21 WIT, saya dengan kakak Yason Ngelia lakukan perjalanan dari Ekspo, Kota Jayapura...

Kelompok Ongohbete dan Nenandubete Minyak Kayu Putih di Kampung Wasur Merauke  

Suatu hari di Kampung Wasur, Kabupaten Merauke, tepatnya 12 April 2016, saya menuju ke rumah Kepala Kampung Wasur saat...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan