Catatan dari Kampung Pendidikan dan Kunci Memasuki “Dunia Mereka Sendiri” 

Pendidikan dan Kunci Memasuki “Dunia Mereka Sendiri” 

-

Z. K. Rumbrar menulis laporan singkat aktivitasnya sebagai guru di Pyramid, Baliem di Majalah Triton No. 2, Februari 1961. Sebagai seorang guru, ia memberikan gambaran tentang sekolah yang diasuhnya di pedalaman pegunungan tengah Papua tersebut. Sekolah di Pyramid adalah bentukan dari Christian and Missionary Alliance (CAMA) yang berkedudukan di Amerika Serikat. Bersama-sama dengan para Bestuurs dari pemerintahan Belanda di Papua (Nederlands Nieuw-Guinea), mereka pada waktu itu aktif menata pemerintahan dan juga mendirikan sekolah-sekolah bagi orang Papua di pedalaman. Pelayanan pendidikan menjadi salah satu prioritas di daerah pedalaman Papua yang tertinggal jauh dibandingkan di daerah-daerah pesisir di tanah Papua lainnya.

Pendirian sekolah tidak hanya berlangsung di Pyramid, tetapi juga di Bokondini dan Kelila. Catatan Rumbrar menyebutkan bahwa terdapat tiga sekolah yang dibuka pada 1 September 1960 di tiga tempat tersebut. Ketiga sekolah tersebut berdiri karena kerjasama antara pemerintah Nederlands Nieuw-Guinea pada masa itu dengan CAMA dan zending Australia. Sekolah yang berlokasi di Pyramid dijalankan oleh CAMA dan zending Australia menjalankan sekolah di Bokondini dan Kalila. 

CAMA adalah salah satu organisasi pekabaran injil dan pendidikan yang termasuk awal menginjakkan kaki di pedalaman tanah Papua. Pusat pelayanan awalnya adalah di daerah Wisselmeren (Paniai) dan kemudian berkembang hingga ke Lembah Baliem. Fokus utamanya selain mengabarkan injil juga mendirikan sekolah-sekolah bagi masyarakat Papua di daerah pegunungan. Daerah Wisselmeren misalnya menjadi daerah utama tonggak keberhasilan CAMA dalam menggerakkan pendidikan dan penyebaran Injil. Sebagian besar sekolah-sekolah di daerah tersebut adalah inisiasi dari CAMA dan sebagiannya dari misi Katolik. 

Z. K. Rumbrar dalam kesaksiannya mengisahkan bahwa dibukanya sekolah-sekolah di tiga tempat tersebut tidak akan hilang dalam catatan sejarah pembangunan pendidikan di Lembah Baliem. Ia juga mempunyai harapan yang menyentuh:

“… di seluruh Lembah Baliem ini ada banjak tempat jang harus dibuka sekolah lagi. Perlu bagi beribu-ribu anak, lelaki-perempuan jang membutuhi pendidikan djaman sekarang, karena kini mereka masih mengalami hal kemiskinan kehidupan rohani dan badani. Sungguh benar hal ini karena saja sendiri melihatnja dengan mata sendiri.” (Majalah Triton No. 2, Februari 1961).

Dalam catatannya, Rumbrar yang mengabdikan diri sebagai guru di Pyramid, sangat menghargai kerjasama yang terjalin antara antara dua badan zending tersebut dengan pemerintah Nederlands Nieuw-Guinea. Dorus Rumbiak, seorang bestuurs (pegawai pemerintah) yang bertugas selama 25 tahun di Lembah Baliem mengisahkan pembangunan lapangan terbang menjadi pintu pembuka hubungan antara Hollandia dengan Lembah Baliem (Wamena). Pemerintah pada saat itu mengajak masyarakat bersama-sama untuk membangun lapangan terbang dan membayarnya dengan kulit bia (kaurischelp), yang saat itu menjadi alat pembayaran pada masyarakat Lembah Baliem (Visser dan Marey, 2008: 134).                      

CAMA dan misi pada saat itu sudah memiliki lapangan terbang sendiri. Pemerintah Nederlands Nieuw-Guinea pada saat itu memikirkan untuk menegaskan keberadaannya di daerah-daerah pedalaman. Terpikirkan keinginan untuk membangun hubungan antara pusat pemerintahan di Hollandia ke daerah-daerah. Kehadiran zending dan misi mendahului pemerintah Nederlands Nieuw-Guinea. Oleh sebab itulah pemerintah berinisiatif untuk membangun kerjasama dengan bandan-badan zending Protestan dan misi Katolik. Pada saat itu kedua badan pengabaran injil ini bekerjasama dengan baik. Dorus Rumbiak mengisahkan:

“Kami dari pemerintah bekerjasama dengan zending dan misi dalam membuat jalan dan membangun lapangan terbang. Badan zending dan misi memberikan skop, parang, dan perkakas-perkakas kepada rakyat untuk bekerja, tetapi pembayaran ditanggung oleh pemerintah. Jadi pemerintah yang membayar upah kepada rakyat yang bekerja.” (Visser dan Marey, 2008: 134

Kerjasama pemerintah dengan badan zending dan misi tersebut diwujudkan dengan terlaksananya The Conference between Government and Missionary pada tahun 1960. Pada konferensi tersebut dibahas secara garis besar kerjasama yang akan dilakukan oleh pemerintah bersama dengan zending dan misi. Secara kongkrit adalah langkah-langkah untuk bersama-sama membangun pos-pos pemerintahan baru bersama dengan pengabaran injil dan pendirian sekolah-sekolah, selain tentunya adalah pembangunan lapangan terbang. 

Anak-anak Pyramid melakukan olah raga sebelum mengikuti pelajaran. Foto: Majalah Triton No. 2 Februari 1961, dokumentasi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.
Anak-anak Pyramid melakukan olah raga sebelum mengikuti pelajaran. Foto: Majalah Triton No. 2 Februari 1961, dokumentasi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Pembangunan sekolah-sekolah juga menjadi prioritas penting untuk menerobos daerah-daerah pedalaman Lembah Baliem. Pendidikan menjadi hal yang penting menuju kemajuan. Dorus Rumbiak memiliki pengalaman mengesankan, yaitu, masyarakat di Lembah Baliem yang sangat menjunjung tinggi pendidikan untuk anak-anak mereka. Anak-anak jarang dimarahi dan dipukul seberapa pun besar kenakalan anaknya. Bahkan tangan saja tidak pernah menyentuh anak mereka. Pentingnya kedudukan anak ini membuat tidak jarang seorang suami memukul istrinya karena tidak bisa hamil. Suami pun dengan demikian diperbolehkan menikah sampai beberapa kali demi memperoleh anak (Visser dan Marey, 2008: 125).

Pendekatan melalui anak dan para orang tua atau tokoh masyarakat menjadi langkah kebudayaan yang dilakukan oleh Dorus Rumbiak untuk memahami masyarakat di Lembah Baliem ketika itu. Banyak anak-anak yang kemudian diangkatnya menjadi anak piara guna menjembatani mereka menemukan jati diri dan dunia yang luas. Dorus Rumbiak mengungkapkan pengalamannya yang mengesankan:

“… kita harus mendidik orang-orang setempat begitu rupa sehingga mereka bisa menjadi kunci untuk memasuki dunia mereka sendiri.” (Visser dan Marey, 2008: 126).

***

I Ngurah Suryawan
Penulis adalah antropolog dan dosen di Universitas Papua (Unipa), Manokwari, Papua Barat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

RPMR: Kami Bukan Monyet, Kami Bersama Victor Yeimo Melawan Rasisme

Press Release Rakyat Papua Melawan Rasisme (RPMR) Kami Bukan Monyet, Kami...

KEK Menjadi Ancaman Bagi Masyarakat Adat Moi di Sorong

Sebelum membahas lebih jauh terkait Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong untuk siapa? Penulis akan mengulas terlebih dahulu tentang KEK...

‘Freedom West Papua’ di Riau

Ditulis oleh Lovina Soenmi Saya, Aang Ananda Suherman, dan Made Ali ada di bandara Sultan Syarif Kasim II Minggu pagi,...

“Itulah yang mereka sebut pembangunan, dan itulah yang kita sebut penjajahan”

Jalan panjang perjuangan Victor Yeimo kembali menggugah perhatian kita semua. Bagi saya, paling tidak karena dua hal mendasar. Pertama,...

Pendidikan Gratis dan Gerakan Mahasiswa di Papua

Bagi sebagian orang bisa jadi tema tulisan ini dianggap tidak relevan,mengada-ada, tidak menarik atau bahkan aneh. Sebab mungkin saja...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan