Perempuan Pelajaran dari Buku "Membangun Organisasi Revolusioner Anti-Seksisme"

Pelajaran dari Buku “Membangun Organisasi Revolusioner Anti-Seksisme”

-

Judul Buku: Membangun Organisasi Revolusioner Anti-Seksisme

Penulis: Kuggy Kayla dan Sandra Bloodworth

Penerbit: Bintang Nusantara

Tahun Terbit: Februari 2021

Tebal Halaman: 74 Halaman

Sebuah Resensi

Seksisme, rasisme, penindasan, dan eksploitasi yang terjadi tidak terlepas dari akarnya, yaitu tatanan kapitalisme, maka menghapusnya hanya dapat dilakukan dengan perubahan masyarakat seutuhnya, yaitu melalui revolusi. Namun Buku ini berkali-kali mengingatkan bahwa membutuhkan konsistensi yang tinggi untuk menjadi seorang sosialis di tengah lautan kapitalis.

Pandangan idealis yang berkembang tentang penindasan perempuan akan bertentangan dengan pandangan matrealisme yang kita pahami. Pertentangan tentang keduanya dapat mendorong demoralisasi dalam perjuangan pembebasan perempuan. Dalam konteks buku ini, demoralisasi adalah argumentasi yang melihat tidak ada gunanya terlibat dalam organisasi (terutama organisasi revolusioner) karena di dalamnya terjadi juga seksisme, kekerasan seksual, dan persoalan lainnya. Semua ini berdampak pada sulitnya mengorganisir perempuan dan LGBT untuk terlibat dalam partai revolusioner.

Dan tepat seperti yang dikatakan dalam buku ini bahwa membawa perempuan dan LGBT dalam mendukung tujuan bersama, yaitu kehancuran kapitalisme dan penghapusan kelas bukanlah hal yang mudah. Tak jarang perempuan justru mendapat perlakuan seksis ketika berada di dalam organisasi, yang konon katanya dia adalah organisasi revolusioner. Begitu juga dengan tindakan kekerasan, manipulatif, dominasi, hingga objekfikasi perempuan juga terjadi dan dilakukan oleh orang-orang yang mengklaim dirinya kiri.

Bagian pertama buku ini, yaitu Personal, Politik, dan Partai Revolusioner yang ditulis oleh Kuggy Kayla menekankan bahwa partai revolusioner bukanlah partai totaliter, dimana setiap aspek kehidupan kader berada dibawah otoritas partai. Setiap individu yang secara sukarela bergabung dalam organisasi harus memahami bahwa organisasi memiliki norma-norma, yang memberikan hak dan kewajiban bagi setiap kadernya. Tentu saja norma-norma dalam organiasasi revolusioner akan berbeda dengan norma-norma di organisasi lainnya.

Namun yang perlu dipahami bahwa organisasi tidak berupaya memberitahu kadernya; orang-orang seperti apa yang menjadi teman mereka, dengan siapa mereka harus hidup, apakah mereka harus menikah, apakah mereka harus memiliki anak dan sebagainya.
Partai revolusioner mengambil posisi dalam hubungan personal dan seksual hanya ketika terdapat pedofilia atau ketika terjadi kekerasan antar kader. Dan jika tindakan personal kader mempengaruhi tugas-tugas politik partai.

Personal adalah politik, sikap personal kader menunjukkan bagaimana kualitas organisasinya dalam mendiskusikan dan membasmi penyakit seksime yang bertentangan dengan ideologi organisasi. Tak jarang untuk membasminya dilakukanlah sidang-sidang organisasi hingga pemecatan kader sebagai bentuk penolakan organisasi terhadap tindakan seksime dalam perjuangan pembebasan umat manusia.

Kualitas kader partai revolusioner bukan ketika bisa membuat pacar ataupun mertua menjadi aktivis kiri, tetapi kualitas kader partai revolusioner adalah mampu melihat bahwa perjuangan revolusioner adalah kerja seumur hidup.

Dalam hidup kader partai revolusioner yang sudah pasti mengalami dampak dan menjadi korban yang mengalami seksis dan rasis dari tatanan kapitalisme, bukan lagi kita mengukur siapa yang paling tertindas dari sistem yang sedang penindas, tetapi menjadi satu barisan yang berdiri untuk menghapuskan penindasan dengan mengubah masyarakat. Tentu saja ini membutuhkan kesabaran untuk selalu membangun kesadaran mengenai penindasan, asal usulnya dalam struktur masyarakat berkelas, hingga komitmen untuk menghapuskan basis penindasan.

Bagian kedua buku ini adalah Berjuang untuk Pembebasan Perempuan ditulis oleh Sandra Bloodworth, seorang aktivis sosialis dari Australia.

Salah satu alasan perempuan mengalami penindasan telah ditunjukkan oleh Frederich Engels. Engels memberikan penjelasan matrealis pertama tentang penindasan perempuan, yaitu dengan kemunculan kelas. Seksisme dan diskriminasi terhadap perempuan sendiri telah tertanam dalam tatanan sosial dan budaya sejak berabad-abad.

Institusi utama kapitalisme adalah keluarga inti. Ketidaksetaraan dalam keluarga, dimana laki-laki menjadi penguasa dan perempuan menjadi yang dikuasai, didukung pula oleh film, iklan, dan sastra. Laki-laki didorong untk melihat perempuan sebagai objek pasif untuk memuaskan nafsu mereka, hingga yang terburuk adalah perempuan tidak layak dihormati.
Ini adalah salah satu persoalan dalam masyarakat kapitalis, dimana laki-laki selalu didorong untuk agresif, sementara perempuan diminta untuk pasif. Ini merambat sampai ke urusan seks. Dalam sistem kapitalisme, seks kemudian menjadi komoditi, dianggap bernilai dan dijual untuk memenuhi kondisi hidup yang dimiskinkan oleh sistem. Namun kemudian dengan dipandangnya seks sebagai sesuatu yang bernilai, membuat kebutuhan untuk menguasai banyak perempuan untuk memuaskan nafsu birahi menjadi hal yang tidak terhindarkan. Tak jarang posisi dimana seseorang merasakan dirinya memiliki kuasa, membuatnya dengan semena-mena bisa memandang perempuan. Bahkan terjadi di kalangan aktivis-aktivis yang mengaku dirinya kiri.

Siapa yang diuntungkan dari penindasan perempuan? Seksisme yang memasuki seluruh kehidupan menciptakan keuntungan langsung bagi kapitalisme. Bagaimana mereka mendapatkan tenaga kerja yang lebih murah, membayar perempuan dengan lebih murah, hingga tidak terpenuhinya hak-hak perempuan.

Seksisme menjadi satu penyakit yang membuat persatuan menjadi hal yang sulit dilakukan. Kerja kolektif harus diabaikan karena pandangan bahwa tugas perempuan adalah di rumah. Lelucon seksis dalam perjuangan bersama juga hanya akan menyingkirkan perempuan dari perjuangan. Namun satu pandangan tolol yang menjadi racun dalam kerja kolektif adalah perempuan akan dipandang subjektif jika ia merasa tidak nyaman dengan lelucon seksis, yang artinya kita sendirilah yang memelihara kelas-kelas dalam perjuangan penghapusan kelas yang kita lakukan.

Kita tidak berpikir bahwa kita harus menunggu sampai setelah revolusi untuk membuat perbaikan. Perlu ada kesadaran bahwa seksisme telah merendahkan kehidupan perempuan. Banyak langkah penting yang harus dilakukan hingga pada membatasi orang untuk menggunakan bahasa-bahasa seksis. Semua langkah-langkah melawan seksisme harus dilakukan karena dengan sadar kita menyadari bahwa ini akan berdampak pada bagaimana keterlibatan perempuan dalam ranah politik.

Tidak ada rumus tertentu bagaimana memulai perjuangan. Kadang-kadang itu dimulai karena kepahitan hidup yang tertimbun oleh penindasan dan standar hidup yang ditentukan oleh masyarakat kapitalis.

Tulisan Sandra Bloodworth pada bagian ini memberikan banyak pandangan yang sangat tepat sasaran untuk mengupas dan memberikan strategi bagaimana melawan seksisme dengan prinsip sosialisme. Salah satunya adalah bukan tentang perempuan dan perempuan bersatu melawan musuh rakyat, tetapi persatuan rakyat tertindas yang terdiri dari semua elemen dan sektor yang sedang terhisap dan tertindas dalam sistem kapitalisme yang biadap.

Kita tidak bisa memisahkan perjuangan perempuan dari perjuangan rakyat, inilah yang pernah dikatakan oleh Lenin pada Clara Zetkin bahwa semua kerja pengorganisiran terhadap perempuan harus berada di dalam partai. Saya sepakat dengan ini, terlebih pendidikan terhadap perempuan yang terisolasi dari ilmu pengetahuan juga menjadi kewajiban organisasi revolusioner untuk melakukannya, tentang bagaimana perempuan mengalami penindasan sendiri tidak terlepas dari kemunculan kelas, dimana semua umat manusia sedang mengalami penindasan yang sama dan yang dibutuhkan adalah kerja bersama dalam sebuah organisasi, maka itu kewajiban untuk menghapuskan seksisme dalam organiasi adalah hal yang penting dan harus segera dan selalu dilakukan.

Bagian ketiga dari Buku ini adalah Manifesto Anti Seksisme: Hak Perempuan dan Tanggung Jawab Laki-laki Sosialis ditulis oleh Sandra Bloodworth. Bagi Bloodworth, politik seksisme dalam kehidupan pribadi dan hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah hal yang sulit untuk dibicarakan, termaksud bagi kaum sosialis.

Perempuan sendiri diharapkan memberikan pengasuhan, cinta, dan dukungan atau kata lainnya sebagai pelengkap bagi laki-laki yang dipandang proaktif. Peran gender terkait dengan keluarga kapitalis, laki-laki yang kuat dan agresif dengan perempuan yang pengasuh dan pasif dikampanyekan pada seluruh masyarakat melalui sistem pendidikan, media massa, hiburan, dan sebagainya.

Pandangan streotipe yang kaku mengantarkan perempuan pada kondisi dimana perempuan akan dipandang agresif ketika ia ingin mempertahankan argumennya, dituding superior dan lain sebagainya. Sementara laki-laki akan sangat jarang bahkan tidak pernah mendapatkan pandangan ini. Bahkan untuk satu topik yang sama, tetapi pandangannya akan berbeda jika perempuan yang menyampaikannya.

Ada beberapa bentuk seksisme di dalam kehidupan personal, seperti laki-laki tidak boleh berbicara tentang perempuan seolah ia adalah objek seksual, mendiskusikan tentang hubungan seksual dengan perempuan atau berekspetasi untuk meniduri perempuan. Begitu juga dengan bersifat manipulatif dalam rangka menguasai dan membatasi perempuan.

Di bagian lainnya dikatakan bahwa laki-laki tidak boleh memperlakukan ruang politik di sekitar atau ruang diskusi sebagai ajang mencari teman kencan yang potensial. Hubungan yang berkembang sampai pada ajakan pertemuan untuk tujuan seks menunjukkan bahwa laki-laki tersebut tidak memandang perempuan sebagai orang yang punya kesadaran politik dan punya kontribusi untuk diberikan kepada organisasi. Justru ini menunjukkan bahwa perempuan hanya dipandang sebagai objek seksual.

Ini benar dan ini adalah hal yang sering terjadi, bagaimana perempuan dan pakaiannya didiskusikan. Kemudian sebagian laki-laki membangun ekspetasi yang kotor bahwa perempuan tersebut bisa ditiduri. Hubungan diskusi yang berlangsung melalui chat-chat pribadi, kemudian ajakan agenda pertemuan di luar agenda perjuangan dan seterusnya menunjukkan bahwa perempuan tidak dipandang sebagai kawan yang mampu memberikan hidupnya bagi perjuangan, melainkan dilihat sebagai sasaran berikutnya yang bisa ditiduri.

Ini adalah salah satu buku yang bisa saya rekomendasikan untuk dibaca. Buku ini menjadi salah satu penolong yang membawa saya pada titik sadar bahwa seksisme adalah penyakit yang harus dilawan dan dihapuskan dari organisasi, terlebih jika organiasi-organisasi tersebut menggunakan marxisme sebagai landasan organisasi, artinya organisasi memiliki kewajiban untuk memperkenalkan penindasan perempuan berdasarkan akar penindasan perempuan karena sejauh ini yang mampu memberikan dan menjelaskan penindasan perempuan secara ilmiah hanyalah marxisme.

Tindakan tegas organisasi terhadap setiap kader seksis harus dilakukan. Di Papua ketika masalah ini dibawah ke sosial media, yang datang justru serangan dan tekanan, seperti yang pernah yang saya alami. Tak jarang kritik oto kritik dibungkam dengan alasan musuh membaca, yang dengan sendirinya sikap ini merupakan bagian dari memelihara masalah seksime dan dengan sendirinya menjauhkan perempuan dari organisasi.

Hal yang perlu dipahami adalah persoalan mundurnya perempuan karena pengalaman seksis yang diterimanya bukan persoalan privat dan subjektif, tetapi persoalan organisasi yang tidak mampu menjadikan organisasi sebagai ruang yang mendukung kesetaraan dan keamanan bagi setiap kader untuk dipandang sebagai manusia yang memiliki hak yang sama. Dan ini bukan subjektif, tetapi ada persoalan objektif yang membentuk kesadaran perempuan bahwa dirinya tidak bisa menerima pandangan seksis dan menolak kompromi dengan penindasan yang dialaminya, apa lagi jika orang yang menunjukkan sikap seksis adalah orang-orang yang memiliki kesadaran tentang kapitalisme, tetapi justru mengambil posisi penindas bagi kawannya yang memperjuangkan tujuan yang sama dengannya.

***

Yokbeth Felle
Penulis adalah mahasiswi Program Studi Ilmu Pemerintahan, Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Cenderawasih (Fisip Uncen), Jayapura.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

RPMR: Kami Bukan Monyet, Kami Bersama Victor Yeimo Melawan Rasisme

Press Release Rakyat Papua Melawan Rasisme (RPMR) Kami Bukan Monyet, Kami...

KEK Menjadi Ancaman Bagi Masyarakat Adat Moi di Sorong

Sebelum membahas lebih jauh terkait Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong untuk siapa? Penulis akan mengulas terlebih dahulu tentang KEK...

‘Freedom West Papua’ di Riau

Ditulis oleh Lovina Soenmi Saya, Aang Ananda Suherman, dan Made Ali ada di bandara Sultan Syarif Kasim II Minggu pagi,...

“Itulah yang mereka sebut pembangunan, dan itulah yang kita sebut penjajahan”

Jalan panjang perjuangan Victor Yeimo kembali menggugah perhatian kita semua. Bagi saya, paling tidak karena dua hal mendasar. Pertama,...

Pendidikan Gratis dan Gerakan Mahasiswa di Papua

Bagi sebagian orang bisa jadi tema tulisan ini dianggap tidak relevan,mengada-ada, tidak menarik atau bahkan aneh. Sebab mungkin saja...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan