Catatan dari Kampung Orang Hugula dan Daya Ubah Sosial

Orang Hugula dan Daya Ubah Sosial

-

Pendahuluan

Almarhum Nico Aso Lokobal, salah satu budayawan terpenting Hubula/Hugula dalam sebuah tulisannya mengungkapkan bahwa salah satu spirit nilai-nilai kehidupan orang Hubula/Hugula terletak dalam totalitas relasi (keterhubungan) yang disimbolkan dengan simbol bulat utuh. Relasi yang dimaksudkannya adalah relasi dengan kaum kerabat keluarga sendiri, relasi dengan anggota marga, relasi dengan alam, dan relasi dengan leluhur, serta relasi dengan Kaneke. Setiap anggota keluarga yang keluar dari lingkaran relasi tersebut dianggap terputus dari kehidupan. Hanya dalam dan melalui relasilah seorang anggota keluarga memperoleh keselamatan hidup. Maka dari itu, kepercayaan orang Hubula/Hugula meyakini jika ingin hidup baik harus selalu berada dalam lingkaran relasi (Lokobal, 1992: 11-12; Lakobal, 1991).

Pentingnya relasi ini dalam totalitas kehidupan manusia, semakin nyata ketika antropologi, khususnya dalam kerja mengakumulasi pengetahuan bernama etnografi, menentang dikotomi sekaligus diskriminasi antara pengetahuan lokal berbasis komunitas (kampung) dengan pengetahuan ilmiah berbasis universitas (kampus). Sumber pengetahuan tersebut tetap saja ada pada manusia, dimana berbagai unsur pengetahuan itu berbaur dalam pikiran manusia tanpa sekat dan pemisah. Kolonisasi pengetahuan lah yang kemudian menyekat dan mendiskriminasikannya. Dalam antropologi, sumber pengetahuan yang berasal dari komunitas (kampung) itu sering disebut dengan emik yang merujuk kepada “pengetahuan lokal” yang dibangun dan dijalankan sebagai laku kehidupan komunitas. Salah satu pendekatan tersebut, yang sejalan dengan apa yang disampaikan bapak Nico Aso Lokobal adalah connectionism, dimana terjadi keterhubungan berbagai unsur pengetahuan yang ada dalam skema individu, yang kemudian akan diolah bersama dalam waktu tertentu dalam menanggapi situasi empiris yang dihadapi oleh manusia (Choesin, 2002). Totalitas keterhubungan ini perlu mendapatkan perhatian yang lebih mandalam.

Menghadirkan Selalu Sejarah

Jika merujuk kembali apa yang dituliskan oleh Lokobal (1992), bagi orang Hubula/Hugula, sejarah bukanlah rentetan peristiwa lampau dengan manusia sebagai produk sekaligus sumber dan pelaku sejarah. Bagi orang Hubula/Hugula, mereka memandang dan menghayati bahwa manusia dengan segala yang ada, ada sebagaimana adanya sekarang karena serentetan peristiwa yang terjadi pada masa lampau sebelum manusia itu ada. Rentetan peristiwa itu bersifat mistis sehingga membentuk sejarah kudus. Pelakunya diyakini bukan manusia biasa, melainkan manusia super yang disebut dengan Nakmarugi/Naruekul. Bagi orang Hubula/Hugula, inilah tokoh sejarah kudus tersebut. Pertanyaannya kemudian adalah apakah tokoh ini pernah hidup? Belum ada fakta yang membuktikannya. Bagi orang Hubula/Hugula, kisahnya dihayati secara sungguh-sungguh secara hidup dan kuat dalam mitologi orang Hubula/Hugula.

Suasana kegiatan perayaan lepas sambut Tahun Baru dalam nuanasa orang di Kapela “Santo Yohanes” Yogonima, Paroki “Kristus Gembala Kita” Pugima, Kampung Yogonima, Distrik Itlay-Hisage, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan. Foto: Manfred Kudiai, dokumen panitia perayaan tahun baru bernuansa Hugula.
Suasana kegiatan perayaan lepas sambut Tahun Baru dalam nuanasa orang di Kapela “Santo Yohanes” Yogonima, Paroki “Kristus Gembala Kita” Pugima, Kampung Yogonima, Distrik Itlay-Hisage, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan. Foto: Manfred Kudiai, dokumen panitia perayaan tahun baru bernuansa Hugula.

Lokobal (1992: 9-10; Lakobal, 1991) mengungkapkan bahwa bagi generasi orang Hubula/Hugula, mereka tidak hanya diwajibkan untuk mengetahui sejarah kudus orang Hubula/Hugula, tetapi juga wajib mengulangi dan menghadirkan kembali sejarah keadaan baik yang dulu ada itu secara periodik dalam kehidupan kini. Harapannya bagi generasi di masa depan adalah dengan mengetahui, merenungkan, dan mengulanginya kembali dalam bentuk ritus-ritus, orang Hubula/Hugula memperoleh penjelasan tentang adanya segala sesuatu pada kejadian awal (yang Kudus) tersebut.

Kehadiran orang Hubula/Hugula di Lembah Agung (Lembah Balim) dikisahkan dalam mitologi sejarah kudus Nakmarugi/Naruekul (Lakobal, 1992: 10). Demikian kisahnya:

Pada awal mula, keadaan tanah di Lembah Balim, lembah terbesar dan merupakan pusat sejarah orang Hubula, berair, dan penuh lumpur. Sekelompok manusia yang keluar dari gua Mawima dan Seinma (bagian timur dari Lembah Balim) berkumpul di beberapa tempat di sekitar gua. Kemudian muncullah seorang laki-laki berkulit putih, tinggi, dan besar serta mengenakan perhiasaan yang berlebihan. Laki-laki ini tampak gagah perkasa melebihi semua laki-laki yang lain. Laki-laki itu adalah Nakmarugi/Naruekul. Kehadirannya tidak diterima oleh kelompok orang yang keluar terlebih dahulu. Mereka kemudian bersepakat untuk membunuhnya. Beberapa waktu kemudian rencana itu dilaksanakan. Nakmarugi/Naruekul dibunuh. Jenazah Nakmarugi/Naruekul yang terkapar di tanah dipotong-potong. Setiap kelompok mengambil sendiri bagiannya, bahkan saling berebut sehingga ada kelompok yang tidak mendapat bagian. Dengan membawa bagiannya masing-masing mereka terpencar membentuk unit-unit pemukiman di lereng perbukitan di Lembah Balim. Potongan jenazah Nakmarugi/Naruekul yang disimpan, kemudian dihadirkan secara simbolik dalam bentuk batu dan kayu. Benda-benda tersebut ditahbiskan dan diteguhkan hormat sebagai benda-benda suci dan sakral. Maksud pentahbisan dan peneguhan hormat adalah sesuai janji yang disampaikan Nakmarugi/Naruekul untuk hidup baik, yakni “potonglah tubuhku yang akan kamu simpan dan hormati akan memberikan kemakmuran dalam hidupmu.” [1]

Sebelum pembunuhan Nakmarugi/Naruekul, suasana kehidupan dikisahkan harmonis. Situasi itu tidak bertahan lama. Jumlah manusia yang semakin banyak menyebabkan konflik terus terjadi. Manusia kemudian terpecah-belah dan menyebar ke seluruh Lembah Balim dan membentuk kelompok-kelompok kecil yang kemudian berkembang menjadi besar. Masing-masing menjaga, memelihara, dan mengembangkan diri yang menjadi milik dan daerah yang dikuasainya. Bila ada ancaman dari pihak luar atau kelompok lain, mereka terpaksa harus mempertahankan diri dan hartanya.

Orang Hubula dalam mempertahankan dirinya mengatur sistem pertahanan, mempersiapkan alat-alat untuk menjaga dirinya yang kemudian dikenal dengan busur, anak panah, dan tombak untuk mempersiapkan peperangan. Ternyata kekacauan, perpecahan, dan peperangan yang dialami orang Hubula/Hugula untuk mempertahankan dirinya tidak selamanya mendatangkan suasana hidup awal sebagaimana yang dijanjikan oleh Nakmarugi/Naruekul. Oleh sebab itulah, orang Hubula kemudian mengembangkan nilai-nilai yang dialami sebagai baik dalam pergumulan hidup mereka. Kerinduan untuk menciptakan zaman Firdaus yang diimpi-impikan seperti masa Nakmarugi/Naruekul mendorong orang Hubula/Hugula untuk menghayati dan mewujudkan nilai-nilai hidup baik secara intensif dalam berbagai sikap hidup mereka (Lakobal, 1992: 11).

Pengetahuan lokal seperti yang ditunjukkan oleh orang Hubula/Hugula semakin menunjukkan bahwa komunitas lokal yang ada di seantero Papua sejatinya memiliki pengetahuan dan gagasan yang memperkuat kekuatan imajinasi dan gagasan religius tentang kedaulatan lokal dan gagasan terkait bangsa mereka. Bentuk-bentuk kehidupan yang dihasilkan dibangun di atas hubungan asli dengan tanah, masa lalu, masa kini, dan masa depan. Hal ini semakin menegaskan bahwa komunitas lokal menunjukkan bagaimana mereka berpikir tentang tanah, hubungan mereka dengan kerabat, leluhur, roh, Tuhan, dan entitas non-manusia.

Inisiatif menghadirkan pengetahuan dan kebudayaan komunitas Hugula di Lembah Agung Balim yang mengkontekstualisasikannya dengan gerakan membangun gereja manusia mandiri di Kapela “Santo Yohanes” Yogonima, Paroki “Kristus Gembala Kita” Pugima, Kampung Yogonima, Distrik Itlay-Hisage, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan. Foto: dokumen panitia perayaan tahun baru bernuansa Hugula.
Bener kegiatan Perayaan Tahun Baru Bernuansa Hugula di Kapela “Santo Yohanes” Yogonima, Paroki “Kristus Gembala Kita” Pugima, Kampung Yogonima, Distrik Itlay-Hisage, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan. Foto: dokumen panitia perayaan tahun baru bernuansa Hugula.

Menghidupkan Daya Ubah Sosial

Di tengah penjajahan pengetahuan yang diskriminatif sekaligus eksploitatif tersebut, orang Hubula/Hugula memberikan pelajaran bahwa kekuatan dari relasi adalah solidaritas dan kesatuan untuk melakukan perubahan sosial. Nilai filosofis pengetahuan lokal ini justru sangat sentral dan penting. Tentu saja nilai ini yang selalu digempur dan dihancurkan bagi yang menginginkan komunitas lokal berdaulat dan bermartabat atas diri dan kehidupannya. Nilai-nilai relasi sosial itu yang hidup dan embedded, yaitu tertanam dan mengakar kuat dalam sistem sosial budaya yang hidup di tengah masyarakat. Sistem itulah yang perlahan-lahan mulai (di)hancur(kan).

Situasi itulah yang sering disebut dengan “antah berantah”, dimana kampung-kampung Papua, kita menyaksikan saat hampir seluruh struktur sosial ekonomi berubah, relasi manusia dengan alam goyah, dan yang tak kalah pentingnya adalah mulai rapuhnya sistem sosial budaya yang digerogoti oleh berbagai hal. Salah satunya adalah perubahan yang signifikan adalah berkaitan dengan hilangnya arah sumber penghidupan di masa depan. Semuanya berkaitan dengan dunia yang berubah dan pandangan kosmologi tentang alam, hutan, dan relasi-relasi sosial ekonomi dalam komunitas yang semakin pelik.

Salah satu permasalahan penting yang dihadapi komunitas di kampung-kampung Papua—khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam mereka—secara fundamental pudar bahkan hilangnya daya ubah sosial di tengah situasi yang betul-betul melumpuhkan daya perubahan tersebut. Situasi yang melumpuhkan ini mengacu pada berbagai penetrasi sosial dan ekonomi politik yang pelan namun pasti menggerogoti hampir keseluruhan sendi kehidupan mereka. Komunitas masyarakat di kampung Papua ini menjadi kaum yang “dikalahkan” dan suaranya “dihilangkan” dalam imajinasi masa depan Papua.

Komunitas-komunitas yang mendiami tanah leluhur mereka disingkirkan begitu saja baik dengan cara kekerasan—dengan kolaborasi birokrasi negara, investasi, dan aparat keamanan—maupun penyingkiran yang berlangsung sehari-hari melalui diferensiasi sosial yang terjadi di tengah komunitas yang berlapis-lapis dengan keberagaman kelas sosial.

Kompleksitas lapisan sosial masyarakat itulah yang selalu akan memunculkan “kaum tak bersuara” yang terbungkam dalam labirin struktur sosial tersebut. Atau dalam bahasa antropolog PM. Laksono adalah komunitas yang terbius kesadaran palsu yang didefinisikan sebagai kehilangan kemampuan untuk membangun argumen alternatif dan karena itu menjadi kehilangan daya ubah sosialnya (Semedi, 2023: vii-viii). Situasi ini berlangsung melekat dalam keseharian masyarakat sehingga kesadaran kritis untuk melakukan daya ubah sosial lenyap dalam nalar masyarakat.

***

Catatan: Artikel ini awalnya berjudul “Menghidupkan Totalitas Relasi Menuju Daya Ubah Sosial” adalah catatan sederhana dalam Seminar “Membangun Gereja Manusia Mandiri Dalam Perspektif Antropologis [Orang Hugula—Papua]” pada 4 Januari 2024 sebagai rangkaian dari Perayaan Lepas Sambut Tahun Baru Dalam Nuanasa Orang Hugula pada 2-10 Januari 2024 di Kapela “Santo Yohanes” Yogonima, Paroki “Kristus Gembala Kita” Pugima, Kampung Yogonima, Distrik Itlay-Hisage, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.” 

Referensi

[1] Seluruh bagian ini dinukilkan dari makalah Nico Aso Lokobal (1992). “Keberadaan dan Peranan Perempuan Laki-laki pada Suku Dani di Irian Jaya: Ditinjau dari Aspek Sosio-Antropologis

Daftar Pustaka 

Choesin, E. M. (2002). Connectionism: Alternatif dalam Memahami Dinamika Pengetahuan Lokal dalam Globalisasi. Jurnal Antropologi Indonesia, 26(69). Baca: https://doi.org/10.7454/ai.v0i69.3440.

Lokobal, N. A. (1992). “Keberadaan dan Peranan Perempuan Laki-laki pada Suku Dani di Irian Jaya: Ditinjau dari Aspek Sosio-Antropologis”, makalah yang disampaikan pada konsultasi Perempuan Irian Jaya yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga pada tanggal 3-5 Desember 1992.

Peters, P. H dan Nico A. Lokobal (1991). “Nilai-Nilai Hidup Baik dalam Penghayatan Masyarakat Balim”. Laporan Penelitian.

Semedi, P. (2023). “Kata Pengantar Ketua Departemen” dalam Heddy Shri Ahimsa-Putra (ed), Benih-Benih Antropologi: Bunga Rampai Tulisan untuk P.M. Laksono. Yogyakarta: Kepel Press.

I Ngurah Suryawan
Penulis adalah antropolog dan dosen di Universitas Papua (Unipa), Manokwari, Papua Barat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Rekonstruksi Identitas Orang Papua Melalui Perubahan Nama Tempat

Irian berubah menjadi Irian. Masyarakat Papua atau orang-orang yang...

Rosa Moiwend dan Kesalahan Teori Patriarki

Rosa Moiwend, salah satu kamerad kita di Papua menulis di media Lao-Lao Papua pada 9 Juni 2023, bahwa gerakan...

Ekofeminisme dan Hubungan Antara Perempuan dengan Hutan Sagu

Sebuah pandangan mengenai hubungan antara perempuan dengan hutan sagu di Kampung Yoboi, Sentani dan bagaimana mengujinya dengan perspektif ekofeminisme. Sagu...

Ancaman Pembangunan Terhadap Lahan Berkebun Mama Mee di Kota Jayapura

"Ini kodo tai koo teakeitipeko iniyaka yokaido nota tenaipigai, tekoda maiya beu, nota tinimaipigai kodokoyoka, tai kodo to nekeitai...

Memahami Perempuan (Papua) dari Tiga Buku Nawal El Saadawi

Sebuah ringkasan secara umum Pengantar Isu feminisme di Papua pada umumnya masih banyak menuai pro dan kontra. Itu bisa kita temukan...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan