Analisa Harian Lawan Subjektivisme: Kritik Terhadap Kawan SW Pimpinan GempaR-Papua

Lawan Subjektivisme: Kritik Terhadap Kawan SW Pimpinan GempaR-Papua

-

Tulisan ini merupakan klarifikasi terbuka saya atas sikap penuduhan terhadap saya yang dilakukan oleh pimpinan organisasi Gerakan Mahasiswa, Pemuda, dan Rakyat Papua (GempaR-Papua) kawan SW, dimana saya melihat tindakan tersebut sebagai pandangan subjektivisme dan menentangnya sebagai hal yang bertentangan dengan moral marxis.

Kronologis

Pada tanggal 3 Mei 2024, saya Yokbeth Felle telah resmi mengundurkan diri dari organisasi GempaR-Papua dengan tiga alasan utama:

  1. Saya tidak mengikuti proses kerja-kerja organisasi selama 4 bulan terakhir (Januari-April) yang telah saya jelaskan alasan ketidakaktifan tersebut dalam pertemuan internal GempaR-Papua yang dilakukan pada tanggal 26 Maret 2024 di Jayapura. Adapun alasan pokok dari pertemuan tersebut adalah persoalan subjektif antara saya dengan kawan SW, dimana proses tersebut telah mendapat kata sepakat bahwa organisasi akan memberikan surat teguran pada saya dengan kawan SW, namun 1 bulan berlalu tanpa kelanjutan dan kejelasan mengenai surat peneguran. Dalam hemat pikir saya, ini adalah tindakan ketidakberanian memberikan teguran pada pimpinan organisasi, yakni kawan SW. Ini juga terjadi karena organisasi tidak menyiapkan ruang atau biro yang mampu menyelesaikan persoalan-persoalan internal dalam dengan mekanisme organisasi.
  2.  Adanya perbedaan pandangan dalam penyelesaian masalah, secara konkret masalah kekerasan dan seksisme pada perempuan khususnya mengenai pentingnya kritik dan oto kritik dalam penyelesaian masalah kekerasan dan seksisme yang dialami oleh kawan-kawan perempuan dalam gerakan. Bahwa masalah ini pun telah kami diskusikan pada tanggal 26 Maret 2024 dan menjadi titik perbedaan bagi saya secara pribadi dan keputusan organisasi dalam proses penyelesaian masalah, maka saya tetap menghormati keputusan organisasi, namun saya tetap tidak setuju dengan proses tersebut.
  3. Bahwa sikap saya adalah akumulasi dari persoalan-persoalan yang saya lihat, seperti penuduhan atau ketidakpercayaan pada saya tanpa alasan yang jelas yang dilakukan hanya dengan mengukur kedekatan saya dengan banyak kawan-kawan yang memiliki perbedaan pandangan, yang kemudian memunculkan narasi “kami ada pembacaan pada Yokhe”. Semua penuduhan dengan pandangan subjektif atas ketidaksukaan pada beberapa kawan adalah mutlak pandangan yang sempit, keliru, dan ambigu sebab pandangan-pandangan ini tidak dapat dibenarkan dan bahwa kedekatan saya secara emosional dengan beberapa kawan tidak sepatutnya berdampak pada kerja-kerja organisasi.

Setelah 10 hari sejak pengunduran diri, tepatnya pada tanggal 13 Mei 2024 saya diberitahukan oleh kawan OS mengenai hasil pembacaan yang dilakukan oleh GempaR-Papua Papua. Kawan OS adalah salah satu pimpinan organisasi KNPB. Inti dari penyampaian kawan OS, ia mengatakan bahwa di bulan April 2024, GempaR-Papua telah melakukan pembacaan terhadap saya dan hal ini disampaikan oleh kawan SW pada kawan OS dengan 4 pokok bahasan:

“Pertama: Yokbeth menghilangkan materi Dikpol GempaR-Papua, kedua: Yokbeth tidak membuat materi perempuan untuk Dikpol di GempaR-Papua, ketiga: Yokbeth adalah bagian dari kawan-kawan yang datang dari luar (AMP) dan saya telah mendekati Yokhe (kedekatan personal di luar agenda organisasi) untuk mengetahui cara kawan-kawan dari luar bermain.

Mengenai ini saya perlu perjelas bahwa tuduhan semacam ini bukanlah yang pertama saya terima. Saya telah mempertanyakan ‘tindakan pembacaan dan penuduhan’ ini secara langsung pada kawan SW di bulan Agustus/September 2023 dan pada tanggal 26 Maret 2024 di pertemuan organisasi yang dilakukan di Numbay. Dan semua ini selalu ‘dibantah’ oleh kawan SW.

Pada tanggal 20 Mei 2024 kawan SW mengirimkan surat balasan dari GempaR-Papua atas surat pengunduran diri saya dan menanggapi perihal tudingan tersebut pada poin ketiga bagian (a) yang menekankan bahwa:

“Perihal tersebut menurut kami bukanlah hal yang baru. Sebab sejak pertama kali bergabung dengan GempaR-Papua pada pertengahan tahun 2023, kawan mengedepankan kecurigaan pribadi yang tidak dibuka secara langsung ke internal GempaR-Papua sehingga berdampak pada pengorganisiran internal. Hal tersebut juga terjadi pada tahun 2024”.

Kawan SW terus membantah penuduhan dan pembacaan ini pada saya bahkan secara organisasi menyatakan ini melalui balasan surat di bulan Mei, sementara kawan SW telah mendorong ‘pembacaan terhadap saya’ di bulan april dan secara sepihak menyampaikan hasil pembacaan tersebut pada kawan OS di Manokwari dan menyampaikan hal yang sama di akhir April/awal bulan Mei pada kawan MM di Jayapura. Kedua kawan tersebut merupakan pimpinan-pimpinan politik dari organisasi yang berbeda.

Dengan mempertimbangkan posisi saya yang tidak lagi berada di organisasi GempaR-Papua, maka saya meminta pihak ketiga dalam hal ini, Tong Pu Ruang Aman (TPRA) sebagai kuasa hukum saya untuk melakukan mediasi, sebab saya telah mengikuti proses di organisasi dengan mengajukan pertanyaan secara langsung pada pihak yang bersangkutan dan pada organisasi, namun yang saya terima adalah ‘bantahan’. Sementara dalam praktek yang dilakukan justru semua penuduhan tersebut dijadikan kebenaran dan disebarluaskan langsung oleh kawan SW selaku pihak yang selalu membantah.

Saya menyebut semua tindakan yang dilakukan sebagai ‘pencemaran nama baik’ dan upaya pembusukan yang dilakukan dengan memperlakukan saya seolah penyusup. Ada sebuah pandangan negatif terhadap kawan-kawan yang disebut ‘berasal dari luar atau ex-AMP’. Pandangan negatif ini dikarenakan perbedaan metode, stratak, bahkan landasan ideologis dalam pembangunan kesadaran massa dan pengorganisiran. Beberapa kawan telah dituduh melakukan infiltrasi, mencari tahu urusan organisasi yang ada di Papua hingga lebih jauh menghancurkan. Saya sadar betul konsekuensi paling buruk apabila saya tidak meminta mediasi dan melakukan klarifikasi bahwa dengan tuduhan saya menghilangkan materi Dikpol GempaR-Papua, saya akan dituduh telah masuk mempelajari organisasi GempaR-Papua untuk menghancurkan GempaR-Papua. Ini semua akan berdampak pada kerja-kerja politik dan kepercayaan para kawan terhadap saya.

Pada tanggal 27 April 2024 proses mediasi telah dilakukan. Semua penuduhan yang selama ini dibantah oleh kawan SW, akhirnya baru dapat diakui dalam proses mediasi. Saya menghadirkan para saksi, yaitu kawan-kawan yang disebut sebagai ex-AMP untuk mengklarifikasi tuduhan pada saya. Inti dari proses mediasi adalah kawan SW telah menandatangani surat pernyataan yang salah satu isinya menuliskan bahwa kawan SW diminta membuat klarifikasi.

Klarifikasi artinya adalah membuat pernyataan dan mengakui bahwa penuduhan yang diberikan oleh kawan SW adalah salah dan tidak terbukti, tetapi justru kawan SW menolak menuliskan pernyataan berisi klarifikasi dan justru mempertegas surat tersebut dengan bagian “Permohonan maaf karena membuat tidak nyaman dalam perjuangan”. Dan surat ini hanya dikirim pada kuasa hukum saya. Sementara yang saya minta adalah sebuah klarifikasi atas tuduhan terhadap saya.

Semua ini mengantarkan saya pada kesimpulan bahwa kawan SW masih ngotot mengakui bahwa tindakan pembacaan tersebut adalah hak organisasi untuk memetakan siapa kawan dan lawan, sebab hal ini yang ditekankan kawan SW dalam proses mediasi. Kawan SW sama sekali tidak merasa bersalah dan sesudah mediasi berlalu, kawan SW justru menekankan pada kuasa hukum saya bahwa tindakan yang dilakukannya bukan pencemaran nama baik.

Proses pembuktian telah saya lakukan lewat proses mediasi bahwa semua penuduhan tersebut benar disampaikan dan disebarkan oleh kawan SW dan semua tuduhan itu terbantahkan melalui bantahan saya dan keterangan semua saksi dalam proses mediasi. Klarifikasi terbuka ini saya buat sebagai upaya menjaga nama baik saya yang dirusak oleh kawan SW yang dengan tegas menolak memberikan klarifikasi. Dan untuk itu saya memberikan kritik terbuka sebagai cara berlawan atas sikap kawan SW.

Jurang Subjektivisme dan Moral Marxis

Subjektivisme mengatakan bahwa kebenaran bersifat subjektif dan pada dasarnya bergantung pada pikiran dan pengalaman subjek. Jurang subjektivisme merujuk pada sebuah kondisi dimana seseorang kehilangan kebenaran absolut dan terjebak dalam semua pandangan subjektif.

Saya menganggap kawan SW telah terjebak dalam jurang subjektivisme sehingga kehilangan kemampuan untuk mempercayai kebenaran yang ditemukan dalam proses mediasi dan berupaya membantahnya sebagai sebuah kebenaran, alih-alih dengan mengatakan bahwa tindakan tersebut adalah hak organisasi. Padahal dengan terjebak dalam jurang subjektivisme hanya akan dapat membawah kejatuhan dan kehancuran, sebab yang terjadi manusia akan dikendalikan oleh perasaan dan berupaya menolak kebenaran. Dan ini yang ditunjukkan oleh kawan SW.

Kelemahan kita saat ini dalam menjalankan gerakan pembebasan nasional adalah terjatuh pada jurang subjektivisme, padahal ini adalah akar dari segala kekacauan dan perpecahan.

Subjektivisme, seperti halnya mistifikasi dan tahayul, mereka hadir, berkembang, dan ada untuk menunjukkan ketidaktahuan umat manusia dan untuk menunjukkan kemalasan berpikir dan kemalasan untuk memeriksa kebenaran berdasarkan pada data dan fakta. Mereka sulit untuk menerima kebenaran secara ilmiah karena mereka telah nyaman dengan setiap prasangka yang diciptakan.

Kaum Marxis meyakini pentingnya berbicara dan berargumen berdasarkan fakta, seperti yang dikatakan oleh Vladimir Lenin bahwa, Kritik tanpa fakta adalah senjata yang melemahkan perjuangan revolusioner dan memperkuat musuh”. Juga yang disampaikan pula oleh Louis Althusser bahwa, Kritik yang tanpa dasar fakta hanya akan memperkuat manipulasi dan hegemoni kelas”.

Mengapa kemudian kita perlu melawan subjektivisme ini dari sisi moral marxis? Karena dalam pandangan Lenin moralitas marxis adalah apa yang membantu dan mempersatukan masyarakat pekerja untuk melawan penghisapan dan kepemilikan privat. Sementara dalam hal ini, subjektivisme hanya bersandar pada pengalaman individu yang subjektif, terbatas dan tidak dapat menolong kita memeriksa kebenaran secara ilmiah mengenai kapitalisme sebagai sistem yang menghisap dan menindas. Jatuh pada subjektivisme dapat berdampak pada menimbulkan perpecahan dengan menciptakan banyak prasangka. Kita pasti akan sulit membangun kerja sama dengan kelompok tertindas dan sesama pejuang karena pandangan subjektif kita terus menuntun kita pada perpecahan dengan alasan-alasan subjektif, seperti benci, tidak suka, atau bahkan kecewa karena putus cinta sehingga tidak dapat bekerja sama.

Saya tidak dapat memastikan apa yang ada di dalam kepala kawan SW ketika memaksakan penuduhan tersebut pada saya, tetapi saya dapat berpendapat bahwa semua itu hanyalah pandangan subjektif kawan SW terhadap saya. Apapun motif dibalik ini semua, saya mengajukan keberatan jika kawan SW berpendapat saya dapat terus bekerja sama untuk mencapai visi bangsa, sementara dalam persoalan ini kawan SW masih mengedepankan pandangan subjektivisme.

Memang dalam perspektif neorosains, otak manusia di desain bukan untuk memikirkan benar dan salah karena sesungguhnya otak manusia dan segala kecerdasannya diperuntuhkan untuk bertahan hidup. Manusia telah melewati pembabakan sejarah yang membentuk otak manusia atas interaksi antara manusia dan alam. Dan manusia diwajibkan untuk harus bertahan. Sementara dalam pandangan politik, yaitu politik dalam sudut pandang kekuasaan telah menegaskan bahwa politik adalah upaya mencari dan mempertahankan kekuasaan.

Jika dilihat dari kedua pandangan ini, saya dapat memahami bahwa tindakan kawan SW adalah upaya mempertahankan diri dan mempertahankan kekuasaan. Tindakan semacam ini telah melegalkan segala cara, seperti melakukan penyingkirkan, penuduhan, dan bahkan melakukan pendekatan yang di luar urusan organisasi karena anggapan kawan SW dapat mencari tahu informasi melalui saya. Saya tidak ingin mendetailkan kedekatan kawan SW pada saya seperti apa, tetapi saya ingin menyebutnya sebagai kebusukan dalam berpolitik.

Saya selalu sepakat bahwa kita tidak perlu menggunakan perasaan ketika berpolitik sebab dalam politik pun meyakini bahwa manusia akan berubah sesuai dengan kepentingannya. Namun dalam pandangan dialektis, politik bukanlah sebuah sistem tunggal yang dapat berdiri sendiri sebab politik bersama hukum, agama, pendidikan hingga moral adalah suatu kesatuan yang berada dalam fase sejarah perkembangan manusia. Politik sesungguhnya tidak dapat bertentangan dengan moral karena moral adalah produk dari komunitas suku-bangsa yang juga berpolitik.

Dalam moral manusia menemukan kebenaran dan kesalahan, kebaikan dan kejahatan, keindahan dan kehancuran. Jika kembali pada pandangan neorosains, saya ingin menunjukkan bahwa ada bagian pada otak yang disebut sebagai Inrelligence Quetient (IQ) yang ada untuk memberikan pertimbangan pada manusia mengenai kebenaran dan kesalahan. Logika manusia tidak berdiri sendiri, tetapi adalah cerminan dari kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat. Etika dan nilai apa yang diturunkan pada kita, itu yang membentuk pemahaman otak IQ kita.

Dan untuk ini saya ingin mempertegas bahwa cara seseorang berpolitik dapat menunjukkan bagaimana moralnya.

Mengenai moral, Engels menyebut satu istilah yang disebut sebagai ‘Moralitas Kelas’. Untuk ini Engels menulis:

“Semua teori moral hingga kini adalah produk, dalam analisa terakhir dari kondisi-kondisi ekonomi masyarakat yang berlaku pada masanya. Dan karena masyarakat kini bergerak dalam antagonisme-antagonisme kelas, maka moralitas adalah selalu moralitas kelas, ia telah membenarkan dominasi dan kepentingan-kepentingan kelas yang berkuasa atau ketika kelas tertindas menjadi kuat, ia merepresentasikan kegusaran kelas yang berkuasa terhadap kaum tertindas”.

Moral ini selalu merepresentasikan kepentingan kelas dan merupakan hasil dari kapitalisme, maka tidak heran jika dalam praktek, moral kita dapat membenarkan tindakan kita. Kawan SW berpendapat bahwa, “Hak organisasi untuk melakukan pembacaan pada kawan dan lawan”.

Bagi saya ucapan seperti ini hanya menunjukkan moralitas dan posisi kelas kawan SW. Sebab kapitalisme yang kita lawan bukan sekedar hadir untuk merampas tanah adat, memarjinalkan perempuan, mengeksploitasi kaum buruh, dan mendukung penjajahan Indonesia atas Papua Barat saja, tetapi lebih dari itu kapitalisme adalah basis yang didukung oleh berbagai suprastruktur: agama, politik, hukum hingga moral. Moral kita dapat menunjukkan posisi kelas kita. Tindakan dominasi, menguasai, hingga ketidakadilan hanya representasi moral penindas yang bertentangan dengan moral marxis. Sebab dalam moral marxis, sesungguhnya tidak ada kelas antara manusia yang pemimpin organisasi dan anggota organisasi, tidak ada watak ketidakadilan sebab setiap harinya seorang marxis hanya berpikir tentang pembangunan dunia yang adil dan setara bagi semua manusia dan keadilan ini tidak dapat diwujudkan jika sedari berpikir saja kita tidak pernah adil dalam melihat dan menyelesaikan suatu peristiwa.

Saya tidak ingin mengasihani diri saya dengan praktek ketidakadilan yang ditunjukkan oleh organisasi yang secara sepihak menyingkirkan saya dalam semua agenda dengan dalil pembacaan tanpa mengkonfirmasi semua hal dengan saya, hingga menyebarkan pembusukan terhadap saya. Tetapi dalam kehidupan pertentangan kelas dalam sistem kapitalisme ini, memang sukar rasanya untuk menjamin bahwa watak dan moral seorang bahkan seorang pejuang paling maju dalam Gerakan Pembebasan Nasional Papua Barat, mampu adil dalam perlakuan dan tindakan. Siapa pun dapat menjadi tidak adil sekalipun sedang membicarakan tentang keadilan.

Tindakan ini bisa saja disebut sebagai ‘cara yang dapat dibenarkan oleh tujuan’. Bahwasanya kawan SW merasa telah tepat melakukan cara ‘pembacaan’ dengan ‘tertutup’ untuk memetakan musuh GempaR-Papua. Namun dalam moralitas marxis yang disampaikan oleh Leon Trotsky sebuah cara hanya dapat dibenarkan oleh tujuan apabila cara tersebut tidak bertentangan dengan prinsip perjuangan kelas.

Saya ingin menekankan bahwa salah satu nilai yang harus ada dalam diri seorang pejuang adalah kebenaran. Kita telah bersama menyuarakan kebenaran dan kebenaran adalah integritas seorang pejuang, sebab dengan dasar kebenaran kita bergerak untuk memperjuangkan kedaulatan Papua Barat, namun semua kebohongan dan pembusukan yang kawan SW ciptakan telah menunjukkan bagaimana cara kawan bersikap. Dan cara ‘berbohong’ dan ‘pembusukan’ tersebut tidak dapat dibenarkan apapun itu ‘tujuannya’.

Sebab hanya intelejen Indonesia yang berpikir menghancurkan psikologi pejuang Papua Merdeka dengan berita-berita buzzer dan kebohongan-kebohongan publik. Dan kawan SW berusaha melakukan pembunuhan karakter terhadap saya dengan praktek paling bajingan yang dipertunjukkan oleh seorang pejuang dengan memperlkukan saya sebagai penyusup dan sebagai lawan lalu menyebarkan kebohongan mengenai saya, namun sembari meminta saya untuk dapat bekerja sama mencapai visi bangsa. Ini praktek politik paling kotor yang saya temui.

Akibat terjatuh dalam jurang subjektivisme dan mengalami kebuntutan dalam bersikap kawan SW menunjukkan sikap anti kritiknya. Seorang pejuang harusnya bersedia untuk di kritik karena hanya dengan kritik seorang Marx mampu memutar dialektia kaki-kepala milik Hegel, kembali pada tempatnya.

Pada dasarnya dunia ini terdiri dari dua aliran filsafat yang saling bertentangan, yaitu idealisme dan matrealisme. Idealisme pun terdiri dari dua bentuk, yaitu idealisme subjektif dan idealisme objektif. Hegel dalam pandangan dialetikanya menunjukkan dirinya sebagai seorang filsuf idealis yang objektif, sementara yang ditunjukkan oleh kawan SW hanya idealisme subjektif, layaknya Imanuel Kant, namun pemikiran kawan SW hanyalah bentuk terburuk dari idealisme subjektif. Karena tindakan menyatakan suatu kejadian dilakukan tanpa proses memahami dan memeriksa suatu kejadian, bahkan lebih jauh telah merekayasa suatu kejadian untuk membenarkan perasaan kawan SW. Bagaimana mungkin saya disebut bagian dari kawan-kawan ex-AMP padahal selama ini aktvitas organisasi saya hanya di GempaR-Papua dan GPRP yang merupakan organisasi baru pasca pecah dengan GempaR-Papua. Tanpa bukti dan fakta, kawan SW memunculkan narasi dan menjadikannya sebagai keyakinan tak terbantahkan.

Kawan SW seharusnya dapat sadar bahwa tindakan semacam ini dapat berdampak pada bagaimana cara orang melihat watak pejuang yang bisa dengan mudah menyebarkan pembusukan hanya demi menjaga nama pribadi dan nama organisasi. Dan keduanya, baik nama kawan SW dan nama organisasi tidak akan terjaga sebab dalam proses ini justru mengedepankan bersikap seperti seorang reaksioner dan bukan revolusioner, bahkan menolak memeriksa kebenaran dan terus memegang pandangan subjektivisme sebagai landasan menyikapi persoalan organisasi.

Penutup

Lenin dalam Liga Pemuda Komunis menyampaikan bahwa:

“Jika saya mengambil sebagian dari kepemilikan bersama dan menanaminya padi dua kali lebih banyak dari pada yang saya butuhkan dan mengambil keuntungan dari surplusnya?Jika saya berpendapat bahwa semakin lapar orang, semakin tinggi mereka akan membayar? Apakah dengan demikian saya akan berperilaku seperti seorang komunis? Tidak. Saya menjadi seperti seorang penghisap, seperti seorang pemilik. Hal semacam itu harus diperangi. Apabila semuanya dibiarkan berjalan, maka segala sesuatu akan kembali pada hukum kapitalis, hukum borjuis, seperti yang beberapa kali terjadi dalam revolusi-revolusi sebelumnya”.

Kawan SW telah memilih mematikan akal sehat untuk memeriksa fakta dan kebenaran dan terus bersikukuh nyaman dengan segala pandangan subjektivisme. Sangat disayangkan apabila tindakan tersebut kemudian dijadikan praktek dalam berorganisasi dan dilakukan oleh beberapa kawan di organisasi GempaR-Papua yang telah turut mengambil bagian untuk jatuh bersama kawan SW dalam jurang subjektivisme.

Kawan-kawan telah menunjukkan watak pejuang yang dengan sendirinya mendukung ketidakadilan dan menunjukkan arah filsafat yang idealis dalam berpraktek. Padahal dasar dari gerakan perlawanan adalah kondisi objektif dan kebenaran ilmiah. Semua kritikus marxis, termasuk Marx dan Engels meletakkan kritik dan perlawanan mereka di atas basis materi yang tepat, yaitu materialisme dialektika. Tanpa memeriksa kebenaran, mustahil bagi kita untuk menjelaskan secara objektif semua penindasan, penghisapan, dan ketidakadilan yang diciptakan. Jika kita tidak mampu menjelaskan dengan tepat bagaimana mungkin kita bisa melawan dengan kuat, sementara isi kepala terjarah atas pandangan subjektif yang hanya menguasai otak emosi (EQ) kita dan mengantarkan kita pada kegagalan untuk menunjukkan siapa sesungguhnya musuh kita sebab subjektivisme hanya menciptakan sekat-sekat dan perpecahan bahkan perpecahan dalam barisan perlawanan.

Gerakan perlawanan yang revolusioner adalah gerakan perlawanan yang mengedepankan kritik oto kritik dan menghapus patronisme dalam organisasi, sebab semua ini hanya menunjukkan watak otoriter dan demokrasi yang semu dalam berorganisasi. Terlebih GempaR-Papua mengakui sosialisme sebagai basis materi yang ilmiah dalam menyingkapkan kejahatan kapitalisme, namun justru terkurung dalam subjektivisme yang bertentangan dengan marxisme.

Sesungguhnya mustahil bagi kita untuk memimpikan revolusi tanpa mempersenjatai diri kita dengan teori mengenai revolusi. Tanpa basis materi, pengalaman subjektif seorang individu akan tetap menjadi pengalaman pribadinya yang berada tanpa penjelasan ilmiah mengenai apa yang sesungguhnya sedang terjadi.

Akhir kata saya menghormati semua kerja sama yang pernah saya dan kawan-kawan GempaR-Papua kerjakan, tetapi saya menolak berkompromi dengan semua pandangan subjektivisme terhadap saya.

***

Referensi

F. Engels, V. I. Lenin, dkk. 2021. Moral Marxis dan Polemiknya. Antitesis, Yogyakarta.

Yokbeth Felle
Penulis adalah aktivis dan Pengasuh Rubrik Perempuan Lao-Lao Papua.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Pembebasan Nasional Papua, Solidaritas Adalah Kuncinya!

Sejarah perkembangan ideologi rakyat Papua Barat tidak bisa dilepaskan...

Lawan Subjektivisme: Kritik Terhadap Kawan SW Pimpinan GempaR-Papua

Tulisan ini merupakan klarifikasi terbuka saya atas sikap penuduhan terhadap saya yang dilakukan oleh pimpinan organisasi Gerakan Mahasiswa, Pemuda,...

Menghidupi Ekoteologi Bergereja di Papua

Seorang teolog bernama Jurgen Moltmann mengutip sebuah lelucon lama tentang masa depan bumi dalam bukunya Hope in These Troubled...

Melawan Misi Pemberadaban Dalam Pendidikan Formal di Papua (Bagian II)

Bagian pertama tulisan ini dengan judul Misi Pemberadaban Pendidikan Formal di Papua (Bagian I) tentu mengundang perdebatan bagi para...

Media Massa, Rasisme Struktural, dan Legitimasi Kekerasan di Papua

Pada tahun 1915 sampai dengan 1918, pada saat Perang Dunia I (PD I) berlangsung, pemerintah Turki secara sistematis membantai...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan