Editorial Tugas Gerakan untuk Orang “Amber” Papua

Tugas Gerakan untuk Orang “Amber” Papua

-

Dua tiga hari ini publik di Papua banyak bersolidaritas buat Muhammad Iqbal, seorang warga amber (orang Makasar lahir dan besar di Papua) karena ditangkap oleh Polisi di Jayapura. Ia ditangkap dan diadili oleh beberapa orang yang mengatasnamakan organisasi masyarakat Nusantara di kantor Polisi, Jayapura. Sempat juga ia dipukul di depan polisi.

Kejadian ini berawal ketika Iqbal lakukan live streaming di akun facebook pribadinya. Dalam live streaming, Iqbal memprotes warga amber Papua yang melakukan tindakan balasan dengan membawa alat-alat tajam dan mengeroyok beberapa orang asli Papua yang dituduh sebagai dalang pengrusakan tempat-tempat jualan mereka.

Di video berdurasi sekitar 10 menit itu, Iqbal juga dengan keras mengatakan segera berhenti lakukan palang memalang karena baginya kita adalah warga pendatang, hargai masyarakat asli pemilik tanah.

Ia juga dengan berani mengatakan kalau tidak sepakat dengan apa yang dia sampaikan silahkan datang ke rumahnya di Jayapura.

Kejadian ini membuat solidaritas buat Iqbal datang dari mana-mana, khususnya solidaritas dari orang asli Papua dan orang amber Papua. Berbagai macam apresiasi datang dengan berbagai macam argumentasi.

Dinamika ini sangat menarik. Ia menjadi menarik karena pernyataan Iqbal ini keluar ketika, pertama: suasana duka kematian Lukas Enembe, kedua: KNPB dan ULMWP dituduh oleh Pangdam Cenderawasih sebagai dalang pengrusakan fasilitas saat pengantaran jenasa Lukas Enembe ke Koya, ketiga: masyarakat amber marah karena tempat jualan mereka dirusak oleh massa yang mengantar jenasa Lukas Enembe, keempat: yang paling penting adalah semua pihak alami jalan buntu bagaimana tenangkan situasi ini.

Menurut saya, ada beberapa hal yang muncul dan cukup penting dalam dinamika ini:

Pertama: sikap Iqbal ini mengkritik para amber Papua yang secara sembrono menyikapi dengan bawa alat-alat tajam untuk menyerang orang asli Papua.

Kedua: sikap Iqbal ini sedang mengkritik orang asli Papua yang kadang lakukan aksi-aksi pengrusakan terhadap fasilitas atau barang-barang milik warga amber Papua.

Ketiga: sikap Iqbal ini pecahkan senyap para amber Papua yang sebenarnya juga ada banyak yang peduli terhadap persoalan di Papua, tapi ditutupi karena dibatasi oleh berbagai macam persoalan, misal, dilarang oleh keluarga atau suku paguyubannya; minder karena merasa bukan orang asli Papua; atau gerakan Papua merdeka isolasikan diri hanya khusus buat orang asli Papua saja.

Keempat: sikap Iqbal ini memberikan perspektif baru buat orang asli Papua. Bahwa tidak semua orang amber itu musuh, tidak semua orang amber itu malas tahu dengan situasi Papua, tidak semua orang amber itu dendam dengan orang asli Papua.

Kasus Iqbal ini ingatkan saya pada tulisan Membaca Masalah Papua dari Imigran Papua yang diterbitkan di mojok.co pada 17 Juli 2018 yang ditulis kawan Fahmy Yusuf. Fahmy juga sama seperti Iqbal, lahir dan besar Papua tapi Fahmy di Jayapura dan Iqbal di Serui dan menetap di Jayapura.

Dalam tulisan itu Fahmy jelaskan banyak soal kegelisahannya sebagai orang amber, yang lahir dan besar Papua.

Fahmy menulis, “Sa percaya, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang meminta untuk lahir dari suku, agama, ras, orang tua, atau di daerah tertentu. Manusia itu sama. Terlahir begitu saja tanpa bisa mengatur. Ingin hidup bahagia, wafat dengan mulia. Sama. Sejauh ini, yang membedakannya hanya satu: kepentingan dunia … yang berebut kekayaan tanah Papua.”

Ini seperti sebuah kegelisahan dan sikap minder Fahmy di tengah konflik Papua yang beragam, dari masalah pendidikan, ekonomi, HAM, masalah Papua merdeka, hingga pencurian sumber daya alam Papua yang tidak dinikmati oleh orang asli Papua.

Dalam tulisan itu Fahmy seperti sedang menuntut. Kepada siapa ia tuntut, mungkin hanya Fahmy yang tahu.

Iqbal dan Fahmy sedang menampar gerakan-gerakan Papua yang mengurungkan diri dalam politik identitas, primordialisme, dan sikap malas tahu kepada rakyat Papua, baik orang asli Papua juga kepada orang amber Papua.

Muhammad Iqbal dan Fahmy Yusuf menunjukkan sikap kritis mereka terhadap Papua. Kalau Iqbal ikut meredam situasi konflik horizontal yang semakin memanas, Fahmy sudah sampai pada tahapan pertanyakan posisinya di dalam persoalan Papua, ia ada dimana.

Bagaimana Gerakan Menyikapinya

Lihat kondisi ini, gerakan di Papua sudah harus pikirkan ulang, diskusikan ulang, bagaimana posisi orang amber Papua di dalam perjuangan Papua merdeka.

Gerakan yang saya maksud adalah gerakan-gerakan sosial di tanah Papua yang berideologi revolusi nasional demokratik atau Papua merdeka. Apa pun itu, mulai dari yang paling kiri sampai yang paling kanan mentok.

Tapi sebelum itu, gerakan mesti membaca dan diskusikan lagi tulisan Joseph Stalin tentang Marxisme dan Masalah Nasional. Juga tulisan Alan Woods dan Ted Grant tentang Marxisme dan Masalah Kebangsaan.

Stalin kasih penjelasan banyak soal bangsa. Stalin menulis, “Bangsa adalah kesatuan stabil orang-orang, yang terbentuk menurut sejarah, yang timbul atas dasar kesatuan bahasa, wilayah, kehidupan ekonomi dan sifat kejiwaan yang tampak dalam kesatuan kebudayaan.”

Stalin menulis banyak juga dalam tulisan itu bahwa, “Bangsa adalah pertama-tama kesatuan, kesatuan tertentu orang. Kesatuan ini bukanlah rasial dan bukan kesukuan. Bangsa Italia sekarang ini terbentuk dari orang-orang Roma, German, Etruski, Yunani, Arab, dan lain-lain. Bangsa Perancis terbentuk dari orang-orang Galia, Roma, Briton, German, dan lain-lain. Begitu juga halnya dengan orang-orang Inggris, Jerman, dan lain-lain. Yang ter­bentuk menjadi bangsa dari orang-orang berbagai macam ras serta suku bangsa.”

Coba baca juga tulisan Alan Woods dan Ted Grant. Dorang dua tulis juga, “Walaupun kebanyakan orang berpikir bahwa negara-bangsa adalah sesuatu yang alami, dan oleh karenanya berakar dari masa lalu yang lampau, bila bukan berakar dari darah dan jiwa manusia, sesungguhnya negara-bangsa adalah bentukan manusia yang relatif modern, yang muncul kira-kira 200 tahun yang lalu.”

Jadi yang saya mau sampaikan disini bahwa masalah Papua itu satu persoalan dari persoalan di dunia ini yang sedang berulang-ulang.

Kondisi orang asli Papua hadapi orang amber Papua itu satu dari sekian banyak persoalan yang sedang berulang-ulang. Mungkin orang Papua hanya mengalami berhadapan dengan orang amber Papua, tapi di Inggris, Amerika, Roma, Yunani, dan sebagainya justru persoalannya cukup kompleks dan mereka dibentuk bersama hingga jadi sebuah bangsa bersama.

Kalau orang amber Papua ke Jawa, Makasar, dan lain-lain mereka juga bingung karena harus beradaptasi lagi dengan orang sana karena bahasanya tidak cocok, lebih nyaman dengan misal bahasa melayu Papua atau budaya di Papua.

Mungkin yang membedakan adalah sistem ekonomi. Sistem ekonomi orang amber sudah kapitalistik. Beda dengan orang asli Papua yang sistem ekonominya masih sangat tradisional.

Tapi tulisan Lenin tentang Revolusi Sosialis dan Hak Sebuah Bangsa untuk Menentukan Nasib Sendiri sudah mempertegas semua-semua. Lenin menjelaskan bahwa, “Hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri bermakna hanya hak untuk kemerdekaan dalam arti politik, hak untuk pemisahan politik secara bebas dari bangsa yang menindas. Secara konkrit, tuntutan demokratik dan politik ini berarti kebebasan sepenuhnya untuk beragitasi mendukung pemisahan diri dan kebebasan untuk menyelesaikan persoalan pemisahan diri dengan cara referendum dari bangsa yang ingin memisahkan diri. Sebagai akibatnya, tuntutan ini bukan berarti identik dengan tuntutan memisahkan diri, untuk partisi, untuk pembentukan negeri-negeri yang kecil. Tuntutan tersebut adalah ekspresi logis dari perjuangan melawan penindasan nasional dalam setiap bentuk.”

Dari penjelasan Stalin, Alan Woods, Ted Grant, juga Lenin sudah kasih sinyal dan kesimpulan bahwa tidak ada jalan lain selain orang amber Papua ini sudah harus diorganisir, dibangun perspektifnya soal Papua merdeka, dibangun perspektif kelas, dibangun perspektifnya kalau musuh kita bukan perbedaan kulit, atau perbedaan agama, atau perbedaan jenis kelamin, tapi musuh kita bersama adalah kapitalisme, kolonialisme Indonesia, dan militerisme.

Sudah saatnya kita harus bergerak bersama dan melawan bersama untuk membangun kebangsaan Papua.

Mari kita ubah cara pandang dan persektif kita!

***

Mikael Kudiai
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Lao-Lao Papua

4 KOMENTAR

  1. Iqbal harus dibebaskan,jika tidak ,maka orang amber yang akan buka mulut untuk mengangkat persoalan yang dihadapi oleh kitong orang Papua menjadi takut..kita butuh orang amber seperti Iqbal

  2. Saya amber besar Papua, selesai SMA 1 Abepura Thn 2000 sy ke makassar mau kuliah tp justru sy tdk betah di sana walau sdh 3 bulan kuliah. Sy putuskan kembali ke Papua dan kuliah di Uncen dan sampai hari sy anggap Papua kampung sy. Sy suka sekali tulisan ini dan coba penulis cek ke semua amber-amber yg ada di Papua, dong semua sayang Papua karena apa ?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Media Massa, Rasisme Struktural, dan Legitimasi Kekerasan di Papua

Pada tahun 1915 sampai dengan 1918, pada saat Perang...

Misi Pemberadaban Dalam Pendidikan Formal di Papua (Bagian I)

“Anak-anak Papua itu bodoh. Nakal. Susah diajarkan, tra bisa diatur.” Ungkapan-ungkapan semacam memancing pertanyaan, apakah kebodohan itu imanen saat...

Ancaman Kekerasan Berbasis Gender Online di Papua

“Saya trauma, tidak mau buka facebook lagi.” Dunia maya saat ini menjadi ruang tanpa dibatasi waktu dan biaya. Dunia maya...

Mambesak: Ancaman Terhadap Pemerintah Indonesia

Musik memiliki beberapa fungsi. Dalam fungsi estetika, musik menghasilkan keindahan dan dalam fungsi sosialnya, musik berkontribusi untuk mensosialisasikan ekspresi...

Relevansi Teologi Feminis Bagi Perjuangan Pembebasan di Papua

Teologi feminis adalah suatu usaha menalar hal-hal kepercayaan kepada Tuhan dan keagamaan dalam sudut pandang feminis. Kata Feminis sendiri...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan