Budaya dan Sastra Mambesak: Ancaman Terhadap Pemerintah Indonesia

Mambesak: Ancaman Terhadap Pemerintah Indonesia

-

Musik memiliki beberapa fungsi. Dalam fungsi estetika, musik menghasilkan keindahan dan dalam fungsi sosialnya, musik berkontribusi untuk mensosialisasikan ekspresi yang berhubungan dengan penderitaan dan kesedihan, cinta dan persahabatan hingga hubungan yang muncul dari sebuah kesamaan. Secara politik, musik menghasilkan emosi politik dan mengekspresikan pesan-pesan politik. Secara umum, musik memiliki fungsi untuk menyampaikan perasaan, pesan, emosi, ide dan sebagainya. Fungsi-fungsi ini memberikan sebuah ruang untuk sebuah pertanyaan, apakah kita bisa melawan kekuatan politik dengan musik? Nancy Sue Love dalam tulisannya mengenai Politics and Music menjelaskan bahwa ada beberapa sudut pandang dari ahli yang berbeda bahwa musik memiliki korelasi dengan politik.

Beberapa artikel seperti Black Nationalism and Rap Music oleh Errol Henderson, buku Dark Ghettos: Injustice, Dissent, and Reform oleh Tommie Shelby, In this Journey, You’re the Journalist: Rap Lyrics, Neoliberalism and the Black Parallel Publik oleh L. K. Spence juga melihat musik sebagai bagian dari politik. Mereka membahas beberapa kelompok yang mengekspresikan pendapat atau persoalan yang terjadi melalui musik untuk mengkritik sistem sosial, kondisi masyarakat, pemerintah atau pun hanya sekedar menyampaikan apa yang terjadi di dalam kehidupan mereka. Kelompok yang dimaksud adalah komunitas kulit hitam di Amerika yang menceritakan kehidupan sehari-hari atau mengkritisi sistem melalui musik rap atau hip-hop. Kelompok-kelompok seperti ini juga tersebar dan ada dimana-mana, salah satunya adalah sebuah kelompok musik dari Papua Barat bernama Mambesak. Kelompok tersebut adalah bagian dari masyarakat yang sedang hidup di dalam kondisi tertindas di Indonesia pada tahun 1978 hingga group tersebut bubar pada tahun 1983 saat pemimpinnya dibunuh oleh Kopasus Indonesia.

Mambesak

Mambesak adalah sebuah kelompok musik tradisional dari Papua Barat yang didirikan pada tanggal 15 Agustus 1978 oleh Arnold Clemens Ap. Saat itu, Arnold adalah seorang kurator museum Universitas Cendrawasih (Uncen) Jayapura dan seorang broadcaster pada program mingguan ‘Pelangi Budaya’ di Radio Republik Indonesia (RRI) Jayapura. Anggota dari kelompok ini adalah mahasiswa mayoritas dengan latar belakang dari Antropologi. Kelompok ini dibentuk dengan tujuan untuk menonjolkan budaya dan identitas orang Papua melalui musik.

Setiap liburan, mahasiswa yang menjadi anggota dari Mambesak akan kembali ke kampung halaman mereka dan mempelajari lagu serta tarian daerah dari masing-masing kampung. Saat bertemu kembali di kampus, mereka akan memberikan lagu-lagu tersebut kepada Arnold Ap dan rekannya, Sam Kapisa untuk mendengar, mempelajari dan mengaransemen lagu-lagu tersebut. Mereka kemudian menyanyikan lagu-lagu tersebut pada konser-konser kecil di Jayapura. Dengan bantuan Arnold Ap sebagai broadcaster, Mambesak menjadi terkenal di tengah-tengah orang Papua. Mereka telah menciptakan lima album berisi lagu-lagu dari berbagai suku di Papua Barat yang menceritakan keindahan alam pulau Papua.

Sayangnya, Mambesak diberikan label sebagai kelompok pemberontak bersama dengan gerakan pembebasan Papua. Sebelumnya, Papua Barat merupakan bagian dari Kerajaan Belanda dengan nama Dutch New Guinea dan baru bergabung secara resmi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1969 melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Banyak orang yang percaya bahwa proses Pepera ini tidak berjalan dengan prosedur yang seharusnya karena sabotase yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia yang memicu munculnya gerakan pembebasan Papua Barat. Merespon terbentuknya gerakan tersebut, pemerintah menggunakan pendekatan militer dengan mengirimkan lebih banyak anggota dari luar Papua ke Papua untuk mengintimidasi bukan saja gerakan pembebasan tersebut tapi juga masyarakat Papua. Juga, untuk menciptakan kesetiaan dari masyarakat, pemerintah merasa lebih baik bagi orang Papua untuk memiliki identitas dan budaya yang sama dengan orang-orang di wilayah lain di Indonesia saat secara fisik saja, orang Papua adalah ras yang berbeda (Melanesia) dengan orang di wilayah lain dari Indonesia yang adalah Melayu. Sehingga, saat Mambesak berfokus untuk menunjukkan dan mengajak orang Papua untuk lebih bangga kepada identitas dan budaya Papua, tindakan ini terlihat sebagai bentuk pemberontakan dan dukungan terhadap kemerdekaan Papua Barat.

Pada tanggal 29 November 1983, Mambesak diundang untuk tampil di depan kantor Gubernur Provinsi Papua. Sehari setelah acara tersebut, Arnold Ap dan keempat anggota lainnya ditangkap oleh Kopassandha (sekarang Kopasus) dengan tuduhan memberontak atau subversi. Beliau juga dipecat dari Universitas Cendrawasih (Uncen) dengan tuduhan yang sama. Arnold kemudian dipenjarakan selama tiga bulan dan pada tanggal 26 April 1984, dia dibunuh setelah keempat anggota lainnya dibunuh di tempat yang sama di Jayapura. Orang-orang percaya ini adalah akhir dari Mambesak.

Penindasan di Papua Barat

Timbul salah satu pertanyaan untuk melihat latar belakang posisi Mambesak sebagai ancaman: Apakah masyarakat Papua Barat sedang berada pada kondisi tertindas pada saat itu? Iris Young pada bukunya Justice and the Politics of Difference menjelaskan lima bentuk penindasan. Kelima bentuk ini menjadi sebuah indikator untuk memutuskan apakah seorang individu atau kelompok sedang dalam penindasan. Kelima bentuk itu adalah eksploitasi, marginalisasi, ketidakberdayaan, kekerasan dan imperialisme budaya.

Dua tahun sebelum Papua Barat secara resmi memilih untuk menjadi bagian dari NKRI, Presiden Indonesia pada saat itu telah menandatangani perjanjian dengan perusahan tambang, Freeport McMoran Inc. Perjanjian ini dikenal dengan Kontrak Karya I. Perusahaan ini diberikan kebebasan mengeksplorasi tanpa membayarkan pajak kepada pemerintah selama tiga tahun dan dapat mengeksploitasi lokasi seluas 10.000 ha di Timika selama 30 tahun. Kontrak karya ini menjadi salah satu bentuk eksploitasi di Papua Barat karena, masyarakat asli yang tinggal di Nemangkawi harus dipindahkan ke lokasi lain. Mayoritas pekerja di perusahan ini pada saat itu berasal dari negara lain dan pulau luar Papua. Dari contoh ini saja kita bisa melihat eksploitasi yang terjadi di Papua pada saat itu (apalagi sekarang tahun 2024 dengan perkebunan kelapa sawit seperti: HTI, PSN, dan lain sebagainya) karena hasil dari perusahaan besar ini tidak terasa di Papua. Pada tahun-tahun tersebut, pemerintah juga mulai gencar dengan program transmigrasi. Kebijakan ini dibuat untuk menciptakan dan membagi lapangan pekerjaan bagi seluruh penduduk Indonesia, namun salah satu dampak yang sangat terlihat adalah, masyarakat lokal semakin termarjinalisasi.Orang-orang termarjinalisasi karena berada dalam kondisi ketidakberdayaan yang diakibatkan oleh berbagai bentuk kekerasan di Papua. Sejak tahun 1963 hingga 2003, beberapa lokasi dijadikan Daerah Operasi Militer (DOM) yang didirikan dengan alasan untuk mengakhiri pergerakan kelompok pembebasan Papua. Misalnya salah satu operasi yang dikenal dengan Operasi Tumpas yang menyebabkan kematian tragis bagi penduduk di 17 kampung oleh militer. Imperialisme budaya yang terjadi di Papua terjadi sejak agama hadir di Papua, dimana mayoritas budaya yang selama ini ada di tengah masyarakat dilarang untuk dilakukan. Selain itu, pemerintah Indonesia juga menyebarkan budaya melayu di Papua agar terbentuk kesamaan budaya di seluruh Indonesia yang didukung juga dengan perpindahan penduduk yang terjadi. Dari kejadian-kejadian tersebut yang belum dengan lebih detail di bahas saja, kita bisa melihat bahwa kelima bentuk penindasan terjadi di Papua.

Mambesak: Ancaman Terhadap Pemerintah

Sebelum Mambesak menjadi nama kelompok ini, nama pertama yang mereka pilih adalah Manyuri (burung kakatua dalam bahasa Biak). Awalnya anggota kelompok ini hanya Arnold Ap dan beberapa orang dari Biak. Mereka menyanyikan banyak lagu dalam bahasa Biak untuk melestarikan lagu-lagu daerahnya. Mereka kemudian merubah nama mereka menjadi Mambesak (burung kuning, merujuk kepada warna burung cenderawasih) dengan tujuan untuk menciptakan lagu dari lebih banyak suku yang ada di Papua untuk menunjukan budaya asli orang Papua.

Mambesak menyanyikan banyak lagu dalam berbagai bahasa dari suku-suku yang ada di Papua mengenai keindahan dan legenda-legenda leluhur. Saat mereka menampilkan lagu-lagu tersebut, dibarengi dengan tarian dan pakaian daerah untuk menonjolkan budaya orang Papua. Penampilan Mambesak membuat orang-orang jatuh cinta dengan budaya dan bangga dengan alam yang ada di papua. Secara tidak langsung, apa yang dilakukan oleh Mambesak adalah meningkatkan kesadaran mengenai situasi yang sedang terjadi saat itu. Ketika orang bernyanyi mengenai keindahan alam, mereka menjadi sadar bahwa alam mereka mulai berubah karena ada eksploitasi besar-besaran yang merusak. Banyak orang menjadi sadar dan akhirnya mulai meningkatkan lebih banyak suara dan aksi terhadap pemerintah untuk berhenti. Orang-orang yang menjadi bangga dengan budayanya menjadi mempertanyakan ketidakselarasan budaya Melanesia dan ciri khas, sehingga mempertanyakan kenapa orang Papua yang adalah Melanesia bisa menjadi bagian dari NKRI, negara dengan mayoritas Melayu. Dan yang paling penting, orang mulai sadar bahwa mereka sedang tertindas oleh pemerintah.

Kesadaran terhadap kondisi orang Papua yang tertindas ini adalah dampak dari Mambesak yang bergerak untuk memperkuat budaya orang asli Papua. Yang sayangnya, menjadi alasan untuk menjadikan Mambesak sebagai sebuah kelompok yang mengancam kedaulatan negara, terutama saat negara telah melakukan banyak pelanggaran HAM pada masa itu di Papua. Pendengar dan penggemar Mambesak mulai berpikir bahwa lebih baik Papua berdiri sendiri sebagai sebuah negara. Dari respon yang dilakukan oleh pemerintah dengan menangkap pemimpin dan ketiga anggota lainnya, lalu membunuh mereka, kita menyadari, Mambesak adalah sebuah ancaman, sebuah musuh pemerintah.

Kesimpulan

Jadi, apakah kita bisa melawan sebuah kekuatan besar dengan musik? Mambesak menjadi salah satu contoh yang bisa meyakinkan kita bahwa, ya, kita bisa. Sebuah kelompok musik tradisional dapat menjadi sebuah ancaman bagi sebuah negara yang besar hanya dengan menyanyikan lagu tentang identitas dan budaya saat sedang berada dalam posisi tertindas. Hal ini menunjukkan bahwa musik memiliki hubungan dengan politik. Musik memberikan efek terhadap politik sebagai salah satu fungsinya.

***

Catatan: Tulisan ini diterbitkan untuk menolak lupa 40 tahun pembunuhan Arnold C. Ap pada 26 April 2024. Awalnya tulisan ini ditulis dengan judul “Mambesak: A Threat to Indonesian Government” oleh penulis dengan topik “Can we fight the power with music?” Dan telah dijadikan bahan konten pada kanal YouTube penulis.

Referensi

Folia, R. (2019). Memahami Sejarah Panjang Kontrak Freeport di Indonesia. Baca: https://www.idntimes.com/business/economy/rosa-folia/memahami-sejarah-panjang-kontrak-freeport-di-indonesia/full (Diakses pada 19 April 2019).

Ibrahim, R. (2016). Arnold Ap, Mambesak, dan Identitas Papua. Baca: https://jurnalruang.com/read/1475638797-arnold-ap-mambesak-dan-identitas-papua (Diakses pada 19 April 2019).

Erdianto, K. (2016). Kontras Paparkan 10 Kasus Pelanggaran HAM yang Diduga Melibatkan Soeharto. Baca: https://nasional.kompas.com/read/2016/05/25/07220041/Kontras.Paparkan.10.Kasus.Pelanggaran.HAM.yang.Diduga.Melibatkan.Soeharto?page=all (Diakses pada 19 April 2019)

Suryawan, I. (2018). Sejarah Mambesak – Mambesak West Papua. Baca: http://mambesak.com/sejarahmambesak/ (Diakses pada 19 April 2019).

N.S. (2014). Politics and Music. Baca: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/9781118474396.wbept0801 (Diakses pada 16 April 2019)

Widjojo, M. (2009). Papua Road Map. Jakarta: Kerja sama LIPI, Yayasan Tifa, dan Yayasan Obor Indonesia.

Young, I. M. (1990). Justice and the Politics of Difference. Princeton, N.J. Princeton University Press.

Dorthea E Wabiser
Penulis adalah peneliti dan advokasi di Yayasan Pusaka Bentala Rakyat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kirim Donasi

Terbaru

Media Massa, Rasisme Struktural, dan Legitimasi Kekerasan di Papua

Pada tahun 1915 sampai dengan 1918, pada saat Perang...

Misi Pemberadaban Dalam Pendidikan Formal di Papua (Bagian I)

“Anak-anak Papua itu bodoh. Nakal. Susah diajarkan, tra bisa diatur.” Ungkapan-ungkapan semacam memancing pertanyaan, apakah kebodohan itu imanen saat...

Ancaman Kekerasan Berbasis Gender Online di Papua

“Saya trauma, tidak mau buka facebook lagi.” Dunia maya saat ini menjadi ruang tanpa dibatasi waktu dan biaya. Dunia maya...

Mambesak: Ancaman Terhadap Pemerintah Indonesia

Musik memiliki beberapa fungsi. Dalam fungsi estetika, musik menghasilkan keindahan dan dalam fungsi sosialnya, musik berkontribusi untuk mensosialisasikan ekspresi...

Relevansi Teologi Feminis Bagi Perjuangan Pembebasan di Papua

Teologi feminis adalah suatu usaha menalar hal-hal kepercayaan kepada Tuhan dan keagamaan dalam sudut pandang feminis. Kata Feminis sendiri...

Rubrikasi

Konten TerkaitRELATED
Rekomendasi Bacaan